Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Mulai Memburuk



Liburan mereka sudah memasuki hari ke sepuluh. Sejak beberapa hari yang lalu Viona meminta untuk menyudahi liburan mereka dan kembali ke Kota Bandung, tetapi Bima terus berdalih dan bersilat lidah meyakinkan istrinya untuk tinggal lebih lama lagi dengan beribu alasan.


Namun, akhir-akhir ini perangai Bima mulai kembali kasar seperti dulu, emosinya sering meledak-ledak bahkan terkadang sangat parah. Saat Viona bertanya apa penyebab dari moodnya yang naik turun, Bima hanya menjawab karena masih butuh berlibur membuat dirinya terkadang lepas kontrol, padahal penyebab sebenarnya adalah karena efek kecanduannya yang mulai memburuk.


Seperti tadi malam, Nara terbangun tengah malam dan terus merengek rewel lumrahnya bayi seusianya. Anaknya tak mau menyusu dan terus menangis, Viona juga mencoba menenangkan dengan mengayun-ayunkan Nara di dalam gendongannya sambil berjalan-jalan di dalam kamar. Biasanya Bima akan ikut membantu menenangkan putri kecilnya, tetapi kali ini dia malah membentak Viona dengan kasar.


"Bisa ngurus anak gak sih? Itu kenapa Nara nangis terus, sebagai ibunya bikin dia diem dong. Masa gitu aja gak becus, aku jadi gak bisa tidur!" dengus Bima dengan suara meninggi, efek buruk kecanduannya mulai mengambil alih nalarnya dan mengendalikan akal sehatnya.


Viona sampai berjengit kaget, jujur saja dia merasa sakit hati dibentak semacam itu. Nara adalah permata berharganya buah hatinya, anak mereka berdua, tetapi kenapa Bima sampai hati melontarkan kalimat semacam itu dengan lugas tanpa memikirkan perasaannya.


"Mas, Nara itu masih bayi. Belum bisa mengatakan kepada kita apa yang diinginkan dan dirasakannya, hanya dengan menangis cara dia memberi tahu kita. Dan sebagai orang tua tugas kita adalah selalu bersabar dan berusaha memahami apa yang membuatnya menangis, bukan malah membentaknya," balas Viona tak terima dirinya diperlakukan seperti itu.


"Terserahlah! Ibu dan anak sama saja. Cuma bisa berisik!" Bima menyambar bantal dan selimut lalu keluar dari kamar seraya membanting pintu dengan kencang hingga berdentam. Ia berpindah merebahkan diri di sofa tanpa memperdulikan kalimatnya tadi telah melukai istrinya.


Viona terisak, begitu juga Nara yang menangis semakin kencang. Bayi mungil itu seolah mengerti, bahwa ibunya tengah terluka hati. Didekapnya dan diayunkannya Nara dengan lembut sembari diciumi, serta dibisikkan kata-kata penuh cinta ke telinganya.


Buliran kristal bening mulai membasahi wajah Viona, dia berusaha menahan tangisnya agar tak menyembur keluar. Seakan paham dengan perkataan ibunya, bayi itu mulai tenang dan memberi isyarat bahwa dirinya kehausan. Viona segera menyusuinya, hingga akhirnya Nara kembali terlelap di pelukannya.


*****


Kumandang adzan subuh membangunkan Viona. Kepalanya luar biasa berat ditambah dengan kelopak matanya yang terasa bengkak sepertinya semua itu efek menangis semalam.


Setelah selesai membersihkan diri dan menunaikan shalat, Viona keluar dari kamar untuk membangunkan Bima. Meskipun hatinya masih menyembilu atas sikap suaminya semalam, tetapi dia tetap harus mengingatkan Bima untuk melaksanakan ibadah.


Alangkah terkejutnya Viona, ketika hendak membangunkan dia mendapati Bima tengah menggigil dengan wajah memucat, bahkan giginya gemeletuk dan bibirnya gemetaran seolah menahan sakit tak terperi. Viona terkesiap luar biasa dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba sakit padahal semalam masih baik-baik saja.


"Mas... Mas Bima, kamu kenapa Mas?" tanya Viona penuh kecemasan.