
“Maaf, Pak Yoga. Sepertinya saya harus memikirkan ulang tentang kerja sama ini, saya permisi.”
Viona berjingkat tanpa menoleh. Namun saat hampir mencapai pintu, Yoga menarik tubuhnya dan menghimpitnya hingga membentur dinding dengan kencang. Tangannya mencengkeram kedua pergelangan Viona dengan kilat iblis dari matanya.
“Jual mahal sekali huh? Seperti gadis perawan saja, padahal kudengar kamu hanyalah seorang janda!” desisnya penuh emosi juga birahi.
“Lepas! Singkirkan tangan kotormu itu, bajingan!” teriak Viona marah. Ia meronta dan menendang-nendang sekuat tenaga mencoba melepaskan diri meski tubuhnya gemetaran luar biasa.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Viona hingga terasa perih.
“Berani sekali kamu mengataiku? Kamu ingin bisnismu kuhancurkan!” Yoga makin menghimpit tubuh mungil Viona.
“Silakan saja, saya tidak takut!” serunya dengan deru napas tersengal.
Viona terus meronta, apapun yang terjadi dia harus melawan dan mencari cara keluar dari ruangan itu. Ia ingin merogoh ponsel di tasnya, tetapi tangannya terkunci oleh Yoga.
“Tolong… siapapun tolong saya. Tolong….”
“Menarik. Berteriaklah, sebagai latihan sebelum aku membuatmu berteriak nikmat. Tapi sayang, ruangan ini kedap suara. Sebelum bisnismu yang hancur, akan kuhancurkan dulu harga dirimu, cantik.” Yoga tergelak menjijikkan.
“Bajingan gila! Tolong… tolong saya. Siapapun tolong saya!”
Netra cantik Viona terus menatap ke arah pintu, berharap pelayan datang dan masuk ke sana. Namun, harapan Viona itu hanya akan menjadi angan-angan saja, karena sebelumnya Yoga berpesan agar tak diganggu selama satu jam ke depan lantaran hendak membahas bisnis yang sangat penting.
Matanya mulai berkilap oleh air mata, tetapi Viona menahan diri agar tidak terisak. Jiwanya berteriak pada dirinya sendiri di tengah ketakutan yang menyerbunya. Ia harus kuat, terus melawan sekuat tenaga dan jangan lemah.
“Saya tak menyangka, ternyata Anda adalah manusia brengsek!” hardik Viona penuh emosi.
Menggunakan tangan yang satunya lagi Yoga mencengkeram rahang Viona kencang, sejak pertama kali datang dia sudah tak sabar ingin mencicipi ranumnya bibir merah wanita mungil ini.
“Sebaikanya kamu diam! Mulutmu lebih cocok untuk kusesap daripada dipakai mengumpat!”
*****
“Ruangannya yang paling ujung sebelah kanan,” Mereka sampai di lorong dengan jejeran pintu-pintu privat dining room.
“Terima kasih.”
Dengan langkah seribu Bima menuju pintu paling ujung, sejak tadi ia terus menghubungi Viona namun tak kunjung diangkat, membuat rasa cemasnya makin memuncak.
*****
Dalam keputusasaan yang menerjangnya, Viona terus memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri menghindari bibir Yoga yang hendak menciumnya. Yoga kalap karena Viona tak berhenti melawan, nafsu binatangnya makin menggebu, di detik kemudian dia menarik bagian depan kemeja Viona dengan kencang hingga kancingnya berserak, sebelum suara gedoran di pintu mengalihkannya.
“Sialan! Berani mengganggu kesenanganku.”
“Tolong… tolong….” Viona menjerit-jerit sekencang-kencangnya, tak peduli jika ruangan itu kedap suara, hingga akhirnya suara dobrakan di pintu terdengar.
Yoga berjengit kaget kala melihat sosok yang muncul. Tubuh kokoh tinggi menjulang, kepalan tinju juga gigi menggertak, itu bukan Bima yang datang, melainkan singa marah.
Mata Bima menggelap oleh amarah kala melihat Viona yang sudah acak-acakan dengan baju terkoyak dihimpit di dinding. Ia merangsek masuk dan menarik Yoga disusul bogem mentah mendarat tak terelakkan, bertubi tubi tanpa jeda mengenai wajah juga perut Yoga.
“Keparat!” Bima menhajarnya tanpa ampun, tak memberi kesempatan pada Yoga untuk melawan.
“Sudah bosan hidup kau rupanya, Yoga! Berani-beraninya meletakkan tangan kotormu pada wanitaku!” pukulan demi pukulan kembali dilayangkan.
“Wanitamu? Jadi rupanya wanita sok suci ini adalah milik si mantan narapidana!” ejek Yoga dengan pongahnya, padahal saat ini tubuhnya terasa sakit di mana-mana.
“Tutup mulutmu keparat!” lagi-lagi Bima melayangkan tinjunya, sepertinya rahang Yoga bergeser kali ini, Yoga terkapar hingga tak mampu bangkit.
“Aku akan menuntutmu karena telah memukulku, mantan napi!” seru Yoga dengan wajah babak belur juga darah yang mengucur dari hidung.
“Tuntut saja! aku tidak takut!”
Bima segera membuka jasnya dan memakaikannya pada Viona untuk menutupi baju yang terkoyak.
"Ayo pergi dari sini."
Bima sudah tak ingin berlama-lama lagi di sana, jika tidak segera pergi mungkin saja dia kalap dan membunuh Yoga saat ini iuga. Bima hendak menggamit lengan Viona, tetapi Viona menahannya.
"Sebentar Mas." Dengan tatapan tajam penuh amarah, Viona mengambil gelas jus jeruk lalu menyiramkannya tepat ke wajah Yoga.
“Mas Bima memang mantan narapidana. Tapi Anda lebih buruk dari itu, merasa suci padahal aslinya sampah berbau busuk!” geram Viona marah tak terima.
“Sudah, kita pergi dari sini.” Bima segera menarik lengan Viona keluar dari sana meninggalkan Yoga yang terkapar di lantai.