
“Ayo, silakan di minum jusnya.” Yoga mengangkat gelas cocktailnya mengajak Viona minum bersama.
Viona juga mengangkat gelas jus jeruknya berusaha menghormati sebagaimana adab terhadap mitra bisnis. Yoga menyeringai tipis kala melihat gelas jus jeruk Viona hampir menyentuh bibir merahnya.
Mendadak ponsel Viona berbunyi nyaring. Ia meletakkan kembali gelasnya, mengambil ponselnya dan tertera nama Ayah Nara di sana. Jemarinya bergulir hendak menggeser tombol hijau, pergerakannya terhenti kala suara Yoga menyela.
“Bukankah kurang sopan mengaktifkan mode dering juga menerima telepon di tengah situasi membahas kerja sama yang sangat penting?” ujarnya dengan raut wajah mengeras. Ia kesal lantaran Viona tak kunjung meminum jusnya dan malah meletakkan gelasnya kembali.
“Ma-maaf sekali Pak, ini semua kelalaian saya karena lupa menonaktifkan dering ponsel.” Meski merasa risih, Viona tetap berusaha professional, mengurungkan niatannya untuk menerima telepon dari Bima dan mengganti mode ponselnya ke mode silent lalu memasukkannya lagi ke dalam tas.
“Bagaimana jika maafmu tak diterima? Saya rasa niatan Anda mengajukan permohonan kerjasama dengan Shoppinghome tak sungguh-sungguh, bahkan minuman yang saya sajikan pun Anda tolak. Sepertinya saya hanya membuang-buang waktu,” ujarnya mengeluh namun menuntut.
“Saya sama sekali tak punya pemikiran semacam itu. Saya yakin, Anda orang yang berbesar hati, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya benar-benar sangat serius ingin menjadi mitra Shopinghome, Pak Yoga,” sahut Viona. Ia mencoba bertahan meski suasana mulai tak nyaman, sejak tadi Yoga seakan terus mendesak dan terasa memaksa.
“Benarkah? Coba tunjukkan keseriusan Anda.”
Yoga beranjak dari kursinya, mengitari meja dan berpindah duduk ke samping Viona. Berjengit kaget akan apa yang di lakukan Yoga, Viona otomatis bergeser agak menjauh.
“Oh tentu, Anda bisa melihat berkas-berkas yang saya bawa ini. saya sudah merencanakan semuanya dengan matang agar kita bisa saling menguntungkan.” Viona membuka tasnya dan mengambil map dari sana.
Yoga menyiman map tersebut di meja, dia tampak tak berminat melihat isinya, karena dia lebih tertarik pada wanita yang menyerahkan map. Ia mengeser posisi duduknya lagi hingga kini lebih dekat dengan Viona.
“Sebelum kita mebahas itu, sebaiknya diminum dulu jusnya. Tunjukkan keseriusan Anda.” Yoga meraih gelas jus jeruk dan menyodorkannya kepada Viona.
Rasa takut semakin hebat merayap, ia merasa aneh karena Yoga sejak tadi terus saja mendesaknya untuk minum. Viona mulai curiga dan batinnya bertanya-tanya, mungkinkah Yoga menaruh sesuatu dalam jus jeruknya?
“Ehm… be-begini Pak. Bisakah kita membahas pekerjaan terlebih dahulu,” pinta Viona masih dengan nada sopan, walaupun aura tak mengenakkan mulai menguar di sana.
Yoga meletakkan kembali gelas tersebut dengan ekspresi kecewa yang kental. Baru kali ini ada wanita yang tak terjerat pesonanya, ragawinya yang rupawan biasanya mampu menjerat lawan jenisnya dengan mudah. Penolakan Viona membuat kesabarannya tandas.
“Sebetulnya untuk bekerja sama dengan saya Anda tak perlu repot-repot membawa berkas ini.” Tunjuknya ke arah map coklat di atas meja.
“Anda hanya harus membuat saya senang, dan saya pastikan butik Anda menjadi mitra ekslusif Shoppinghome.” Yoga mengelus lengan Viona denagn gerakan kurang ajar.
Alarm tanda bahaya berbunyi di dalam diri Viona meskipun sedikit terlambat. Ia mulai menangkap maksud dari kata-kata Yoga. Memasang mode waspada, Viona bangkit dari kursi dan meraih tasnya.
“Maaf, Pak Yoga. Sepertinya saya harus memikirkan ulang tentang kerja sama ini, saya permisi.”