Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Habis Manis Sepah Dibuang



Viona datang ke butik lebih lambat dari biasanya lantaran tadi pagi mendadak diserang rasa malas. Setelah shalat Subuh yang dilakukannya hanya terus menerus bergelung selimut di peraduan. Awalnya Bima memintanya untuk berdiam diri di rumah, hanya saja karena sudah beberapa hari belum mengontrol kondisi butik secara langsung, akhirnya Viona tetap berangkat untuk memastikan urusan butiknya berjalan lancar.


Pukul sebelas siang Viona tiba. Terheran-heran itu adalah ekspresinya ketika memasuki butik. Sekitar enam orang perempuan yang tidak dikenalnya menyambutnya dan membungkuk hormat. Yang tiga orang berseragam rapi seperti para bodyguard, dan sisanya memakai pakaian formal.


“Selamat pagi, Nyonya. Perkenalkan, kami bertiga dari agen pengawal terpercaya dan yang tiga lagi adalah orang-orang terlatih di bidang fashion. Kami ditugaskan Pak Bima untuk menjaga keamanan Anda saat di butik maupun saat beraktivitas di luar, dan yang dari bidang fashion bertugas membantu segala aktivitas Anda selama di butik.”


Salah satu dari mereka mengucap salam perkenalan panjang lebar. Viona masih tercengang tak berucap sepatah kata pun. Menatap satu persatu dari mereka dengan raut wajah penuh tanya.


Ponsel di tas Viona berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ia merogoh tas selempangnya, mengambil gawai berbentuk persegi panjang tersebut kemudian menggulirkan jemari lentiknya di layar ponsel.


Aku mengirim mereka untuk menjaga anak dan istriku, jangan membantah, oke. Agar aku tetap merasa tenang saat kamu beraktivitas di luar rumah, selamat bekerja, Bunda.


Itulah isi pesan teksnya yang ditambahkan emoji hati berwarna merah. Viona hanya ternganga dan berniat melayangkan protes. Ia merasa Bima terlalu berlebihan sampai-sampai dirinya harus dikawal segala.


Akan tetapi setelah dipikirkan kembali, Viona malah mengulum senyum, merasa lucu akan sikap suaminya yang lebih sewot dari ibu-ibu perkumpulan kredit panci ketika mengetahui dirinya hamil. Ia memaklumi, semua ini adalah bentuk cinta dan kasih sayang sang suami untuknya, jika menolak pasti Bima akan kecewa.


Viona memutuskan membiarkan orang-orang kiriman Bima bekerja semestinya sesuai perintah yang mereka dapat. Walaupun sesekali Viona masih merasa tak nyaman jika sedang berada di keramaian. Merasa begitu mencolok karena kemanapun kakinya melangkah selalu diikuti ketiga orang itu, membuatnya terkadang terkikik geli merasa seperti selebritis terkenal saja.


*****


Memasuki usia kandungan yang kesepuluh minggu, mulai terjadi reaksi lain pada tubuh Viona. Ia kerap kali merasa mual lalu muntah jika Bima terlalu berdekatan dengannya entah apa penyebabnya.


“Mas, jangan deket-deket, aku … aku_” Belum juga kalimatnya rampung, Viona tergesa ke kamar mandi sambil membekap mulutnya. Ia baru saja menyambut kepulangan sang suami di teras, tetapi rasa mual langsung menerjangnya begitu Bima merangkulnya.


“Sayang, maaf. Aku lupa,” ucap Bima penuh sesal. Ia hanya bisa berdiam di ambang pintu kamar mandi tanpa bisa mendekat meskipun ingin, ia ingin membantu mengelus punggung Viona yang tengah bersimpuh di sisi kloset.


“Mas, jangan masuk!” Viona mengibas-ngibaskan tangannya memberi isyarat agar Bima tetap berdiam di tempatnya dan menjaga jarak dengannya, karena jika terlalu dekat maka mualnya takkan mereda.


Viona mekan tombol flush, kemudian beranjak ke westafel membasuh mulutnya. Ia mengalihkan pandangan pada Bima yang tengah menatapnya penuh kecemasan, bergerombol penuh sesak di netra elangnya.


“Aku nggak apa-apa kok, Mas jangan khawatir.”


“Aku juga minta maaf, bukannya tak ingin bersentuhan denganmu, Mas. Tapi anak kedua kita sepertinya berdemo kalau aku dan Mas terlampau berdekatan, mungkin dia marah karena sebelumya kita terlalu sering menyiramnya hingga membuatnya tersedak di dalam sana,” canda Viona sembari mengulas senyum agar suaminya merasa tenang.


Bima terkekeh pelan mendengar ucapan Viona. “Hey, baby. Jangan nakal pada Bundamu ya, nak,” ujar Bima sembari menahan keinginan untuk memeluk Viona.


“Iya, Ayah. Aku gak bakal nakal sama Bunda kok,” jawab Viona sambil mengelus perutnya sendiri.


Sekarang-sekarang ini Viona merasa aroma sang suami yang paling disukainya malah membuatnya mual, bahkan Bima sampai mengendus-endus dirinya sendiri untuk memastikan tidak ada yang aneh dengan tubuhnya, dan setelah diperiksa secara saksama ia merasa aromanya baik-baik saja seperti biasa.


Bima sampai memeriksa satu-persatu parfum-parfum mahal favoritnya yang sejak dulu setia dipakainya tak pernah berganti merek, semua aromanya juga tetap sama baiknya, tidak ada yang berubah.


Anehnya, jika Viona tengah berhasrat dan ingin dihangatkan, rasa mualnya mendadak sirna. Hanya saja setelah kenikmatan surga dunia membanjirinya, seketika rasa mualnya kembali menyerangnya tanpa ampun. Otomatis Viona akan menjauhkan diri dari Bima, membiarkan gairah suaminya menggantung di tengah-tengah tanjakan tak tertuntaskan hingga ke puncak.


Nasib Bima seolah habis manis sepah dibuang. Bima mengalah meskipun tersiksa, jika dipaksakan Viona akan muntah dengan hebatnya. Ia tak sampai hati membuat istrinya kepayahan, lagi pula si pembuat ulah adalah benihnya yang bertumbuh hasil bercocok tanamnya di ladang Viona.


Bima menertawakan dirinya sendiri, malam ini lagi-lagi ia mengguyur diri di kamar mandi setelah memberikan pemenuhan nafkah batin pada istri tercintanya. Mengulum senyum disusul kekehan di sela-sela kegiatan mandinya, sepertinya anaknya di dalam sana tengah menghukumnya karena dulu pernah mengabaikan ibunya ketika mengandung sang kakak.


Viona sudah terlelap saat Bima menyelesaikan mandinya. Semenjak reaksi baru itu terjadi, Bima harus berpuas diri tidur di sofa seberang ranjang, membiarkan Viona tidur sendiri untuk menghindari istrinya itu kembali mual.


Bima mendekat sejenak untuk menyelimuti Viona yang tertidur pulas memakai kemejanya setelah dipuaskan olehnya. Membelai sekilas rambut panjangnya kemudian mengecup keningnya. Bima masih ingin berlama-lama di dekat Viona, akan tetapi ia segera menyingkir begitu melihat Viona seperti terusik dan bergerak tak nyaman dalam tidurnya, Bima takut Viona kembali muntah-muntah.


Berbaring miring di sofa menghadap ranjang itulah yang dilakukan Bima setiap malamnya kini. Walaupun tak dapat memeluk, tetapi ia masih bisa memandangi ibu dari anak-anaknya terkunci di retina matanya. Lengkungan senyumnya terbit diiringi sorot mata berlumur kasih sayang pada sosok yang terlelap di atas ranjang.


“Selamat tidur, Sayang,” gumamnya sebelum rasa kantuk akhirnya memeluknya sepenuhnya.


*****


Author note.


Halo pembacaku tersayang. Terima kasih selalu setia menantikan kisah Bima dan Viona. Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak setelah membaca berupa dukungan melalui like, komentar, kolom hadiah poin dan vote kupon untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.