Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Hanya Untukmu



Kaki jenjangnya membawanya masuk kembali ke dalam hotel. Beberapa orang yang tadi sempat melihat kemesraannya dengan Bima saling berbisik iri.


“Duh coba suamiku juga kayak gitu. Udah ganteng, perhatian lagi,” ujar si wanita berbaju kuning.


“Emang kamu punya suami?” balas temannya yang memakai topi bulat lebar.


“Gara-gara pemandangan tadi aku mendadak lupa, kalau aku belum punya suami, huhuhu. Mending kita cari jodoh aja yuk, kali aja dapat suami kayak wanita cantik itu.”


Viona berdehem dan mengulum senyum kala mendengar percakapan mereka. Beranjak pergi dan memilih berjalan-jalan mengamati arsitektur juga desain interior bangunan hotel. Konsep modern dan klasik digabungkan menghasilkan karya bangunan estetik memukau. Berbagai macam lukisan beragam tema hasil goresan tangan para pelukis dalam dan luar negeri juga ikut melengkapi suasana mewah di dalamnya.


Setelah puas berkeliling, Viona memutuskan singgah ke tempat spa yang masih berada di dalam kawasan hotel. Ingin mencoba fasilitas yang ditawarkan juga ingin menikmati sensasi perawatan relaksasi aromaterapi khas Bali yang melegenda, terkenal baik untuk kecantikan dan kesehatan.


Pekerja yang bertugas menunjukkan tempat spa privat. Viona ingin memulainya dengan terapi massage. Begitu masuk, suasana tradisonal Bali langsung terasa, semua interiornya memberikan kesan kuat mengulas tempat indah yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit dunia ini.


Bau harum langsung menguar menyergap indera penciuman yang berefek menenangkan tubuh juga pikiran ketika Viona masuk ke dalam ruangan spa yang sudah disiapkan untuknya. Lilin-lilin aromaterapi disulut agar sensasi menenangkan tercipta semakin kuat. Lulur dari ramuan alami terbaik juga sudah tersedia. Lulur yang berkhasiat menghaluskan, mencerahkan juga merawat kulit tubuh agar tetap mulus. Juga bunga-bungaan segar ikut melengkapi membuat para wanita betah berlama-lama untuk merawat diri di sana.


Terapis wanita yang bertugas mulai melakukan tugasnya. Viona menikmati massage sambil berkirim pesan dengan Rima juga Annisa, menanyakan kabar putri tersayangnya, juga melakukan video call.


“Nyonya, apakah Anda juga ingin melakukan perawatan wajah? Kami menawarkan perawatan terbaik menggunakan bahan-bahan alami yang aman untuk semua jenis kulit. Atau mungkin mau ditambah perawatan ratus? Tak perlu khawatir, ratus di sini dilakukan menggunakan metode terbaik yang sudah terjamin keamanannya,” jelas si terapis begitu massage hampir selesai.


Ratus adalah perawatan tradisional untuk bagian paling rahasia para wanita yang dipercaya berkhasiat untuk mengencangkan dan mengharumkan juga kebaikan lainnya


“Kalau begitu, saya ingin mencoba keduanya.” Penjelasan si terapis yang meyakinkan menarik minatnya untuk mencoba.


*****


Sekitar pukul delapan malam, Bima baru kembali. Ia langsung membasuh diri untuk menyegarkan tubuhnya yang lumayan penat. Saat keluar dari kamar mandi, tampaklah Viona sedang menyiapkan piyama untuknya. Bima duduk di tepian tempat tidur dan Viona mengambil alih handuk kecil yang sedang digunakan Bima untuk mengeringkan rambut.


“Sudah makan malam?” tanya Viona yang sibuk menggosokkan handuk dengan gerakan lembut di rambut Bima.


“Sudah tadi, sebelum pulang mereka memaksaku makan malam bersama, padahal aku ingin makan berdua denganmu.” Terdengar nada merajuk dari kata-kata Bima. “Kamu sendiri sudah makan?”


“Sudah. Setelah dari tempat spa aku pergi ke restoran untuk makan. Setelah relaksasi aku merasa sangat lapar," ujarnya.


Dengan mata terpejam Bima menajamkan penciumannya. Pantas saja, saat tiba tadi ia merasa ada aroma berbeda menyapa. Begitu mengigit, harumnya menggoda dan menggelitik, dan ternyata ini adalah aroma dari tubuh Viona yang semakin memabukkan saja, jejak wangi aromaterapi spa menempel begitu kuat di tubuh istrinya.


“Pantas saja kamu luar biasa harum, lebih harum dari biasanya, mmhh.” Bima meraih tangan Viona dan mengecupnya lama, seolah ingin melahap aromanya hingga habis.


“Ayo pakai baju dulu, nanti Mas masuk angin.” Viona menaruh handuk kecil dan memberikan piyama pada Bima. Namun, bukannya menerima baju tersebut, Bima malah menarik Viona untuk duduk di pangkuannya. Meneggelamkan wajah di leher jenjang sang istri dan menghidu rakus aroma harum yang menguar di sana.


“Wangimu enak.” Bima terus saja menyusurkan bibirnya di sepanjang garis leher Viona membuat si empunya kegelian,


“Siapa suruh kamu wangi banget begini hmm? Membuatku ingin merasai setiap inci kulitmu,” desahnya serak dan parau dengan embusan napas hangatnya menerpa kulit leher Viona.


“Tadi ngapain aja? Maaf aku tak bisa menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Kamu pasti bosan.” Bima menarik wajahnya dari leher Viona dan sedikit menengadah.


“Nggak bosan kok. Tadi aku menghabiskan waktu di spa untuk melakukan perawatan tubuh dan wajah, juga mencoba perawatan tradisional ratus.” Viona begitu pelan mengucap kalimat terakhirnya, ia menunduk sambil menggigit bibir.


“Ratus? Perawatan apa itu?” Bima sedikit melonggarkan pelukan dan mengintip wajah cantik yang menunduk malu itu.


“Itu, anu. Perawatan itu… biar… biar keset,” jawabnya malu-malu, rona merah mulai menjalar di pipinya.


Untuk sejenak Bima masih terdiam dengan dahi berkerut tak mengerti, akan tetapi beberapa detik kemudian ia mulai paham dan menangkap jeli maksud dari kalimat pelan Viona. Senyuman lebar merekah di wajah tampan Bima, merasa begitu dicintai. Istrinya bahkan melakukan perawatan untuk menyenangkannya.


“Begitu rupanya, bagaimana kalau kuperiksa sekarang hmm? apakah perawatannya benar-benar efektif atau tidak.” Bima menggoda berdesis berbalut gairah yang mulai naik, ia mengeratkan pelukannya lagi dan kembali menyusuri leher Viona lalu menyesapnya dibarengi napas berat.


“Tunggu, sabar dulu dong sayang.” Viona menjauhkan wajah Bima dari lehernya dengan deru napas yang mulai terengah.


"Aku sudah memesankan ramuan tradisional untuk Mas yang berkhasiat memulihkan kondisi dari rasa penat setelah bekerja seharian. Sebentar lagi ramuannya datang,” ucapnya, lalu tersenyum penuh arti.


“Ramuan pemulih stamina? Untukku?” tanya Bima.


“Ehm… i-iya. Mas pasti lelah kan belum beristirahaat seharian ini?"


Bima menggelengkan kepala. “Aku hanya lelah sedikit. Tapi, tahukah kamu? Semua yang kamu lakukan untukku membuatku makin tergila-gila padamu, istriku.” Raut bahagia tecetak jelas di wajah tampannya.


Pujian dan pemujaan Bima makin membuat Viona tersipu diringi debaran jantungnya yang menggila. Bel berbunyi, Viona turun dari pangkuan Bima dan menerima nampan dari petugas layanan kamar berisi segelas ramuan yang dipesannya. Dia meminta dibuatkan susu murni hangat dicampur dua sendok madu asli juga kuning telur ayam kampung yang dijadikan satu di dalamnya.


“Minum dulu, Mas, selagi hangat.” Viona menyodorkan gelas dan langsung diteguk tanpa ragu oleh Bima. Cinta Viona benar-benar membuatnya merasa begitu hidup, begitu berarti.


“Mau kubantu pakai baju,” tawar Viona dengan piyama di tangan.


"Sepertinya aku tak memerlukanya lagi, yang kubutuhkan adalah dirimu, sayang."


Bima menarik Viona dan menggendongnya hingga kini posisinya duduk berhadapan di pangkuannya. Matanya memaku dengan penuh cinta tenggelam di manik indah Viona.


Tak tahan untuk tak menyentuh. Bima menyelipkan tangannya ke belakang tengkuk Viona, menariknya hingga bibir mereka melekat, bertemu dalam decapan meluapkan gairah, saling berbalas seirama.


Keduanya saling mendamba, saling memberi dan menerima. Bima menerima penuh sukacita saat Viona memberi memancing hasratnya untuk berkobar, dan juga memberi ketika Viona meminta lebih ingin dihangatkan, berkubang dalam gairah yang sama-sama membara.


Desahan dan erangan indah lolos dari bibir ranum Viona. Ia melenguh lalu mendongak kala nikmatnya kayuhan suaminya dipersembahkan penuh pemujaan hanya untuknya. Bima tak menyiakan kesempatan itu, mencicipi rakus keharuman leher jenjang istrinya menebarkan jejak cintanya seraya mengejar rasa nikmat yang sama, melebur dalam cinta juga hasrat demi pemenuhan jiwa dan raga.