Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Mencoba



“Bunda mau pergi dulu sama Uncle Juna, nggak lama kok. Nara tunggu sama bibi di rumah, sebentar lagi nenek datang dan katanya mau menginap di sini.” Viona tengah duduk di samping Nara. Bocah cantik itu memakai piyama biru bergambar Elsa Frozen sambil memeluk boneka beruang warna fushia kesayangannya.


“Nenek mau ke sini? yeay asiiiik.” Nara berjingkrak riang karena senang. “Tapi mana Papi Junanya, kok belum datang?” Nara turun dari sofa, berlari kecil dan menyingkap goden supaya bisa melihat keluar keluar jendela.


“Mungkin sebentar lagi. Memangnya kenapa?” tanya Viona yang juga menyusul bersimpuh dengan lututnya di dekat jendela.


“Nggak apa-apa, Cuma mau ngobrol aja. Papi Juna bilang mau ajak Nara jalan-jalan ke tempat bermain di mall, tapi Papi bilang harus bujukin dulu Bunda biar mau ikut,” ucapnya dengan wajah polosnya yang menggemaskan.


“Bukannya Nara udah sering pergi ke sana sama Bunda, nggak bosen emangnya?”


“Itu kan perginya cuma berdua sama Bunda, Nara maunya pergi sama Bunda sama Papi Juna juga, biar bisa naik bom bom car sama gendong di punggung,” sahutnya memelas sembari tangannya menarik-narik telinga si boneka beruang.


Terdengar deru mesin mobil yang sangat familiar, Nara bergegas membuka pintu dan berlari teras rumah.


“Papiiii…..” teriaknya. Nara langsung merentangkan tangan sambil melompat-lompat ingin digendong begitu melihat Juna turun dari mobil. Tentu saja dengan senang hati Juna segera mengangkat bocah menggemaskan itu ke dalam pangkuannya membuat Nara bergelayut senang.


Viona menyusul keluar dan melihat pemandangan tersebut. Sepertinya memang sudah waktunya ia membuka hati kembali, terutama demi Nara. Terlebih lagi ketulusan Juna padanya juga Nara selama ini sudah tak diragukan, meskipun rasa takut terluka dan gagal lagi tentang ikatan pernikahan masih terselip dan menghantui di dasar kalbunya.


Juna terpana melihat wanita dihadapannya yang tampil berbeda malam ini. Gaun selutut warna biru dongker berlengan panjang melekat begitu pas juga sesuai dengan warna kulit Viona yang bersinar. Rambut panjangnya disanggul ke atas menyisakan anak-anak rambut beriak di bagian depannya membungkai wajah cantiknya yang dirias tak berlebihan.


Jantung Juna berdebar tak karuan, ingin rasanya dia mendekap tubuh itu ke dalam pelukannya dan menghirup aroma Viona yang sungguh memabukkan. Sorot mata juga raut wajah Juna tak bisa menyembunyikan kekagumannya, kendati sudah pernah melahirkan tapi daya tarik Viona di mata Juna tak pernah pudar, bahkan magnetnya bertambah kuat berkali-kali lipat ketika mengetahui Viona sudah tak lagi bersama Bima.


“Sangat cantik,” gumam Juna tanpa sadar.


“Siapa yang cantik? pasti Nara, iya kan Papi?” celoteh bocah yang berada di gendongannya. “Papi baru tahu ya, Nara kan memang cantik,” sambungnya ceria.


“Ayo, Nara turun dulu sayang. Bunda harus segera berangkat, nanti kemalaman. Film Frozen barunya udah mau mulai tuh.”


Begitu mendengar nyanyian film kesukaanya bocah itu meronta ingin turun dari gendongan Juna dan berlari menuju ruang tengah.


“Bi Yati, titip Nara ya. Kalau ada apa-apa segera telepon. Aku berangkat.”


“Baik Non, hati-hati di jalan.”


*****


Juna menghidupkan mobil dan segera tancap gas menuju ke tempat pesta, jalanan kota Bandung cukup padat di malam akhir pekan sehinga kemacetan tak terelakkan. Mobil merayap dengan sabar, sementara Juna fokus pada setir dan jalanan tiba-tiba Viona mematikan musik dari tape mobil.


Juna menoleh. “Kenapa dimatikan, itu lagu kesukaanmu kan?” tanya Juna


“Ehm, begini. Aku… aku_” Viona tampak mengumpulkan keberaniannya sebelum kembali menyambung kalimatnya. “Mengenai tawaranmu, aku sudah memutuskan, sepertinya sudah saatnya aku menerimanya.”


Juna terkesiap, matanya mengerjap masih tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan Viona. “Kamu… serius?’


Viona mengangguk pelan. “Tapi bisakah kita mencoba hubungan ini pelan-pelan saja secara bertahap hingga ke jenjang yang lebih serius? karena bagiku pernikahan bukanlah permainan, harus dipikirkan matang-matang.”


“Tentu saja, kita akan mencobanya pelan pelan seperti keinginanmu. Terima kasih, sudah memberiku kesempatan.”