
“Ayo, kita menikah, lagi,” sahut Viona serak lantaran tenggorokannya tercekat.
Rona bahagia menguar begitu saja di antara dua sejoli itu, rasa saling mengikat di hati mereka kini terasa lebih indah dari yang dulu. Mungkin apa yang terjadi pada mereka kini seumpama peribahasa, pelangi indah akhirnya datang setelah hujan badai menerjang.
Keduanya kembali saling memeluk satu sama lain. Sebetulnya Bima maupun Viona sama-sama paham, sentuhan terlalu dekat seharusnya tak boleh dilakukan mengingat mereka belumlah sah kembali. Namun, luapan rasa bahagia kadang membuat mereka lupa bahwa ikatan suci di antara keduanya belum tersambung lagi.
Pelukan pun diurai meski dalam hati Bima dan Viona enggan, mereka tahu tak seharusnya terlalu berdekatan secara fisik, takut khilaf melanda lalu terjerumus ke dalam lubang nista godaan bisikan syetan menyesatkan yang mengatas namakan cinta dan kerinduan.
“Eh, tapi tunggu. Mas mengajakku menikah, lalu bagaimana dengan Hana? Apa Mas sedang mendua seperti yang dilakukan buaya darat dan menjadikanku selingkuhan?” Viona melipat tangan di dada dan memicngkan mata pada Bima menuntut penjelasan.
Bima terdiam sejenak, lalu kemudian malah tergelak kencang. “Aku dan Hana tak punya hubungan semacam itu,” jawab Bima masih dalam sisa-sisa tawanya.
“Benarkah? Tapi beberapa waktu terakhir kulihat kalian sangat dekat, bahkan Hana memanggilmu dengan sebutan Mas.” Viona bersungut-sungut jengkel.
“Kamu cemburu?” ujar Bima.
“Ya, kuakui aku cemburu! Kenapa? Keberatan?” dengus Viona, sementara Bima malah tertawa lucu menaggapi reaksi galak Viona.
“Telingaku panas saat ada wanita lain yang memanggilmu dengan sebutan yang begitu akrab dan intim. Juga ketika ada wanita lain yang menempel padamu rasanya tanganku gatal dan ingin menghempaskan mereka sejauh mungkin,” jawabnya lugas mengakui, tak sungkan-sungkan meluapkan segala rasa tidak menyenangkan yang akhir-akhir ini sangat menganggunya, bahkan membuatnya tak mampu berkonsentrasi juga dilanda mimpi buruk.
“Hei, aku baru tahu ternyata saat cemburu kamu semakin cantik,” rayu Bima membujuk Viona yang menggerutu.
“Jangan menertawakanku!” serunya galak, tangannya terkepal dan memukul sisi dada Bima kesal, karena sejak tadi Bima terus saja tertawa kecil hingga matanya menyipit sembari memamerkan deretan gigi putihnya.
“Sebenarnya semua itu ide Hana?” ucap Bima seraya menggaruk hidungnya sekilas.
“Ide Hana? Maksudnya?” tanya Viona tak mengerti, bola mata indahnya bergulir penasaran akan jawaban Bima.
Bima bercerita pada Viona tanpa terkecuali, semua itu berawal kala dirinya mengetahui kabar rencana pertunangan Viona dengan Arjuna. Hana yang mencetuskan ide itu untuk mengetahui isi hati Viona, karena Bima sempat meragu meneruskan langkahnya untuk meraih asa tentang keinginannya merajut kembali ikatan suci yang telah dikoyaknya dulu.
“Aku dan Hana bekerjasama untuk mebuatmu cemburu. Hanya itu.”
“Hih… dasar ngeselin!” dengus Viona kesal.
“Maaf, jika hal itu membuatku kesal. Jangan cemberut, nanti bibirmu takkan selamat.” Bima menyipitkan matanya mesum, menjahili Viona serupa hobi baginya kini.
Viona melipat bibir berusaha mengulum senyum, jujur saja saat mengetahui Bima dan Hana tak memiliki hubungan spesial, bunga-bunga di hatinya bermekaran indah dan semerbak.
“Secepatnya aku akan datang ke rumah ayahmu dan bicara dengannya. Aku tahu bukan hal mudah meminta restu padanya yang pernah kecewa karena perbuatanku dulu, semoga beliau bersedia memberiku kesempatan kedua untuk mebahagiakan putri tersayangnya. Menebus semua hal yang dulu kusia-siakan. Aku ingin kita bisa segera kembali bersama sebagai keluarga yang utuh. Aku, kamu dan juga putri cantik kita Nara, dan juga mungkin, adik Nara.” Bima berkata penuh keyakinan.
Wajah cantiknya kembali merona. Bohong jika Viona tak tersentuh juga bahagia mendengar Bima hendak memperjuangkannya setulus hati. Senyumnya merekah melebihi adonan roti yang dicampur ragi, cerminan luapan rasa bahagia di kalbunya saat ini.
Namun, mendadak terlintas tentang Juna, Viona sempat lupa perihal urusannya dengan Juna yang masih menggantung.
“Sebelum Mas menemui ayah, aku ingin menyelesaikan dulu urusanku dengan Juna. Setelah itu, barulah kita menghadap ayah untuk memohon restu. Aku akan berbicara dengannya, semoga bisa secepatnya, karena akhir-akhir ini Juna tengah sibuk dengan perusahaannya jadi agak sulit bertemu dengannya.
“Aku temani,” ucap Bima sambil mengusap sayang kepala Viona.
“Untuk hal ini, biar aku sendiri yang bicara dengannya. Bagaimanapun juga, selama ini Juna sudah banyak membantuku, setidaknya aku ingin membatalkan rencana ini dengan cara baik-baik, meski kutahu pasti tanggapan Juna takkan baik. Kuharap Mas mengerti.”
Bima mengangguk. “Aku percaya bahwa kamu mampu menyelesaikannya, jika terasa menyulitkan, jangan ragu meminta bantuanku. Semoga Juna bisa menerima semua kenyataan ini dengan lapang dada.”