Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Bima



Flashback on


Saat sampai di apartemen waktu itu, Bima mengetuk pintu dan seseorang membukanya dari dalam, Bima tersenyum merekah, lalu melangkah masuk dan pintu kembali tertutup rapat.


"Hhh ... seperti biasa, kamu selalu datang seenaknya," ucap Reva. Wanita itu memicingkan matanya pada Bima, membuat Bima terkekeh pelan disambut seperti itu.


"Karena hanya kamu yang paling mengerti aku," sahut Bima sambil mendudukkan dirinya di sofa empuk berukuran besar berbentuk melengkung yang terdapat di ruangan televisi apartemen tersebut. Satu set sofa berwarna hitam dilapisi kain oskar yang nyaman, kemudian Reva menyusul duduk di sebelahnya.


Bima sedikit terkejut, baru menyadari ternyata diseberang sofa ada orang lain. Seorang wanita dan satu orang laki-laki yang belum pernah ia lihat sebelumnya tengah duduk di sana sambil menghisap rokok mereka.


"Bim, kenalkan. Ini teman-temanku, mereka juga pelangganku sama sepertimu, kamu tidak keberatan kan kalau mereka juga ikut bergabung? Karena mereka juga merasa lebih aman jika menggunakannya di sini," jelas Reva, sementara tangannya menuangkan minuman ke dalam gelas kaca yang berisi es batu lalu ditaruhnya gelas itu ke hadapan Bima.


Bima mengerutkan keningnya, ia menatap ke arah Reva seolah tidak suka dengan kehadiran orang yang tak dikenalnya di dalam ruangan yang sama. Reva sudah sangat mengenal Bima dan langsung mengerti ketidak nyamanan laki-laki itu.


"Bim, kamu tenang saja, mereka bisa dipercaya jadi jangan khawatir. Tetap lakukan dengan nyaman seperti biasanya di sini oke." Reva berusaha meyakinkan Bima. "Tunggu sebentar aku akan ambilkan yang kamu butuhkan." Reva bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.


Bima bersalaman dengan dua orang yang sejak tadi menatap ke arahnya, si wanita menatapnya dengan tatapan menggoda, ditambah dengan penampilan Bima yang memakai barang bermerek dari kepala hingga ujung kaki membuat mata wanita itu berkilat penuh minat.


Reva kembali duduk di samping Bima dan menyerahkan barang yang di maksud. "Ini adalah kualitas terbaik, jenis terbaru. Aku yakin kamu pasti menyukainya."


Reva menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang disambut penuh suka cita oleh Bima, matanya berbinar, dengan tidak sabaran membuka bungkusan itu dan segera mencicipinya terburu-buru.


Sudah beberapa tahun terakhir ini Bima diperbudak oleh barang tersebut, baginya itu seperti nyawa kehidupannya, jika tidak mendapatkannya maka ia akan naik pitam tanpa tahu tempat.


Bahkan baginya, barang itu lebih menarik dibandingkan dengan wanita. Jika disajikan dua pilihan di depannya, maka ia akan lebih memilih barang laknat itu dibandingkan wanita cantik yang tersaji di hadapannya.


Barang haram itu adalah segalanya bagi seorang Bima, maka dari itu saat terdengar kabar bahwa Bima menikah, teman-teman dekatnya yang mengetahui siapa dirinya merasa kaget dengan kabar tersebut.


Setahu mereka, Bima adalah sosok yang dingin pada wanita, saat akhir pekan pun ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengkonsumsi obat tersebut daripada pergi berkencan.


Dulu Bima pernah tertangkap basah oleh kedua orang tuanya. Sempat direhabilitasi secara tertutup dengan ketat, orang tuanya tidak membiarkan kabar aib itu bocor ke publik dan menutupinya rapat-rapat untuk melindungi nama baik keluarga.


Mereka tidak ingin jika putra mereka yang juga menjadi satu-satunya pewaris perusahaan terlibat skandal hingga terendus publik yang akan berdampak pada hancurnya reputasi keluarga dan juga perusahaan.


Bima dinyatakan sembuh dari ketergantungannya. Orang tuanya mengultimatum, jika Bima tidak menghentikan kebiasaan buruknya, mereka mengancam akan menariknya dan melengserkannya dari perusahaan serta didepak dari silsilah keluarga jika ia kembali mencicipi barang terlarang tersebut.


Reva sengaja membujuk Bima dengan segala upaya untuk kembali ke dalam kubangan laknat itu karena Bima adalah tambang emas baginya. Jika Bima sudah kembali diperbudak oleh barang tersebut maka dipastikan berapapun angka nominal yang Reva minta akan disanggupi oleh Bima.


Kali ini Bima mencicipinya dengan tergesa-gesa dan tidak sabaran, mungkin karena jenis yang diminumnya adalah jenis terbaru, membuat ia kehilangan setengah kesadarannya.


Si wanita temannya Reva berpindah duduk ke samping Bima dan merapatkan tubuh padanya. Bima yang tengah linglung dan matanya berkunang-kunang mengira bahwa wanita yang ada di sampingnya itu adalah Viona. Bima merangkulnya, lantaran wanita itu mempunyai model rambut yang sangat mirip dengan istrinya.


Tentu saja dengan senang hati wanita itu membalas rangkulan Bima, dengan tidak sabaran Bima memagut bibir wanita tersebut dan menciumnya. Reva yang baru saja kembali duduk di sofa dan melihat adegan itu malah tersenyum menyeringai.


Reva memberi isyarat untuk membawa Bima ke sebuah kamar yang terletak di sebelah kamarnya. Dengan senang hati si wanita itu segera memapah Bima untuk berjalan ke sana.


Reva sengaja membiarkan temannya memanfaatkan situasi ini, ia memang sedang mencari cara agar bisa mengendalikan Bima dalam genggamannya.


Bima yang saat ini benar-benar sudah tidak bisa membedakan dan mengira bahwa yang dipelukannya adalah Viona, langsung menerjang wanita itu ketika mereka masuk ke dalam kamar. Tanpa basa basi lagi akhirnya terjadilah hal yang tak pernah dibayangkannya akibat pengaruh barang haram tersebut.


*****


Langit sudah gelap, jam di dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Bima mengerjapkan matanya, rasa sakit yang hebat menghantam kepalanya membuat matanya terasa berat untuk terbuka.


Bima hendak bangkit dari tidurnya, tetapi ia merasakan ada lengan yang memeluknya erat. Bima mencoba meraih kesadarannya dan saat matanya terbuka sempurna ia melihat seorang wanita yang sedang bergelung di dadanya. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan ini bukanlah kamarnya.


Bima mencoba mengingat kejadian sebelumnya, ia langsung tersadar bahwa tadi sore datang ke apartemen Reva, dan setelah meminum obat jenis baru itu kesadarannya mulai terbagi.


Bima melihat dengan teliti siapa wanita yang memeluknya, dari rambutnya mirip sekali dengan Viona. Ia mengamati dengan seksama di keremangan kamar itu, lalu Bima membelalakkan matanya. Wanita ini adalah temannya Reva, dan saat ia melihat ke bagian bawah tubuhnya ternyata mereka tengah bergelung dalam satu selimut tanpa sehelai benangpun.


Bima menyingkirkan tangan yang memeluknya dengan kasar membuat wanita itu terbangun dan mencoba menahan Bima.


"Hei mau kemana?" panggil si wanita itu dengan suara serak.


"Bukan urusanmu!" serunya ketus.


Bima beranjak bangun, memungut pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya secepat mungkin. Ia keluar dari kamar dan mendapati Reva dengan teman prianya tengah terlelap sambil berpelukan di atas sofa dalam keadaan yang tidak senonoh.


Bima segera pergi dari apartemen Reva dan menutup pintunya dengan kencang. Berlari ke basemen kemudian langsung tancap gas pulang menuju ke rumahnya.