Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Beban di Dada



Sesil bangkit dari duduknya dan melipat kedua tangan di dada.


"Aku nggak bisa, Va. Bima sudah mengetahui sandiwara kehamilanku dan aku diusir dari rumah yang disiapkannya untukku. Pokoknya kuminta bagianku sekarang juga! Aku butuh tempat tinggal dan bekal hidup karena orang tuaku sudah tak mau menerimaku lagi!" teriak Sesil penuh kekesalan.


Plak ....


Sebuah tamparan mendarat di sisi wajah Sesil, wanita itu terhenyak dengan tangan yang mulai bergerak memegangi pipinya.


"Ka-kamu? Berani-beraninya kamu menamparku." Sesil membeliak penuh emosi.


"Dasar tak berguna. Cuma bersandiwara begitu saja kamu tidak becus! Dan juga apa tadi kau bilang? uangmu?" Reva menyeringai.


"Uang itu akan kubagi denganmu jika kamu masih bermanfaat untuk kugunakan. Tapi sekarang jamu hanyalah seonggok sampah yang tidak berguna! Jangan pernah berharap tentang uang itu lagi karena aku tidak berniat untuk membaginya denganmu."


"Dasar sialan. Kamu benar-benar busuk, Reva!" umpat Sesil yang kemudian hendak menjambak rambutnya, tetapi seseorang tiba-tiba mencekal tangannya yang tidak lain adalah si berondong pacar baru Reva.


"Aw ... sakit. Lepasin brengsek!"


"Dasar j*lang. Pergi sana! Jangan mengganggu pacarku!" Pemuda itu melepaskan cekalannya dan mendorong tubuh Sesil hingga tersungkur ke lantai.


Si pemuda menarik tubuh Sesil dan Reva menjinjing koper merahnya keluar apartemen. Sesil yang diseret dengan hanya memakai rok pendek meronta dan menjerit sembari mengumpat, bahkan betisnya lecet karena ia diseret tanpa belas kasihan.


Dengan tangan mengepal dan air mata berderai, Sesil menatap pintu apartemen Reva penuh amarah. "Jika aku harus menderita, maka kamu pun harus merasakan hal yang sama. Tunggu saja pembalasanku Reva!"


Sesil tertatih-tatih menyeret kopernya, ia juga membuka sepatunya karena sepertinya kakinya terkilir ketika meronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman si pemuda yang menarik tubuhnya keluar dengan kasar.


Pertemanan yang hanya didasarkan azas manfaat, hanya akan merugikan di kemudian hari, karena tidak dihiasi ketulusan dan juga keikhlasan saling menerima serta memahami.


*****


Usia si kecil Nara sudah kini sudah menginjak dua bulan. Bayi itu tumbuh dengan sehat berkat sang ibu yang selalu mencurahkan perhatian terbaiknya untuk si buah hati. Pipi dan pahanya semakin montok menggemaskan, membuat siapapun yang melihatnya ingin menggendong dan menciumi bayi lucu itu.


Bima baru saja keluar dari kamar mandi dan celingak-celinguk seperti maling di kamarnya sendiri. Ia sedang memastikan jika Viona sudah benar-benar keluar dari kamar membawa si kecil Nara. Beberapa menit yang lalu, istrinya itu mengatakan akan berjalan-jalan membawa Nara ke sekitar taman komplek memakai kereta bayi sembari berjemur menikmati hangatnya sinar mentari pagi.


Setelah yakin bahwa Viona tidak ada di sana, Bima mengambil barang yang disembunyikannya di atas lemari tinggi yang berisi baju-bajunya. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menaruh handuk basah bekas mengeringkan rambut di atas kasur.


Ditatapnya nanar bungkusan berwarna silver yang sudah beberapa tahun ini menguasai separuh hidupnya, mengambil satu butir dan menenggaknya kemudian disusul embusan napas berat. Memang kini tidak setiap hari Bima meminumnya, tetapi untuk benar-benar terlepas dari ketergantungannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Sampai kapan aku harus begini ....


Desahnya berat, sarat akan beban sesak di dada.