Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tertangkap



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Bima mondar-mandir di halaman vila sementara Nara direbahkannya di sofa ruang tamu. Jujur saja rasa cemas mulai merayapinya tepat setelah Viona melangkahkan kaki keluar di malam gelap untuk memenuhi permintaannya. Rasa ketagihan obat terlarangnya campur aduk caruk maruk dengan rasa cemasnya, tetapi tetap saja rasa kecanduannya kembali menguasai dan mendominasi.


Terdengar derap langkah yang datang mendekat, Bima segera waspada, ia masuk ke dalam dan mengitip dari celah gorden untuk melihat siapa yang datang. Setelah sosok itu semakin mendekat, ternyata itu adalah Viona, Bima langsung membuka pintu dan menyambar lengan Viona kasar untuk masuk ke dalam rumah.


“Mana barangnya?” tanya Bima sambil menyodorkan telapak tangannya. Dia sama sekali tak peduli dengan keadaan istrinya yang baru saja kembali.


“I-Ini.” Dengan gemetaran Viona menyerahkan bungkusan ke tangan Bima.


“Lama banget sih!” decak Bima kesal.


Bima merebut bungkusan dari tangan Viona degan cepat, membukanya dan memeriksa isinya. Matanya berbinar, ia bahkan menelan ludahnya hingga jakunnya naik turun. Ia sama sekali tak bertanya dari mana istrinya mendapatkan barang yang sangat digilainya. Bima menyambar botol air mineral di meja, membuka pembungkus obatnya serampangan dan menenggak beberapa butir sekaligus.


Di saat Bima tengah sibuk dengan barang favoritnya, Viona meraup Nara dan mengendap-endap keluar dari sana. Setelah berada di luar dia berlari kencang dengan Nara dalam gendongannya. Sesekali punggung tangannya mengusap matanya yang buram karena air mata, hingga kira-kira sudah lima ratus meter jauhnya tampaklah di sana Ibel dan para polisi yang sudah menunggunya.


Maafkan aku Mas, maafkan aku, jerit batinnya.


Beberapa saat yang lalu setelah melapor, Viona menceritakan situasinya kepada pihak berwajib. Akhirnya mereka berkoordinasi dan bekerja sama untuk menyergap Bima tanpa membahayakan Nara, mereka mengatur strategi dan meminta Viona bekerja sama. Pihak berwajib memanipulasi dan memasukan jenis obat demam yang bentuknya menyerupai barang haram tersebut meskipun tidak sepenuhnya serupa, tetapi mereka yakin, jika dalam keadaan sakau maka Bima akan dengan mudah mempercayai bahwa itu asli.


Bima duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di dinding. Bibirnya tersenyum tengah menunggu efek dari barang yang baru saja ditenggaknya. Namun, setelah beberapa saat menunggu, sama sekali tak ada reaksi apapun. Saat hendak menambah lagi dosisnya, ia dikagetkan dengan para polisi yang menerobos masuk dan langsung menyergapnya di tempat.


Bima melawan, memberontak, berteriak dan hendak kembali melarikan diri, tetapi seluruh bangunan sudah dikepung sehingga tak ada celah baginya untuk kabur. Polisi segera membekuknya dan menggiringnya masuk ke dalam mobil polisi.


Saat iring-iringan mobil polisi sudah lewat, Ibel segera tancap gas dan melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke Bandung dengan Viona yang tak berhenti menangis di sebelahnya.


“Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda,” lirihnya terisak sembari memeluk Nara erat dalam dekapannya.


Ibel membawa Viona ke apartemennya, awalnya Viona ingin langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi ayahnya, tetapi Ibel mengatakan sebaiknya Viona beristirahat dulu untuk malam ini.


“Istirahatlah Vi, besok gue anter ke rumah sakit.”


Viona mengangguk. Ibel keluar dari kamar tamu dan menutupkan pintu. Tepat setelah pintu tertutup, kembali terdengar tangisan Viona yang memilukan menyayat hati.