
“Segera rampungkan segala sesuatunya agar bisa segera ditinggali.”
Bima menutup panggilan teleponnya. Ia meminta pada para pekerja untuk menyelesaikan secepatnya renovasi rumah yang diperkirakan akan selesai sempurna satu minggu lagi. Ia sudah tak sabar ingin memboyong keluarga kecilnya untuk kembali tinggal di rumah tersebut.
Pintu ruang kebesarannya diketuk. Setelah Bima mempersilakan, Adrian tergopoh-gopoh masuk.
“Pak. Di Lobi, Pak Yoga datang kembali dan memaksa ingin bertemu Anda. Apakah harus diusir secara halus lagi, atau biar satpam menyeretnya keluar?” tanya Adrian.
Bima menopang dagu menggunakan kedua tangannya yang terjalin dengan siku bertumpu di meja. Ia tampak menimbang-nimbang tentang tindakan yang akan diambilnya dalam mengurusi cecunguk pemaksa sejenis Yoga ini.
“Biarkan dia naik,” tegas Bima.
“Maksudnya, Anda akan menemuinya secara langsung?” Adrian balik bertanya untuk memastikan pendengarannya.
“Hmm… aku akan menemuinya.”
“Baik, Pak.” Adrian segera keluar dari ruangan Bima. Bergegas menghubungi resepsionis yang bertugas di lobi kantor supaya memberitahu Yoga untuk langsung naik ke lantai di mana ruang direktur utama berada.
“Pak Yoga. Pimpinan bersedia bertemu dan meminta Anda untuk langsung datang ke ruangan beliau. Silakan memakai lift khusus eksekutif.” Si resepsionis menginformasikan kepada Yoga.
Lelaki yang memakai setelan warna milo itu begitu bersemangat mendengar penjelasan si resepsionis. Ia bergegas menuju lift yang dimaksud dan membiarkan benda kotak berlapis besi itu membawanya naik.
Di dalam lift dia mengatur berbagai macam strategi di kepalanya demi misinya untuk kembali menggaet perusahaan sebesar Sinar Abadi Grup. Ia bahkan berencana untuk berlutut dan bersujud. Yoga bermaksud menggunakan cara apapun agar Malik kembali luluh demi kelangsungan hidup mewah dan borosnya. Ia tak mampu membayangkan harus berhenti berfoya-foya juga berhenti menyewa jalang-jalang favoritnya jika dana besar tidak berada di dalam genggaman.
Begitu pintu lift terbuka Adrian sudah menyambutnya. Dengan pongahnya ia mengangkat dagu sarat akan kesombongan.
“Aku menunggu-nunggu konfirmasi darimu tapi tak kunjung mendapat kabar. Jangan-jangan kamu hanya membual saja dan tak menyampaikan pesanku? Buktinya sekarang tanpa membuat janji pun presdir bersedia menemuiku bahkan membiarkanku memakai lift eksekutif. Bersiap-siap saja akan nasib karirmu yang mungkin tak lama lagi di sini sekertaris sok tahu! Aku akan melaporkanmu pada Pak Malik atas kinerjamu yang tidak kompeten.” Yoga mengacung-acungkan telunjuknya di udara seraya berkata dengan nada meninggi.
“Silakan masuk, Pak Yoga. Presdir sudah menunggu di dalam.” Adrian mengangkat tangannya di udara dengan gerakan sopan mempersilakan saat pintu terbuka sempurna.
Tanpa ucapan terimakasih Yoga masuk begitu saja, hanya melirik sekilas dengan seringai miring meremehkan pada Adrian. Dia sungguh jengkel, baru menjadi sekertaris saja ia merasa Adrian terlalu berani mengabaikan permintaannya.
Begitu Yoga masuk, tampak di dalamnya kursi kebesaran pimpinan membelakangi meja kerjanya yang luas. Ia disambut dengan desain interior yang elegan dan mewah, mulai dari dinding, furnitur, bahkan lantainya. Dilengkapi beberapa buah pulpen Visconti super mahal yang berjejer di meja, sangat mencerminkan kesuksesan akan pencapaian seorang pimpinan sebuah perusahaan.
Yoga baru pertama kalinya memijakkan kaki di dalam ruangan presdir Sinar Abadi Grup. Ketika pengajuan bermitra dulu dia hanya berhadapan dengan Adrian di ruang rapat, dan saat penandatanganan kerja sama, Malik memilih bertemu di privat room restorah mewah.
Orang yang sedang duduk di singgasana tengah memandang keluar kaca jendela yang menampakkan pemandangan gedung-gedung tinggi lainnya juga keramaian di jalanan.
Yoga berdehem. Merapikan pakaian juga dasinya, menggosok kedua tangannya kemudian membuka mulut mengeluarkan kata untuk menyapa.
“Selamat siang, Pak Malik. Saya sangat senang dan berterima kasih, Anda bersedia memenuhi permohonan saya untuk bertemu. Mungkinkah ini kabar baik? Saya harap begitu, karena saya sangat berharap perusahaan Anda mau kembali menjalin kerja sama dengan Homeshoping. Saya bisa memastikan bahwa Anda takkan pernah menyesali bekerjasama lagi dengan perusahaan saya. Bukankah selama ini Homeshopping juga ikut andil dalam membuat nama perusahaan anda makin besinar?”
Yoga bertutur dengan penuh percaya diri. Kata-katanya sungguh tidak sesuai dengan tindakannya. Justru dia lah yang mendompleng nama besar Sinar Abadi Grup selama ini. menjual nama besar perusahaan yang kini dipimpin Bima kembali untuk menggaet perusahaan besar lainnya dengan niat tak baik terselubung, juga demi mendapat dana pinjaman dari bank dalam jumlah fantastis.
Yoga memusatkan pandangan pada sosok yang duduk di kursi. Sejak tadi orang yang menempati kursi kebesaran itu tak kunjung bersuara. Tak lama kemudian terdengar deheman dan kursi pun berputar.
“Tak kusangka, kita berjumpa dalam situasi yang menarik ini. Pak Yoga yang terhormat.”
Bima berucap dengan senyuman tersungging. Sementara Yoga tergugu di tempatnya berdiri, bagaikan disambar petir melihat sosok yang ada di hadapannya.
“Ka-kamu? Ba-bagaimana bisa?”