Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Mengulur Waktu



Tergopoh-gopoh Viona masuk dengan tas selempang di pundak. Ia berembus lega bisa datang lebih dulu dari Pak Yoga.


“Selamat datang Nyonya, sudah mereservasi meja?” Seorang pemuda berseragam pelayan restoran menyambutnya.


“Saya belum mereservasi karena ini mendadak, tapi mitra saya meminta bertemu di sini. Saya akan menunggunya di meja kosong sampai beliau datang,” jawab Viona sambil mengulas senyum manisnya.


“Silakan Nyonya.”


Viona mendudukkan diri dan melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangannya, masih tersisa tiga puluh menitan lagi hingga orang yang bersangkutan datang. Diambilnya ponsel dari tasnya, segera menghubungi Bik Yati dan meminta menyampaikan pada sang anak, bahwa kemungkinan dirinya akan pulang sedikit terlambat dari biasanya.


Selesai mengabari, ia baru teringat kembali akan niatannya menemui Juna. Viona mengirim pesan teks pada Juna karena teleponnya tak kunjung diangkat. Tak lama berselang pesannya berbalas, Juna mengatakan sedang sangat sibuk dan ada pekerjaan ke luar kota sehingga tidak memungkinkan untuk bertemu dalam waktu dekat.


Viona memijat pelipisnya dengan mata memejam, inginnya segera memberitahu Juna tentang keputusannya sebelum terlambat, akan tetapi sepertinya sekarang ia harus bersabar hinga Juna mempunyai waktu senggang. Viona masih tak sampai hati jika mengatakan ingin membatalkan rencana pertunangan di saat Juna sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Sementara itu di tempat lain, Juna menggenggam ponselnya erat dengan rahang mengetat dan gigi gemeletuk, beberapa saat yang lalu ia baru saja mendapat laporan lengkap dengan foto mobil Bima yang terparkir di halaman rumah Viona dari tengah malam hingga pagi, interaksi Bima dan Viona juga tak luput dari jepretan orang-orang suruhannya itu.


Lalu, Viona mengiriminya pesan ingin membahas tentang hal yang sangat penting, Juna memilliki firasat buruk, bahwa yang ingin dibahas pasti tentang rencana pertunangan dan sepertinya Viona berniat membatalkannya.


Juna takkan memenuhi permintaan Viona untuk bertemu sampai hari-H yang sudah ditetapkan, dia berencana mengulur waktu hingga hari itu tiba sehingga mau tak mau Viona akan tetap menerimanya.


“Pandu, mulai besok aku akan bekerja dari apartemen, jika ada yang mendesak meminta bertemu denganku buatlah janji secara privat. Kalau ada yang bertanya tentangku, katakan aku sedang mengurus pekerjaan di luar kota,” perintahnya.


*****


“Selamat datang di VN fashion."


Pintu butik dibuka dari dalam oleh salah satu pegawai butik dengan sambutan ramah. Laki-laki jangkung tampan menawan dengan aroma parfum mahalnya menguar di udara masuk sambil mengedarkan pandangan.


“Pak Bima?”


Sita menyapa dengan sopan, sudah lama sekali ia tak melihat mantan suami bos-nya itu. Sita tetap mengenalinya, karena Bima masihlah tampan menawan seperti dulu, bahkan kini tampak semakin memesona di usia matangnya.


Bima tersenyum dan mengangguk. “Sita bagaimana kabarmu?”


“Kabar saya Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan Anda? Sudah lama sekali tak berjumpa.”


“Kabarku baik. Viona ada?” tanya Bima sambil melihat-lihat sekeliling,


Butik utama mantan istrinya itu kini semakin berkembang pesat, Bima bertambah bangga pada wanita mungil tercintanya yang begitu hebat. Hari ini Bima memang sengaja menjemput Viona ke butik dan ingin mengajaknya makan malam dalam rangka usahanya untuk rujuk kembali.


“Bu Viona sedang bertemu mitra bisnis yang sangat penting Pak, dengan pemilik situs online shop kenaamaan. Anda juga pasti mengenalnya, Pak Yoga dari Shoppinghome,” jawab Sita.


Bima tampak berpikir sejenak. Namun, tiba-tiba matanya melebar. "Yoga, Shoppinghome?" gumamnya.


"Iya Pak?"


“Di mana mereka janji bertemu? Dan dengan siapa Viona pergi?” cecar Bima, ada getaran cemas yang terdengar dari nada suaranya.


“Di Restoran Purnawarman. Bu Viona pergi sendiri Pak.”


Seperti orang kesurupan Bima melesat keluar dari butik dan langsung tancap gas mengendarai mercy hitamnya, sementara Sita melongo tak mengerti akan reaksi aneh dari mantan suami bosnya itu.


“Ada apa ya?”