Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Puncak



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca.... 😘💕


*****


Viona bersiap-siap untuk berangkat dan berdandan dengan cantiknya. Dirinya begitu bersemangat layaknya anak gadis yang hendak berkencan untuk pertama kalinya dengan sang pacar.


Ia memakai terusan ibu hamil berwarna peach polos, tas selempang warna hitam dengan tali rantai silver serta sepatu flat shoes berwarna senada yang menyempurnakan penampilannya.


Bima berdecak kagum melihat kecantikan wanita yang tengah mengandung anaknya itu, sorot matanya yang dulu datar dan dingin kini berubah menjadi lebih hangat dengan binar riak-riak cinta saat memandangi Viona.


Mungkin karena mereka dijodohkan tanpa penjajakan, maka rasa membuncah dan menggelitik di hati itu baru hadir setelah melewati beberapa jalan terjal yang dilalui Bima, meskipun sekarang di depannya ia dihadapkan dengan jurang curam yang siap menjatuhkannya hingga ke dasar.


"Kenapa Mas ngeliatin aku kayak gitu?" Viona menghampiri dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Bima yang sejak tadi terus memaku pandangannya lurus ke arahnya.


Bima terperanjat, mengusap-usap tengkuknya kikuk dan semburat merah tampak membaur di tulang pipinya. "Ah ... it-itu, karena ... karena kamu cantik. Sangat cantik," ujarnya dengan tatapan memuja.


Viona berdehem dan tersipu malu. Meskipun Bima adalah suaminya, tetapi tetap saja dipuji cantik secara terang-terangan membuatnya merona-rona. Ia juga jadi salah tingkah, mengigit bibirnya sambil sesekali mencuri pandang ingin melihat ekspresi Bima.


Bima merengkuh Viona ke dalam pelukannya dan merapatkan tubuh mereka. "I love you, Viona," ucapnya dengan mata terpejam disusul kecupan mesra di pelipis istrinya itu.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Viona membalas pelukan Bima sama hangatnya. Kemudian terdengar isakan kecil cerminan rasa haru yang memenuhi relung hati Viona, merasa bersyukur karena ia kini merasakan dicintai dan mencintai.


Bima mengurai pelukan, menangkup kedua sisi wajah dan mengecup kelopak mata indah Viona yang basah karena air mata.


"Kenapa menangis?" tanya Bima lembut.


"Jika bahagia tersenyumlah sayang, jangan menangis." Bima mengangsurkan jemarinya menghapus butiran bening yang bergulir di pipi mulus Viona.


"Ini adalah air mata bahagia, Mas." Viona berjinjit dan mengecup bibir Bima sekilas.


Bima tersenyum merekah dengan tampannya. Sebuah guratan yang sangat jarang terukir di wajahnya, karena lebih sering didominasi oleh ekspresi datar dan dingin. Efek dari barang haram yang dikonsumsinya terkadang mengambil alih nalarnya sehingga hanya kegelisahan yang tergambar dari raut wajahnya.


"Ayo kita berangkat sekarang. Nanti kesorean," ajak Bima. Ia merangkumkan jemarinya dengan jemari Viona dan mereka melangkah keluar bersama dari kamar.


*****


Mereka berdua sampai sekitar pukul empat sore di sebuah villa yang sudah dipesan Bima sebelum berangkat. Sebuah villa yang menyajikan eloknya pemandangan hamparan hijau pepohonan serta kokohnya Gunung Gede yang menjulang tinggi dengan indah nan anggun.


"Kamu suka," tanya Bima tepat saat mereka turun dari mobil.


"Dari sini ... pemandangannya bagus banget Mas. Aku suka," cicit Viona yang tengah mengamati sekeliling mengagumi keindahan ciptaan Tuhan dengan mata berbinar.


Bima memeluk dari belakang dan menopangkan dagunya di pundak Viona. Semilir angin menambah syahdunya sore itu. saat ini Bima hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Viona yang entah sampai kapan akan bertahan. Perbuatan salahnya ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja untuk meluluh lantakkan rasa manis pernikahan yang belum lama dicicipinya.


"Tapi bagiku, kamu lah yang membuat suasana di sini lebih indah. Vionaku bahkan lebih cantik dan lebih indah dari hamparan bunga-bunga di sana." Bima mengarahkan telunjuk ke arah hamparan bunga berwarna-warni yang tak jauh dari sana.


Viona terkekeh pelan, makin hari suaminya ini semakin pandai merayu juga bertambah manis.


"Dasar gombal," ujar Viona dengan wajah merona sembari melipat bibir menahan senyum.


Dua sejoli itu menikmati sore liburannya sambil berbincang ringan diselingi candaan. Tawa Viona berderai lepas, dan Bima memilih tidak peduli akan beban berat yang ditumpahkan di pundaknya yang terus menuntut penyelesaian. Di waktu liburannya ini, ia hanya ingin menikmati dan meneguk sebanyak-banyaknya manisnya madu cinta dengan Viona yang entah sampai kapan masih bisa dicicipinya.