
Sekitar pukul delapan pagi, dokter penanggung jawab segera memeriksa Bima secara keseluruhan, juga meninjau laporan dari hasil pemeriksaan dini hari dari dokter piket. Dari hasil diagnosa, kondisi Bima dinyatakan stabil terkendali, transfusi darah pun sudah bisa dilepas sehingga tangan kanan Bima kini terbebas dari jarum dan selang, hanya tinggal tangan kirinya saja yang masih harus dipasang infus.
Meski begitu, Ia masih harus dirawat inap beberapa hari ke depan untuk tetap memantau kondisi luka-luka luar juga mengontrol luka bekas operasi di bahu kirinya, memastikan agar lukanya pulih dengan baik sesuai harapan.
Siang harinya Nara dan Rima kembali datang. Bocah cantik itu naik ke ranjang sang ayah dan terus menempel enggan berjauhan. Mengecup pipi kemudian lebam lebam di wajah Bima penuh sayang, bahkan wajah Bima hampir basah terkena ludah sang anak.
Bima meminta tempat tidurnya diatur agar bisa duduk bersandar lebih tegak supaya lebih nyaman dan leluasa bercengkerama dengan putri tersayangnya. Ia menikmati setiap kasih sayang yang diberikan buah hatinya, terasa begitu indah dan berarti saat bagian dari dirinya juga mencintainya.
Viona yang hendak menyuapi makan siang sang suami dihentikan oleh Nara. Bima diboikot oleh putri cantiknya. Nara mengambil alih mangkuk dan sendok dari tangan bundanya dan menyuapi Bima dengan tangan mungilnya penuh semangat.
“Makannya harus diabisin biar cepat sembuh. Kalau nggak habis, nanti Ayah disuntik dokter lho,” celotehnya lucu, memperingatkan Bima seumpama anak kecil seusianya.
Bima tertawa kecil dan mengangguk. “Baik Bu Dokter,” sahut Bima.
*****
Hari ini Nia kembali dipanggil ke kantor polisi untuk diperiksa juga dimintai keterangan tertulis guna kelengkapan berkas selaku saksi. Ia berpapasan dengan Yoga yang baru saja keluar dari ruang penyidik. Yoga yang awut-awutan dengan tangan terborgol menghentikan langkah dan menatap tajam menghunus kepada Nia. Gadis rapuh itu meremas ujung kaos oblong yang dipakainya, tetapi ia memberanikan diri mengangkat dagu lantaran tidak ingin ditindas lagi oleh bajingan yang menyiksanya selama ini.
“Heh jalang. Seharusnya kamu juga ditahan sebagai tersangka karena satu komplotan denganku. Kenapa kamu hanya dijadikan saksi? Ini tidak adil! Sebaiknya kamu mengatakan hal-hal baik tentangku pada penyidik. Atau aku akan menyuruh orang untuk menyebarkan videomu ke khalayak,” desisnya keji. Dalam kondisinya yang sudah terpojok pun, Yoga masih mengancam Nia dengan arogan
“Aku tidak takut!” balas Nia pelan namun penuh penekanan. “Sebarkan saja! Aku sudah muak diperbudak olehmu.”
“Dasar jalang! Kamu akan merasakan akibatnya karena telah berani menentangku!" Yoga masih saja congkak, entah kapan drinya akan menyadari segala dosa-dosanya. Padahal kini ia nyaris tak punya kendali akan kehidupan di luar sana.
Sudah hampir satu jam Nia di dalam sana. Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri mengungkapkan perbuatan bejat Yoga. Ia menceritakan semua pelecehan yang dialaminya setahun terakhir ini.
Awalnya Nia berniat bungkam dan menyimpan rapat-rapat tentang perlakuan biadab Yoga padanya, karena merasa sangat malu akan aib dirinya yang menyedihkan, seakan tak memiliki harga diri lagi.
Namun, Nia sudah tak sanggup lagi menanggung sendirian beban berat yang menimpanya, meski mungkin nantinya penghakiman dan cacian berlabel wanita murahan lemah tersemat padanya dari orang-orang yang memandang sebelah mata.
Para penyidik memutuskan untuk melakukan prosedur visum dan Nia menyetujuinya. Gadis itu mengenyahkan keraguan dan ketakutan, meyakini semua yang dilakukannya kini memanglah tindakan yang benar. Ia tak mempunyai siapapun yang menguatkannya saat ini, hanya berpegangan pada keberaniannya yang belum begitu kuat lantaran baru tumbuh bertunas.
Semua keterangan Nia membuat bukti kejahatan Yoga semakin menumpuk saja. sudah dipastikan Yoga dijerat pasal berlapis. Dari mulai penculikan Viona hingga percobaan pembunuhan terhadap Bima. Pelecehan seksual dan kekerasan kepada Nia, serta penipuan berkedok investasi berlindung di balik nama perusahaan online shop yang dipimpinnya. Homeshopping dipastikan gulung tikar, kabar penangkapan Yoga berimbas pada penyitaan aset yang dilakukan pihak bank tak lama setelah berita tersebar.
Malik pun tak tinggal diam, dia kembali datang ke kantor polisi dengan Adrian, ingin memastikan bahwa Yoga didakwa seberat-beratnya tanpa diberi hak pembelaan. Malik takkan membiarkan orang seperti Yoga melenggang begitu saja sebelum menikmati ganjarannya.
Adrian duduk di luar kantor polisi, menunggu Malik yang tengah berbincang dengan kepala polisi di dalam sana. Tak sengaja ia melihat kemunculan Nia keluar dari pintu diantar beberapa polisi. Adrian beranjak dari duduknya dan menghampiri.
Entah mengapa ia merasa iba setiap kali melihat Nia. Ia menyapa dan Nia mengatakan hendak pergi untuk melakukan visum ditemani para polisi. Adrian yang bersimpati memberi semangat dan dukungan. Ia juga memberikan kartu namanya.
“Jika ada yang bisa kubantu, hubungi saja aku," tawar laki-laki berkacamata itu tulus.
“Terima kasih, Pak Adrian.” Nia mengangguk tipis sebelum berlalu pergi.