
Pukul Sembilan malam, Nara sempat mengamuk karena tak mau tidur ditemani pengasuh dan ingin tidur di kamar Viona sementara sang kakek melarangnya. Setelah menangis hampir satu jam lamanya barulah Abdul luluh dan mengizinkan cucu tersayangnya tidur di kamar di mana Viona dikurung.
Pengasuh membawanya ke atas. Kemudian setelah mengantar Nara masuk tak lupa ia mengambil nampan bekas makanan Viona. Abdul tampak senang melihat isi nampan hanya tinggal mangkuk-mangkuk kosong tak seperti sebelumnya, mungkin anaknya mulai menyerah, pikirnya.
Malam semakin larut, Abdul duduk bersandar di atas tempat tidurnya dengan buku di tangan. Rima menghela napas panjang beberapa kali sebelum ikut bergabung ke ranjang. Ia duduk di dekat kaki Abdul dan memijat kaki suaminya.
“Ayah belum mengantuk?” tanyanya sambil tersenyum.
“Belum, mungkin karena setelah makan malam tadi minum kopi hitam. Jadinya kantuk belum menjemputku untuk tertidur,” sahutnya dengan nada biasa lagi, tak keras seperti tadi siang. Suasana hati Abdul membaik selepas melihat nampan kosong dari kamar Viona tadi.
“Yah, masih ingatkah dulu ketuka Viona lahir? Itu adalah saat paling bahagia dalam hidup kita, benar kan?" Rima berujar sambil terus memijat.
Abdul menaruh buku dan membuka kacamatnya. “Tentu saja, Ayah takkan pernah lupa. Permata cantik pembawa keberkahan lahir menyempurnakan kehidupan kita,” sahutnya.
Pikiran Abdul kembali menerawang ke masa lalu, di mana pertama kalinya ia menggendong dan mengadzani Viona yang masih merah. Rasa haru juga bahagia membuncah-buncah, memenuhi seluruh dirinya.
Setelah kelahiran Viona usaha frozen food yang dirintisnya dari bawah pun mulai menanjak naik, perlahan tapi pasti. Viona seperti berkah baginya, hingga beberapa tahun berselang, produk frozen foodnya merambah ke luar pulau Jawa hingga menyebar ke seluruh nusantara.
Segala yang terbaik ia curahkan untuk putri tercintanya, dan merasa begitu beruntung karena Viona tumbuh menjadi anak yang penurut, tak pernah menuntut juga menjadi kebanggan akan segudang prestasinya di bidang tata busana. Hingga puncaknya saat dijodohkan dengan Bima pun Viona mnerima semuanya tanpa bantahan.
“Kita beruntung bukan, mempunyai anak sebaik Viona?” Rima kembali menyambung kalimatnya.
Rima mengulas senyum di tengah gejolak batinnya, menatap sendu pada sang suami. Ia tahu Abdul jadi begini lantaran pernah kecewa, lebih tepatnya kecewa pada dirinya sendiri, merasa pernah gagal akan pilihannya hingga membuat anaknya pernah terpuruk. Hanya saja ia lupa, bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan manusia merupakan suratan takdir dari Yang Mahakuasa, pasti selalu ada hikmah di balik setiap kejadian bagi orang-orang yang berpikir.
Sekarang Abdul menjadi lebih keras kepala juga bukan tanpa alasan, saking sayangnya pada Viona dan tak ingin anaknya terluka untuk yang kedua kalinya membuat Abdul lupa, bahwa kini ia tengah mengulang kisah yang sama dengan dalih demi kebaikan Viona.
Tanpa disadarinya ia jadi memaksakan kehendak, juga membuat Abdul menutup mata pada ketulusan Bima. Masih belum bisa menerimanya meski jauh di lubuk hatinya ia mengakui dan tersentuh dengan usaha Bima untuk menjadi insan yang lebih baik lagi sekarang.
Namun, semua itu tak cukup, karena kini ada kumbang lain yang lebih menarik untuk disandingkam dengan bunga indah tersayangnya.
“Ibu tahu, Ayah selalu berusaha memilihkan yang terbaik untuk Viona. Tapi, sebagai orang tua, pada siapa anak kita jatuh cinta dan menambatkan hati apakah harus pada seseorang yang kita pilihkan juga? Sedang perasaan anak kita bukanlah barang yang bisa diatur sesuai kehendak kita di mana ingin meletakkannya." Rima kembali bersuara, sedang Abdul tak menimpali.
"Viona dan Bima kini saling mencintai saling terpaut hati bukankah semua itu gara-gara kita juga? Awalnya mereka tak saling mengenal, apalagi saling cinta, tapi melalui kita juga lah akhirnya rasa itu bersemi, terlebih lagi mereka sudah memiliki buah hati. Kita juga ikut andil membuat rasa di hati mereka tumbuh dengan suburnya, lantas, apakah tidak terlalu kejam, jika kini kita berusaha membunuh rasa yang bersemi indah di antara keduanya. Dan apakah ladang yang tumbuhannya dicabut paksa akankah mampu menumbuhkan benih cinta lain sama baiknya dengan yang dibuang? Sementara ladang hati tersebut sudah pasti menjadi tandus juga gersang lantaran sumber kehidupannya telah direnggut paksa. Bagaimana jika Viona tak berbahagia seumur hidupnya karena kita memaksakan kehendak, apakah itu yang kita inginkan?" jelas Rima dengan nada lemah lembut.
Dia sudah pernah melayangkan protes keras dan hasilnya nihil. Batang pohon keras beradu dengan kayu lain yang sama kerasnya maka hanya akan berakhir patah, untuk itulah Rima lebih memilih memberi pengertian secara halus pada sang suami, berharap Abdul berpikir jernih dan mengambil keputusan lebih bijak.
Abdul terdiam tak bersuara, tetapi keinginannya juga kekagumannya pada Juna saat ini masih merajai. Hanya saja dia tak naik pitam karena istrinya bicara lemah lembut padanya.
"Ibu tahu, tak mudah bagi Ayah menerima Bima kembali. Ibu hanya ingin mengingatkan, yang namya manusia tak pernah luput dari salah dan lupa begitu juga dengan kita. Allah saja maha pemaaf bagi hambanya yang bertaubat, lalu akankah kita terus berkeras hati?"