
“Jun, Om tinggal dulu.”
“Juna, sebaiknya kamu pulang saja, terlalu banyak yang menunggui di rumah sakit juga tak diperbolehkan,” usir Rima halus. Ia tak ingin ketenangan cucunya yang sedang sakit di dalam sana kembali terusik dengan perseteruan.
“I-iya Tante. Kalau begitu saya permisi.” Dengan berat hati Juna berpamitan pulang dan melirik sekilas ke arah pintu perawatan Nara dengan tatapan tajam juga wajah kesal sebelum melangkah pergi.
Rima setengah menyeret Abdul agar berjalan lebih cepat ke taman samping yang terdapat di rumah sakit itu.
“Ada apa sih Bu, tak sabaran begini?” Abdul merasa keheranan di sela-sela langkah kakinya.
Rima tak menggubris, malah makin mempercepat langkahnya sehingga mau tak mau Abdul ikut menyeimbangkan langkah. Sesampainya di tempat tujuan mereka duduk di sebuah kursi kayu yang berjejer di taman tersebut.
“Periksa ponsel Ayah,” pinta Rima.
“Untuk apa? Memangnya ada apa di ponselku?” tanyanya tak menegerti.
“Cepat periksa saja! Buka pesan Whatsapp.”
Abdul menyentuh aplikasi berwarna hijau yang ada di layar ponselnya, di sana memang banyak tertera puluhan pesan yang belum sempat terbaca lantaran Abdul sibuk dengan pekerjaannya seharian ini. Kebanyakan pesan yang masuk adalah dari rekan bisnisnya, akan tetapi ada satu pesan dari nomor yang tak dikenalnya.
“Buka pesan yang itu,” tunjuk Rima dengan nada menuntut.
“Ayah tak kenal nomornya?” Abdul mengernyit, dia memang tak punya nomor kontak Bima yang baru sehingga tak mengetahui jika itu adalah nomor baru Bima.
“Buka saja!” Rima benar-benar sudah habis kesabaran.
“Ibu kenapa sih?” Abdul menoleh menatap istrinya merasa aneh, Rima jarang sekali ngotot dan baru kali ini terkesan begitu memaksa.
“Ibu akan berikan ruang dan waktu pada ayah. Tolong buka pesan itu dan dengarkan isinya dengan saksama. Setelah mendengarnya semoga Ayah bisa berpikir jernih. Ibu akan kembali ke dalam,” tegasnya tanpa menoleh lagi.
*****
Tiga puluh menit berlau, Abdul baru kembali ke dalam. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, setelah mendengar isi dari rekaman itu ia kalut luar biasa. Inginnya menyanggah, tetapi setelah diperiksa lebih teliti lagi rekaman itu memanglah asli. Otaknya bekerja dengan semestinya, tetapi hatinya masih saja menampik.
Melangkah gontai Abdul mengeyakkan diri di sebelah Rima yang tengah duduk di kursi luar ruang perawatan Nara. Rima duduk bersandar dengan mata memejam efek dari kantuk yang menghampirinya.
Suara gemerisik dari pakaian Abdul yang bergesekan dengan kursi menarik kesadarannya, Rima menegakkan punggung dan mengusap wajahnya, terjaga saat merasakan kehadiran sang suami di sampingnya.
“Ayah sudah mendengarkan rekamannya?” Rima membetulkan posisi duduknya, sedikit miring sambil menatap Abdul yang tertunduk lesu.
Abdul memijat pangkal hidungnya, menarik napasnya berat kemudian mengembuskannya perlahan, balas menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan, antara terpukul dan masih menyangkal.
Dia bangun kemudian membuka pintu ruangan Nara sedikit saja, Rima ikut berdiri di dekat Abdul sama-sama memaku pandangan ke dalam.
Tampaklah pemandangan Bima yang tengah menyelimuti Viona kemudian mengecup Nara yang tertidur.
“Coba Ayah lihat, mereka bertiga terikat satu sama lain, saling mengisi saling membutuhkan. Bima memang pernah salah, tapi kini dia benar-benar belajar untuk menjadi sosok yang lebih baik lagi. Bahkan Viona dan Nara tampak damai dengan kehadirannya.”
Abdul masih tak menjawab, kembali menutup pintu kemudian menatap istrinya lekat-lekat. “Bu, Ayah harus bagaimana?” ujarnya lesu.
*****
Embusan napas Nara halus teratur pertanda bocah itu tertidur, Bima membelai lembut buah hatinya yang menyelusup di dekapannya. Matanya kemudian teralihkan pada Viona yang ternyata juga memejamkan mata, tanganya beralih menyusuri wajah cantik yang pucat dengan jejak air mata itu penuh sayang, Viona pasti kelelahan jiwa dan raga.
Bima menopang kepala menggunakan sebelah tangannya. Menatap bergantian pada Nara juga Viona. Ia perlahan turun dari tempat tidur, mengambil selimut yang terlipat di dekat kaki Viona, menyelimuti ibu dari anaknya itu. Sementara Nara dibiarkan tanpa selimut sesuai saran dokter agar demamnya tidak semakin memburuk.
Rima masuk ke dalam dengan tas besar di tangan yang berisi kelengkapan Nara, dan Abdul memilih kembali ke taman lantaran masih dirundung kebimbangan.
“Bim, ini baju ganti Nara. Ibu ada di luar, kalau butuh apa-apa panggil saja. Atau jika nanti kamu ngantuk, biar Ibu yang jagain Nara.” Rima menyerahkan tas besar warna hitam tersebut pada Bima.
"Sebaiknya Ibu istirahat di sofa itu saja, jangan menunggu di luar ruangan, kursinya keras. Sebetulnya aku ingin Ibu pulang dan beristirahat di rumah khawatir Ibu juga jatuh sakit, tapi mengingat statusku dengan Viona aku tak ingin timbul fitnah jika kami bermalam dalam satu ruangan meski ada Nara. Untuk itu aku butuh Ibu ada di sini.”
Rima menepuk pundak Bima dan menatapnya lembut. “Terima kasih, sudah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Viona dan Nara mencintaimu, membutuhkanmu. Semoga kalian bisa secepatnya berkumpul kembali dalam ikatan yang sah. Ibu selalu mendo’akan, untuk kebahagian kalian."
*****
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Viona dan Nara masih tertidur begitu juga Rima. Bima memeriksa cairan infus Nara yang ternyata mulai habis, sejak tadi ia terus terjaga mengawasi kondisi anaknya khawatir memburuk.
Bima memanggil perawat, setelah diganti cairan infus, Nara terusik dari tidurnya dan kembali gelisah. Demamnya mulai sedikit turun hanya saja kemudian Nara muntah lagi meski volumenya sedikit.
Dengan telaten Bima membersihkan muntahan dan mengganti baju Nara, juga menyeduhkan susu saat anaknya meminta tanpa membangunkan Viona ataupun Rima. Tanpa disadarinya semua itu tak luput dari pengamatan Abdul yang kembali mengintip dari arah pintu.
Abdul mengamati, masih enggan untuk masuk. Melihat dari kejauhan bagaimana Bima menggendong Nara yang agak rewel sambil menyeret tiang iunfus di dalam ruangan. Egonya mulai terkikis sedikit demi sedikit, hanya saja rasa kecewa di hatinya masihlah cukup besar.
Ia kembali menutup pintu, pergi ke musholla, mengambil wudhu dan berdiam diri di sana.