Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Janji Makan Siang



Bima menghubungi Juna dan memberitahukan tempat untuk mereka makan siang bersama. Bima memutuskan bertemu di restoran pilihan Viona yang letaknya masih berada di pusat kota.


Saat ini Viona tengah duduk di kursi meja rias dan hendak merias wajahnya di depan cermin. Ini adalah pertama kalinya Bima mengajaknya makan bersama di restoran pilihannya, membuatnya begitu bersemangat untuk berpenampilan terbaik yang ia bisa.


Disapukannya kuas bedak di kulit halus mulusnya secara merata. Lalu dibubuhkannya perona pipi berwarna peach di tulang pipinya yang makin memberikan kesan rona segar di wajahnya, tak lupa eye shadow berwarna nude ia lukiskan di kelopak mata indahnya, dan terakhir sentuhan lipstik berwarna fruit funch digulirkan di bibir ranumnya.


Viona beranjak dari duduknya dan mengganti pakaiannya. Sebuah gaun berwarna dasar ungu muda dengan aksen bunga-bungaan putih bercampur ungu tua membalut tubuhnya begitu pas. Gaun selutut berlengan panjang, dengan model leher berkerah dan terdapat kancing depan hingga di atas perut buncitnya.


Rambut panjangnya diikat dengan rapi kebelakang, membingkai jelas siluet wajah mungilnya yang begitu cantik namun menggemaskan karena sekarang pipinya sedikit chubby imbas dari berat badannya yang semakin bertambah. Namun, bobotnya yang bertambah itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan yang terpancar dari seorang Viona.


Viona berdiri, mematut tampilannya dari kepala hingga ujung kaki di depan cermin besar dekat lemari, setelah dirasa semuanya sempurna ia memakai sepatu model flat shoes berwarna putih dan segera keluar dari kamar.


Bima sedang menunggu Viona selesai berdandan. Ia duduk di kursi jati yang terdapat di teras rumah sambil membaca beberapa pesan masuk di ponselnya. Saking seriusnya membalas setiap pesan itu sampai-sampai dirinya tidak menyadari bahwa istrinya sudah berdiri di sampingnya.


"Ehm ... ehm." Viona berdehem. Suaranya membuat Bima terperanjat kaget dan hampir menjatuhkan ponsel yang sedang di pegangnya.


Mata Bima membulat sempurna dengan mulut sedikit ternganga saat melihat betapa cantiknya Viona yang sudah berada di hadapannya. Dipindainya wanita hamil itu dari ujung kepala hingga kaki, juga aroma parfum yang dipakai Viona siang ini membuat aura istrinya semakin memukau bersinar.


"Eh, u-udah selesai ya. Ayo, kita berangkat sekarang." Bima tergeragap lantaran terbius oleh pesona Viona yang menyilaukan mata.


"Ya udah ayo. Ngajak berangkat tapi dari tadi Mas Bima cuma duduk terus di situ. Dan kenapa tatapannya begitu, apa aku terlihat aneh?" tanya Viona sambil kembali memeriksa tampilannya sendiri takut ada yang salah dengan apa yang dikenakannya siang ini.


Bima segera berdiri dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja samping kursi. "Aku menatapmu begitu bukan karena aneh, tapi karena dirimu begitu memukau, istriku sayang." Bima berbisik tepat di telinga Viona.


Kata-kata Bima sukses membuat Viona merasakan serupa hawa panas yang menjalar di wajahnya, sehingga menciptakan semburat merah di pipinya membuatnya terlihat semakin menggoda di mata Bima. Lelaki itu mengulum senyum, merangkumkan tangannya ke tangan Viona dan menautkan jari jemari mereka.


"Bagaimana kalau kita batalkan saja janji makan siang ini? Melihatmu yang begitu cantik membuatku kehilangan selera makan dan lebih tertarik untuk melakukan kegiatan lain." Bima menaikkan alisnya dan memicingkan mata dengan tatapan penuh arti.


Viona tahu apa yang dimaksud Bima dengan kegiatan lain. Ia mengerucutkan bibir dan memukul pelan bahu suaminya. "Mas, udah deh jangan menggodaku terus! Jangan coba-coba ya! Ini adalah pertama kalinya kita akan makan siang bersama di restoran yang kusukai, aku sangat bersemangat untuk pergi ke sana, jadi aku berdandan sebaik mungkin karena ini merupakan momen yang penting bagiku. Lagi pula aku mulai merasa lapar, sepertinya bayi kita sudah menagih jatah makan siangnya." Viona mengelus lembut perut buncitnya.


"Ah iya, anakku di dalam sana membutuhkan nutrisinya saat ini, maafkan Ayahmu ini, Nak." Bima ikut mengelus perut buncit Viona. "Ayo," ajak Bima yang menuntun Viona masuk ke dalam mobil. Bima segera melesat melajukan kendaraannya ke tempat yang di maksud karena waktu makan siang sudah hampir tiba.


*****


Bima memasuki restoran sambil menggandeng Viona, ia menanyakan pada pelayan di mana letak meja yang sudah dipesan Juna. Pelayan itu dengan profesional dan sopan mengantarkan Bima serta Viona.


Posisi duduk Juna membelakangi arah mereka datang, Bima segera menghampiri meja tersebut saat mengenali sosok yang tengah duduk sendirian di sana.


"Halo, selamat siang, Pak Juna. Maaf membuat Anda lama menunggu," sapa Bima. Juna menolehkan kepalanya dan langsung berdiri menyambut kedatangan Bima.


"Sama sekali tidak, Pak Bima. Saya juga baru sampai beberapa menit yang lalu. Karena saya tiba lebih dulu maka dari itu saya mengambil inisiatif untuk memesan meja tanpa persetujuan Anda, maaf jika saya lancang," tutur Juna dengan sopan, karena bagaimanapun juga ia dapat menerka bahwa usia Bima pasti berada di atasnya, tetapi karena penampilan Bima yang selalu bugar dan perlente membuatnya tampak lebih muda dari usia sebenarnya.


"Tidak masalah, saya suka letak meja pilihan Anda. Justru di sini saya yang seharusnya meminta maaf. Oh ya perkenalkan, ini istri saya." Bima menghela dengan lembut tubuh Viona yang berdiri di belakangnya terhalang tubuh jangkungnya.


Juna tak dapat menahan reaksinya, membulatkan mata karena terkejut. Begitu juga dengan Viona, secara spontan mereka berdua serempak saling menyapa.


"Juna?" ucap Viona.


"Viona?" sahut Juna.


Bima memandang bergantian ke arah istrinya juga Juna. "Kalian sudah saling kenal?" Bima menatap mereka berdua penuh tanya.


"Iya, Mas. Juna ini temanku sewaktu SMA, kami bertemu lagi baru-baru ini saat acara reuni. Jun, kenalkan, ini suamiku." Viona memamerkan suaminya antusias.


"Jadi ternyata Anda adalah suaminya Viona? Wah, kebetulan sekali, saya selalu sangat penasaran dengan sosok laki-laki yang menjadi suami dari sahabat saya, tak disangka kita dipertemukan dengan cara seperti kemarin," sahut Juna dengan senyuman yang dipaksakan.


Jujur saja, dia merasa cemburu karena saat ini wanita pujaan hatinya berada di hadapannya bersama sang pemiliknya. Bahkan hari ini Viona terlihat lebih cantik dari biasanya, membuat api dalam dadanya berkobar ingin memiliki sosok yang telah lama dicintainya.


Juna tahu apa yang dirasakannya pada Viona adalah sebuah kesalahan karena status Viona kini tak sendiri lagi. Hanya saja semakin hari rasa itu makin menggerogotinya, semakin berusaha ia mengusir dan membentengi dirinya, maka rasa itu dengan getol kembali dan kembali lagi merangsek memporak porandakan sanubarinya.


*****


Hai my beloved readers, terimakasih banyak atas apresiasi kalian yang selalu setia menanti cerita ini 🤗❤. Jangan lupa jejak bintang, like, komentar, dan votenya ya. Follow juga Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan informasi seputar cerita yang kutulis.


Thank you all ❤💕.