Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Panik



“Nyonya Viona?”


Suara bass terdengar dari balik punggung Viona. Sontak wanita cantik bersurai panjang itu menoleh hingga rambutnya berkibar. Ternyata di belakangnya sudah berdiri sesosok lak-laki tampan dengan setelan rapi berwarna milo, posturnya tinggi tegap, usianya kira-kira seumuran Bima. Viona segera berdiri dan mengangguk sopan.


“Benar, saya Viona. Selamat sore, Pak Yoga, senang bisa bertemu Anda.” Viona mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Yoga melahap habis pemandangan wanita di depannya dengan tatapan kurang ajar penuh minat. Meski hari sudah sore, Viona masih tampak cantik dan segar menggoda.


Rambut hitam panjangnya terurai membingkai wajah cantiknya, mata jernih berkilauan, bibir mungil nan ranum juga kulit wajah mulus tanpa cela ditunjang lekuk tubuh mungilnya namun menonjol pas dibagian-bagian tertentu membuat mata Yoga berkilat lapar.


“Saya lebih senang karena bisa bertemu dengan pebisnis secantik Anda,” ujarnya merayu terang-terangan.


Viona tersenyum sungkan. “Terima kasih pujiannya. Silakan duduk Pak, saya sudah membawa kelengkapan proposal yang pernah diajukan, juga katalog beberapa contoh koleksi terbaru unggulan kami. Semoga saja koleksi kami ada yang menarik minat dan sesuai dengan kriteria online shop Anda," jelas Viona.


“Itu hal gampang, saya biasanya tak mampu menolak permintaan wanita cantik, apalagi secantik Anda.”


Mata Yoga kembali berkilat memindai Viona rakus, padahal pakaian Viona jauh dari kata seksi. Hari ini dia memakai kemeja putih lengan panjang dengan aksen renda di bagian kancing depan, dipadu rok model umbrella di bawah lutut berwarna peach.


“Anda terlalu banyak memuji.” Viona mulai merasa risih karena Yoga terus memaku pandangan ke arahnya dengan tatapan tak biasa.


“Jangan terlalu terburu-buru, sebaiknya kita memesan minum dan menikmatinya sambil mengobrol.”


“Ide bagus Pak, kalau begitu Anda mau pesan minuman apa, saya yang akan menjamu,” tawar Viona.


“Saya sudah memesan minuman untuk kita dan juga mereservasi privat dining room, saya tak terbiasa harus duduk beramai-ramai dalam satu ruangan. Mari ikut saya,” ajak Yoga antusias.


Sejenak Viona tampak ragu, harusnya tadi dia membawa salah satu pegawai toko untuk menemani, walaupun para pekerja lainnya tidak seterampil Sita, setidaknya dia tak harus terjebak dalam situasi yang membuatnya risih semacam ini.


Jujur saja terbersit secercah rasa takut jika hanya berdua saja dengan sosok laki-laki yang tak begitu dikenalnya, apalagi sejak tadi Yoga terus saja menatapnya tanpa malu-malu. Viona berusaha menepis jauh-jauh pikiran buruknya, dan meyakini orang sesukses Pak Yoga ini pastilah professional, karena jika menolak, kapan lagi bisa berkesempatan untuk bekerjasama dengan online shop yang paling diminati akhir-akhir ini.


“Baiklah, Pak.” Viona mengangguk dan Yoga mengulum seringainya seraya berjalan lebih dulu menuju privat dining room yang telah dipesannya.


Pramusaji menyajikan minuman di atas meja, ruang privat ini benar-benar tertutup dan hanya ada mereka berdua saja.


“Begini, Pak. Maaf, saya tidak minum cocktail,” tolak Viona halus ketika melihat minuman yang disajikan.


“Ah… sayang sekali,” terdengar nada kecewa yang kental dari mulut Yoga dengan ujung bibir berkedut menahan kesal. “Baru kali ini ada yang berani menolak minuman yang saya pesankan,” ujarnya.


“Sekali lagi maaf, Pak.” Viona merasa sedikit tak nyaman kala melihat ekspresi Yoga.


“Kalau begitu mau minum apa?”


“Jus jeruk saja, Pak.”


*****


Bima memarkirkan mobilnya sembarangan, mendengar Viona pergi sendirian menemui Yoga si pemilik Shoppinghome membuatnya khawatir setengah mati. Di kalangan pebisnis laki-laki, nama Yoga sangat dikenal sebagai hidung belang, sudah banyak korban berjatuhan, memakai dalih mengajak bekerja sama sebagai umpan jebakan untuk membawa para wanita ke atas ranjangnya dengan cara licik.


Viona yang polos sudah pasti tak tahu akan kabar busuk semacam itu, hanya segelintir orang yang tahu, karena image Yoga yang tampak di luaran dibangun dengan topeng yang sempurna.


Bima merangsek masuk, bahkan pelayan yang menyambutnya di depan seolah tak terlihat juga tak terdengar kala mereka menyapa. Ia mengedarkan pandangan ke seantero restoran dengan napas memburu dilanda panik, tetapi tak menemukan keberadaan Viona di sana.


Namun, Bima yakin Viona masih berada di dalam restoran, karena tadi ia sempat melihat BMW milik mantan istrinya itu masih ada di tempat parkir.


Lalu seseorang menghampiri. “Pak Bima, ada yang bisa saya bantu?”


Yang menyapanya adalah manajer restoran, dia mengenal Bima karena restoran Purnawarman sering menjadi mitra Sinar Abadi Grup setahun terakhir ini dalam hal penyedia catering di acara-acara penting perusahaan.


“Kebetulan sekali. Apakah ada reservasi atas nama Yoga di sini atau Viona? Mereka meminta bertemu denganku di sini.” Bima beralasan.


“Oh Pak Yoga dan temannya ada di privat dining room, Pak.”


“Bisa tolong tunjukkan tempatnya? Kami hendak membahas bisnis penting.”


“Tentu saja, mari ikuti saya."