Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Boneka Beruang



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


“Yang benar, Jun?” Abdul tampak sumringah.


“I-iya Om. Beberapa hari yang lalu, Viona memutuskan untuk menerima lamaran saya tempo hari. Hanya saja dia meminta waktu, dan tak ingin terburu-buru,” sahut Juna yang tersenyum lebar.


“Semoga saja Viona bisa segera membuka hati. Tapi maaf, Om tak ingin ikut campur lagi, cukuplah masa lalu sebagai pelajaran, Om takut salah melangkah. Semoga kamu mengerti,” jelas Abdul.


Jujur saja Abdul juga menyukai Juna. Melihat bagaimana Juna yang dua tahun terakhir ini selalu ada dan mendukung putrinya, ditambah Nara yang juga sudah sangat akrab dengan Juna layaknya anak dan ayah kandungnya sendiri.


Namun, ketakutan dari pengalaman masa lalu membuatnya tak ingin mengatur-atur lagi perjodohan untuk sang anak, biarlah Viona sendiri yang memilih dan memutuskan tentang urusan pendamping hidup kedepannya.


Hari ini Juna sudah membuat janji dengan Viona dan Nara, mereka hendak berjalan-jalan ke mall sesuai permintaan Nara beberapa hari yang lalu. Hari sabtu atau minggu biasanya Viona habiskan di rumah orang tuanya, dan disilah Juna sekarang, hendak menjemput mereka.


“Papi, Nara sudah siaaap,” teriak Nara riang.


Nara menuruni tangga dengan Viona juga Rima yang mengekor di belakangnya. Juna bangkit dari duduknya dan menyambut Nara ke dalam gendongannya.


“Ayo berangkat,” rengek Nara sudah tak sabar.


“Yah, Bu. Kami berangkat sekarang. Mau sekalian makan siang di luar juga.” Viona berpamitan menyalami kedua orang tuanya.


“Iya, hati-hati di jalan ya, Vi, Jun. Selamat bersenang-senang cucu Nenek.” Rima melambaikan tangannya begitu juga Abdul.


*****


“Toko boneka paling lengkap di Bandung ya cuma di mall ini, Pak.”


Adrian si sekertaris Bima empat tahun lalu, kini menjadi asisten pribadinya. Bima memutuskan untuk kembali ke kantor seminggu yang lalu.


Hari ini sebetulnya Adrian libur bekerja, tetapi mendadak bosnya meminta bantuan untuk diantar pergi membeli boneka.


Selama Bima di balik jeruji besi, Adrian tetap bekerja dengan posisi sebagai sekertaris kedua Malik. Perusahaan yang dikelola Bima dulu diambil alih oleh Malik saat sang anak tersangkut kasus.


Seminggu yang lalu ia mulai berdamai dengan putranya dan membiarkan salah satu perusahaanya dikelola Bima lagi meski tak sepenuhnya. Akan tetapi orang tua itu belum bersedia berbicara banyak dengan putranya, seolah dia masih ingin menghukum atas kekeliruan yang pernah dilakukan sang anak.


“Ya sudah, pimpin jalannya,” titah Bima.


Ia sebetulnya merasa tak nyaman harus pergi ke tempat yang terlalu ramai juga bising seperti pusat perbelanjaan. Bima kadang masih merasa tak percaya diri saat kembali berbaur dengan khalayak, tetapi ia sudah memutuskan untuk kembali bangkit, maka dari itu hal seperti ini mutlak harus dihadapi.


“Itu tokonya, Pak.” Tunjuk Adrian ke arah toko besar di dekat lift.


Bima bergegas masuk ke sana, ia berencana mengunjungi Nara hari ini dan hendak membeli buah tangan. Mungkin Nara takkan mengenalinya, untuk itu setidaknya ia ingin memberikan kesan baik saat pertemuan pertamanya dengan putri yang dirindukannya. Selama ini Bima hanya bisa melihat Nara melalui foto-foto dari galeri ponsel ibunya.


“Tolong rekomendasikan boneka terbaik dan termahal yang cocok untuk anak perempuan umur empat tahun,” pinta Bima kepada salah satu pelayan toko.


Si pelayan mengangguk ramah, lalu memberi referensi beberapa produk terbaik yang dimiliki tokonya. Setelah tiga puluh menit berlalu, pilihan Bima jatuh pada satu set boneka beruang keluarga. Isinya ada tiga boneka, yang paling besar berwarna coklat tua dengan bordiran bertuliskan Daddy di dadanya, yang warna krem bertuliskan Mommy sedangkan yang paling kecil bertuliskan Me.


Adrian keluar dari toko membawa boneka yang telah dibungkus cantik, sedangkan Bima berjalan di belakangnya. Ukuran bungkusan yang cukup besar membuat ruang pandang Adrian terbatas, hingga akhirnya ia bertabrakan dengan seorang anak yang berlari dari arah berlawanan.


“Aduh….” pekik anak itu.