
Ingin sekali rasanya Juna membanting apapun yang ada di hadapannya saat ini demi melampiaskan segala sesak yang bercokol di dadanya, akan tetapi dia mengurungkannya dan memilih membasuh diri untuk menjernihkan pikiran. Di bawah guyuran shower malam itu ia mulai menyusun strategi lain.
Bukankah ia masih memiliki Abdul di sisinya? Yang mendukungnya sepenuhnya? Pikiran dan hatinya yang semrawut mulai kembali menemukan celah, Juna akan mencoba membujuk abdul agar memprcepat proses keinginannya mempersunting Viona.
Hadirnya Bima yang beberapa waktu terakhir diangapanya ranjau, justru kini akan dijadikannya pion untuk memuluskan keinginannya. Juna akan menggunakan Bima sebagai umpan empuk untuk mempengaruhi Abdul, menghantui Ayah Viona itu dengan mengatakan kemungkinan-kemungkinan bahwa Viona akan kembali lagi pada Bima jika tak segera dinikahi olehnya, karena setahunya Abdul sangat membenci Bima.
Wajah kusutnya kembali cerah, Juna menatap pantulannya di cermin yang beruap dan tertawa menyeringai, masih ada jalan lain untuk memuaskan obsesinya membuat Viona menjadi miliknya, tanpa peduli hati Viona tertuju untuk siapa.
*****
Satu bulan berlalu, hubungan Juna dan Viona yang sempat dilanda hawa dingin kini berangsur membaik walaupun Viona masih terkesan menjaga jarak.
Juna memperingatkan dirinya sendiri agar mampu mengontrol emosi meskipun jika giliran Bima menghabiskan waktu dengan Nara seminggu sekali sesuai kesepakatan, dia harus menekan mati-matian rasa cemburu juga posesifnya, karena setiap kali Bima pergi menghabiskan waktu dengan Nara otomatis Viona pasti ikut serta bersama mereka lantaran bocah kecil itu ingin selalu pergi bertiga.
*****
Sudah dua minggu Bima tak datang mengunjungi Nara, gadis kecil itu sempat merajuk pada sang bunda ingin bertemu dengan Om beruangnya. Kendati Juna sering datang untuk mengunjungi, tetapi Nara merasakan hal berbeda, rasa nyaman dan aman tak biasa selalu hinggap jika Om beruangnya ada di dekatnya.
Saat Viona menghubungi, Bima menyampaikan permohonan maafnya dan mengatakan sedang sibuk dengan urusan pekerjaan di luar kota. Hanya saja nada bicaranya terdengar sedikit berbeda dan Bima mengatakan mungkin semua itu faktor signal saja.
Sebetulnya sudah dua minggu ini Bima tak datang ke perusahaan. Mengerjakan pekerjaan dari tempat tinggalnya dan mempercayakan urusan di kantor pada Adrian. Asam lambungnya kembali kambuh dan kini disertai demam. Dokter datang berkala ke apartemen untuk memeriksa, semenjak memutuskan untuk kembali mengelola perusahaan, Bima tinggal sendiri di sebuah apartemen.
Bima sangat ingin menelepon Viona, rasanya ingin sekali bertemu apalagi di saat sakit begini, akan tetapi semua itu hanya angan semata, mereka sudah tak memiliki hubungan yang mengharuskan Viona peduli padanya bukan? batinnya.
Bergelung selimut berteman rindu menggelayut dengan ponsel di tangan, Bima menggulirkan jemarinya, melihat satu persatu foto Nara dan Viona yang terdapat di dalam galeri ponselnya sampai akhirnya dia tertidur efek dari obat yang diminumnya.
Adrian masuk ke kamar hendak berpamitan ke kantor lagi siang itu setelah mengantar dokter ke tempat parkir, di dalam sana ia mendapati Bima yang sudah memejamkan mata dengan ponsel di tangan. Adrian menyelimuti Bima dan mengambil ponsel tersebut. Dia menghela napas saat tahu ternyata atasannya memandangi foto Nara juga Viona sejak tadi.
*****
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.
Regards
Senjahari_ID24