
Polisi tersebut menyodorkan selembar foto ke hadapan Viona. Diamatinya dengan serius begitu foto tersebut tepat berada di depan wajahnya, tetapi sesaat kemudian ia terkesiap, mengerjap-ngerjapkan matanya seraya mengerutkan keningnya dalam.
“Bo-boleh pinjam sebentar fotonya, saya ingin melihatnya lebih dekat,” cicit Viona kepada polisi tersebut.
“Silakan, coba amati baik-baik, mungkin saja Anda pernah berpapasan atau bertemu dengan orang ini. Jika tak sengaja melihatnya Anda bisa langsung menghubungi nomor layanan cepat kantor polisi,” cerocos si polisi tersebut tanpa menyadari wajah wanita yang sedang mengamati foto itu berubah memucat dengan tangan yang mulai gemetaran.
Bukankah ini Mas Bima? Tapi tidak mungkin suamiku menjadi buronan polisi bukan? Pasti Cuma mirip saja iya kan? Pasti begitu. Batinnya, meskipun sejujurnya rasa takut mulai merambatinya perlahan.
“Pak polisi, bu-buronan ini terlibat kasus apa?” tanya Viona seperti orang linglung, padahal jelas-jelas tadi polisi tersebut sudah mengatakan bahwa tersangka yang mereka cari adalah buronan narkoba.
“Orang ini terjerat kasus pemakaian obat-obatan terlarang. Bandar besar pengedar beserta beberapa teman sesama pemakai sudah berhasil kami ringkus, tapi masih ada beberapa yang belum tertangkap dan salah satunya adalah orang ini,” jelas si polisi lugas dan tegas.
“Si-siapakah… namanya?” Viona melanjutkan pertanyaannya dengan wajah yang semakin pucat pasi, dia hanya ingin memastikan, mungkin saja orang di dalam foto ini hanya mirip dengan suaminya.
“Dia adalah salah satu pengusaha di Jawa Barat. Namanya Bima, Bima Prasetyo.”
Tubuh Viona terasa lemas, lututnya seolah tak bertenaga, tenggorokannya tercekat tak mampu berkata-kata setelah polisi tersebut menyebutkan nama si tersangka.
Bima? Bima Prasetyo? Tidak mungkin! Ini pasti hanya mimpi. Viona masih tak percaya, dia menggaungkan kalimat-kalimat tersebut dalam hati untuk mendoktrin dirinya sendiri.
“Apakah anda mengenalnya? atau mungkin pernah melihatnya baru-baru ini?” Lanjut si polisi tersebut.
“Permisi Pak. Mari duluan, anak saya menangis.” Secepat kilat Viona berbalik badan mengambil langkah seribu mendekati mobilnya dan melupakan barang-barang yang hendak dibelinya. Perutnya yang asalnya melilit dan lapar tiba-tiba terasa kenyang. Ia masuk ke dalam mobil dengan tergesa, memerintahkan si pemuda yang mengemudikan mobilnya supaya segera tancap gas pergi dari sana secepat mungkin.
Deru napasnya tersengal tak beraturan, seluruh tubuhnya semakin bergetar hebat, degupan jantungnya bertalu mengerikan hingga menyesakkan dada karena didera keterkejutan yang menyerbunya tanpa aba-aba. Viona berusaha menahan isakannya, menggigit bibirnya sendiri dan mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Nara seolah mencari kekuatan di sana.
Viona melirik ke arah Bima, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri tak ingin mempercayai keterangan dari polisi tadi padahal segala bukti memang merujuk pada suaminya.
Nama Bima itu banyak kan? Pasti bukan BIma yang ini, mungkin wajahnya hanya mirip, pengusaha di jawa barat juga banyak kan yang namanya Bima. Tidak, bukan Bima suamiku yang jadi buronan, itu tidak mungkin!
Viona terus merapalkan kalimat yang sama di dalam pikiran dan hatinya, hanya saja makin disangkal hal itu malah semakin terasa nyata.
Tepat saat mobil hendak mengambil lajur ke pusat kota Bandung, Viona memerintahkan si pemuda yang menjadi sopirnya untuk memutar arah dan pergi ke arah berlawanan. Entah apa yang sedang berkecamuk di pikiran Viona, yang pasti saat ini yang diinginkannya adalah pergi sejauh mungkin untuk menghindari polisi. Otaknya memeritahkan Viona untuk pulang dan menerima kebenarannya, tetapi hatinya tak sejalan dan masih belum mampu menanggung hantaman tiba-tiba yang menghujam jiwanya.
Ayah anakku bukan buronan! Jeritnya dalam hati
“Jadi kita mau kemana Mbak?” tanya si pemuda.
“kita ke puncak, saya ada keperluan mendadak di sana.”