
Sesampainya di rumah sakit Nara segera dibawa ke UGD, Viona berteriak-teriak seperti orang gila dengan Nara dalam gendongannya. Dokter jaga segera memberikan pertolongan pertama, sementara salah seorang perawat ditugaskan untuk memanggil dokter anak di polinya yang kebetulan masih berada di tempat selepas praktik jam sore.
“Dokter, Anak saya kenapa?” Viona terisak-isak sambil terus memegangi tangan Nara, sejak bayi baru kali ini Nara sakit sampai seperti ini.
“Ibu tenang dulu, kami sedang memeriksanya dengan saksama,” jawab dokter anak berhijab itu ramah.
“Panasnya baru hari ini, jadi kami belum bisa mendiagnosa dengan pasti penyebab panas dan muntahnya, paling cepat besok sore atau lusa pagi baru bisa dipastikan melalui test darah. Tapi karena anak Anda muntah hebat, jadi sebaiknya di rawat inap agar kondisinya terus terpantau."
“Baik Dokter. Tolong, lakukan yang terbaik untuk Anak saya.”
Tangan Viona gemetaran, jujur saja ia terkejut luar biasa juga merasa bersalah. Apakah mungkin karena dirinya dikurung sehingga anaknya kurang mendapat perhatian darinya sehingga jatuh sakit?
“Kami akan menyiapkan kamar rawat inap khusus anak-anak. Setelah siap nanti Anak Ibu akan langsung dibawa ke sana, mohon tunggu beberapa saat. Dan sebentar lagi akan ada perawat yang memasangkan selang infus. Saya permisi sebentar.”
“Terima kasih, Dok.”
“Bunda….” erang bocah itu parau, bahkan kelopak sekitar matanya mulai sedikit bengkak akibat suhu tinggi yang menderanya.
“Sayang, ini Bunda.” Viona membungkukkan posisi tubuhnya di sisi ranjang UGD, menggendong Nara dan mengusap-usap punggung mungil anaknya.
Tak lama datanglah dua perawat membawa peralatan infus. Nara yang belum pernah di opname sebelumnya, menjerit-jerit histeris kala melihat jarum infus hendak dipasangkan.
Viona terus membujuknya dan mengatakan semuanya akan bak-baik saja, begitu juga Rima dan Abdul yang juga mencoba membujuk namun tak berhasil. Nara meronta-ronta, dan menangis kencang.
“Nggak mau… nggak mau. Ayaaah… ayaaah, mau ayaaah….”
Nara terus menjerit-jerit histeris hingga terbatuk-batuk, matanya merah berair serta peluh membanjiri pilipisnya.
“Bu mohon maaf, anaknya harus ditenangkan dulu. Jika mengamuk begini kami tak bisa memasangkan jarum infusnya, khawatir berisiko, apalagi pembuluh anak-anak sangat kecil,” pinta si perawat sopan.
“Saya akan mencoba membujuknya lagi, tolong bersabar Suster,” mohon Viona.
“Silakan Bu, atau mungkin jika Ibu mau bagaimana kalau dipegangi sama-sama, sedikit dipaksa jika tak kunjung tenang,” tawar si suster hat-hati.
“Tidak usah Sus, saya tak mau jika nantinya dia trauma karena dipaksa. Saya akan membujuknya.”
“Baik Bu.” si perawat menyingkir sedikit menjauh memberi ruang pada pasien dan ibunya.
Viona mencoba kembali membujuk dan menenangkan Nara yang histeris ketakutan. Berbagai cara dilakukannya, hingga sepuluh menit berlalu Nara masih tetap ketakutan, bahkan air yang tadi diminumnya kini dimuntahkan kembali.
“Sayang, Anak Bunda, Anak baik. Mau ya, dipasang infusnya, nggak apa-apa kok, kan ada Bunda di sini, biar cepet sembuh. Atau Nara mau minta apa? Akan Bunda penuhi apapun itu asal Nara mau diinfus," bujuknya penuh sayang.
“Mau Ayah… mau ada ayah sekarang, mau sama ayah sama Bunda,” pintanya dengan isak tangisnya yang mulai melemah di pelukan Viona.
Viona meraba cardigan yang dipakainya, beruntung ponsel Bima ada di dalam saku cardigannya yang tadi secara refleks dimasukan ketika pelayan memasuki kamarnya.
“Nara mau ayah datang sekarang, hmm?” tanya Viona sembari mengusap wajah basah sang anak.
Abdul membeliak melihat Viona sedang memegang ponsel. Ia hendak merangsek dan merebutnya, hanya saja Rima buru-buru menahannya.
Viona menempelkan ponsel di telinganya, meski tahu Abdul tengah menghunuskan tatapan tajam padanya.
“Mas, tolong datang sekarang juga ke rumah sakit Ananda. Nara sakit dan harus dirawat inap. Nara ingin kamu ada di sini, Tolong cepat dan hati-hati.”
“Suster tunggu sebentar lagi sampai ayahnya datang."
Kedua perawat itu mengangguk kemudian membantu membersihkan muntahan Nara.
“Untuk apa kamu memanggilnya? Ayah sudah menelepon Juna dan dia kebetulan sedang perjalanan pulang ke Bandung, paling setengah jam lagi dia akan sampai. Tak perlu kamu memanggil mantan suamimu itu, Juna pun bisa menjadi ayahnya Nara.” Abdul masih saja beriskeras.
“Tapi yang Nara butuhkan itu Mas Bima!” jerit Viona putus asa. “Ayah kumohon, Nara sakit, dia butuh ayahnya. Dia butuh Mas Bima.”
Air mata yang sejak tadi ditahannya meluncur bebas di wajah Viona, ia bahkan berpegangan pada pinggiran ranjang UGD untuk menopang tubuhnya yang juga tak baik-baik saja.
“Yah, Ibu mohon. Ini rumah sakit, jangan ribut di sini. pikirkan cucu kita.” Rima mengelus pundak Abdul mengingatkan, berharap suaminya melunak. Lalu matanya menatap nanar pada anak dan cucunya. “Lebih baik kita berdua shalat Maghrib dulu."
****
Dalam waktu lima belas menit Bima sampai di rumah sakit yang disebutkan Viona. Ia bahkan masih memakai baju koko karena tadi Viona mengabarinya saat dirinya baru saja selesai shalat Maghrib. Melajukan mobilnya seperti orang kesetanan saat mendengar buah hatinya sakit.
Bima berlarian hingga derap sol sepatunya berbunyi nyaring di selasar rumah sakit. Dari luar pintu UGD Bima melihat keberadaan Viona juga Nara dan segera menerobos masuk. Dadanya kembang kempis, rambut Bima tamak acak-acakan.
“Nara.” Bima langsung menghampiri Viona yang tengah menggendong sang anak.
Viona bernapas lega dan bocah itu mengerjap. “Mas,” sapa Viona parau.
Bima memeluk keduanya tak peduli pada sekitar. Ingin rasanya Viona menangis di pelukan Bima, tetapi sekarang bukan saatnya, saat ini ia harus fokus pada buah hatinya.
“Ayaah….” Panggil Nara manja dengan suara seraknya karena tenggorokannya sakit akibat muntah terus menerus, membuka kedua tangannya ingin digendong.
“Iya sayang, ini Ayah.” Bima meraup Nara ke dalam dekapannya, mengecupinya dan memeluknya.
“Nah, sekarang Ayah sudah datang, Nara mau ya, dipasang infusnya sama suster?” bujuk Viona sambil merapikan rambut anaknya.
“Iya, kalau ada Ayah mau.”
Benar saja, setelah Bima datang, Nara tak histeris lagi ketika melihat jarum infus dipasang di punggung tangannya, bocah itu hanya meringis kecil dan menyelusup di pelukan ayahnya.
“Mas, titip Nara sebentar. Aku mau shalat dulu.”
“Pergilah, jangan khawatir.”
Nara kini sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap dengan kamar fasilitas terbaik. Obat sudah diberikan lewat selang infus karena Nara masih saja muntah jika menelan apapun. Viona dan Bima sama-sama berdo’a agar anak mereka segera sembuh kembali.