
Tak berlama-lama, mobil Bima mundur memutar keluar lagi dari basemen restoran. Menginjak pedal gas masih dengan posisi Viona di pangkuannya. Viona memeluknya erat enggan melepaskan, meneggelamkan wajahnya di ceruk leher Bima sambil sesekali mengecupi leher suaminya itu setengah menyesap berbalut hasrat yang tak ditutup-tutupi.
“Sabar, sayang. Hmm?” Bima menggeram akibat ulah nakal istrinya, segera melaju mencari hotel terdekat.
Dalam kurun waktu lima menit mereka sampai di tempat tujuan. Dengan segera Bima memarkirkan kendaraannya serampangan hingga menciptakan bunyi nyaring dari decit ban yang beradu dengan lantai parkir hotel.
“Ayo,turun. Sudah sampai.”
Viona menegakkan tubuhnya. Matanya semakin diliputi kabut gairah yang kini tengah naik membumbung tinggi. Ia mengecup sekilas bibir Bima sebelum turun dari mobil.
Bima memesan kamar secepat yang ia bisa. Karena istrinya seperti hendak menerjangnya dan menelannya bulat-bulat tanpa peduli sekitar. Begitu kartu kunci didapat, mereka tak membuang waktu dan segera menuju lantai lima. Di dalam lift Viona bahkan tak sabar meraba-raba dada bidang suaminya dari luar kemeja, beruntung lift kosong dan Bima hanya tertawa kecil lalu mengecup gemas puncak kepala Viona sekilas. Jujur saja ini adalah pertama kalinya istrinya bersikap begitu agresif.
Kartu kunci dipindai di pintu kamar 504. Begitu masuk dan pintu tertutup, tanpa basa basi Viona langsung menerjang suaminya yang sejak tadi begitu seksi menggoda di matanya. Ia memagut bibir dengan rakus yang dibalas Bima sama bergairahnya, jujur saja sejak di basemen restoran tadi ia sudah tersulut hasratnya sehingga sesuatu dalam dirinya ikut memberontak.
Decapan dua bibir yang saling membelai dan memagut begitu nyaring terdengar. Deru napas Viona memburu, terengah-engah di sela-sela pagutannya, tetapi enggan berhenti seolah tengah kehausan. Ingin disirami manisnya madu asmara dan berkubang di sana sepuasnya.
Viona membuka dasi serta kemeja Bima tak sabaran dan menurunkan resleting celana. Ia juga melucuti pakaiannya sendiri dengan tergesa-gesa lalu melemparnya sembarang ke lantai.
Digendongnya Viona menuju ranjang. Bima membaringkannya tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Viona yang biasanya malu-malu berubah ganas dan begitu berhasrat. Bahkan desahannya menggema lebih keras. Keduanya lagi-lagi saling memberi dan menerima. Mengejar kenikmatan surga dunia demi pemenuhan nafkah batin masing-masing.
Sekitar satu jam mereka bergumul, dari pukul sebelas tiga puluh sampai pukul dua belas lebih. Durasinya lebih singkat dari biasa yang mereka lakukan. Bima semaksimal mungkin memuaskan hasrat istrinya yang mendadak mengebu-gebu dalam waktu satu jam saja. setelahnya mereka segera membersihkan diri, menunaikan shalat dan menyantap makan siang di kamar hotel. Viona yang kelelahan dan kekenyangan terbuai kantuk, memilih menjatuhkan kepalanya di bantal dan memasrahkan diri dalam lelap.
“Adrian, aku tak akan kembali ke kantor. Tolong tangani semua masalah perusahaan untuk hari ini, kecuali jika terjadi hal darurat segera hubungi aku. Dan satu lagi, tugaskan beberapa orang yang terpercaya di bidangnya untuk membuntuti istriku mulai besok, beberapa hari ini dia bergelagat aneh. Aku khawatir terjadi hal-hal yang membuatnya stress.”
Bima yang berdiri di dekat jendela mematikan sambungan teleponnya, kembali menatap lekat-lekat pada Viona yang tertidur pulas. Terselip rasa cemas di hatinya, takut terjadi hal buruk yang Viona sembunyikan darinya sehingga membuat istrinya tertekan dan melampiaskannya melaui nafsu yang menggebu.
Bima bergabung naik ke atas ranjang, memeluk wanitanya dan ikut memejamkan mata.
Viona tengah mengaplikasikan toner di kulit wajah mulusnya selepas ritual rutin membersihkan diri di kamar mandi sebelum naik ke peraduan. Ia menyapukan kapas basah ke seluruh wajah cantiknya, menepuk-nepuk dengan lembut hingga meresap sempurna dan disusul dengan mengoleskan krim malam secara merata.
“Mas, aku pengen banget pakai kemejamu. Boleh ya?” pinta Viona tiba-tiba dengan nada memelas. Ia masih duduk duduk di meja riasnya menghadap cermin.
“Boleh-boleh aja. Tapi kenapa?” sahut Bima yang sedang duduk berselonjor di ranjang.
Ia menghentikan kegiatannya yang sedang membaca berita malam di aplikasi berita terkini dan terpercaya. Menaruh ipad yang dipegangnya dan turun dari kasur menghampiri istrinya yang masih terbalut bathrobe.
“Nggak tahu, pokoknya pengen aja. Mulai sekarang aku ingin tidur memakai kemeja Mas. Boleh kan?" Viona memutar posisi duduknya, dan menatap Bima dengan bola mata indahnya penuh harap.
Kening Bima mengernyit samar. Akhir-akhir ini istrinya bertindak di luar kebiasaannya. Seperti halnya tadi siang saat Viona menerjangnya tiba-tiba.
“Pakailah sebanyak yang kamu mau. Semua milikku adalah milikmu, istriku.” Bima mengusap sayang kepala Viona dan mengecup keningnya mesra.
Viona begitu gembira tak ubahnya anak kecil yang mendapat mainan baru. Mengambil salah satu kemeja Bima yang berwarna putih dari lemari dan memakainya penuh sukacita, memuja baju itu dengan tatapan berbinar layaknya gaun cantik rancangan para professional. Ia naik ke peraduan, bergelung dipelukan Bima dengan senyum mengembang.
“Selamat tidur suamiku.” Viona mengecup rahang Bima lalu balas memeluknya.
“Tidurlah.” Bima mengusap sayang kepala Viona hingga kemudian embusan napas istrinya terdengar halus teratur menandakan Viona sudah terlelap dan terbuai mimpi.
Bima mendesah bimbang. Rasa kantuk sama sekali tak menyapanya. Semakin larut matanya kian nyalang. Tingkah Viona yang mulai aneh membuat kecemasannya memuncak.
Sebenarnya ada apa dengan Viona?