
Dengan napas memburu keduanya saling menyentuh dan saling memuaskan diri masing-masing di bak mandi berwarna putih itu. Air hangat yang mengisi bathtub bahkan ikut tumpah tercecer ke lantai kamar mandi disebabkan pergerakan dua insan yang memadu kasih di dalamnya.
Bima mendesakkan diri serapat mungkin dengan raga hangat istrinya, tetapi ia tetap melakukannya dengan lembut serta hati-hati karena kini Viona tengah hamil besar. Keduanya saling mencecap dan memacu di dalam bak sempit itu, mengerang bersahutan mengejar rasa nikmat penuh janji. Sampai akhirnya mereka meraih rasa luar biasa yang sejak tadi dikayuh bersama hingga menjalar dan membanjiri jiwa raganya.
Viona menetralkan napasnya yang terengah dengan mata terpejam, begitu pun juga Bima yang tengah mengatur pasokan udara ke paru-parunya. Tubuh mereka masih menempel satu sama lain, Viona dalam posisi duduk dipangkuan Bima dan menyandarkan dirinya di tubuh kokohnya suaminya itu.
"Sebetulnya aku masih ingin merasakan diriku berada di dalam dirimu, tapi aku takut mengganggu ketenangan putriku di dalam sana," desah Bima serak masih dengan napas yang tak beraturan dan telapak tangannya mengusap-usap perut buncit Viona.
Viona terkekeh kemudian sedikit mengubah posisi duduknya menjadi miring dan mengecup rahang Bima yang mulai ditumbuhi jambang halus.
"Sebaiknya sekarang kita selesaikan acara mandi ini, perutku lapar. Sepertinya anak kita sudah meminta jatah asupan nutrisinya, Mas pasti bisa merasakannya bukan?" Viona meletakkan telapak tangannya di punggung tangan Bima yang berada di perutnya, merasakan tendangan si kecil yang semakin hari bertambah kuat.
"Kamu benar. Anak kita sedang berdemo meminta haknya." Bima mengulas senyumnya kemudian mengecup mesra pelipis Viona.
"Ayo, kumandikan." Bima berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Viona berdiri.
Dipapahnya wanita yang kini tengah mengandung anaknya itu, mengajaknya berdiri di bawah shower air hangat dan mengguyur diri bersama-sama di sana.
*****
Untuk sesaat setelah bercinta tadi pikirannya rileks sejenak, tetapi kemudian Bima kembali dilanda kekalutan akibat masalah berat yang merundung dirinya. Dinyalakannya sebatang rokok filter yang dijepit antara telunjuk dan jari tengahnya, menghisapnya dalam-dalam kemudian mengembuskan asapnya kencang ke udara, berharap mampu mengurangi beban di dadanya.
Hampir dua jam Bima berada di taman ditemani sebungkus rokok, secangkir kopi hitam pekat dan semilir angin yang menerpa wajahnya. Malam semakin larut dan dinginnya semakin menusuk menyapa permukaan kulitnya.
Setelah menghabiskan setengah bungkus rokoknya, Bima kembali ke kamar dan menuju kamar mandi. Membasuh wajah lelahnya dan membersihkan mulutnya dengan pasta gigi serta mouthwash mint karena indera pengecapnya terasa asam efek dari kopi pahit yang diminumnya.
Bima mengambil handuk bersih dari lemari dan tanpa sengaja matanya melirik ke arah kalender yang terpasang di dinding samping lemari. Bima mengusap wajahnya kemudian menolehkan pandangan ke ranjang di mana Viona sudah tertidur lelap.
"Aku bahkan sampai melupakan ulang tahun istriku gara-gara masalah sialan ini!"
Tampak guratan rasa bersalah semakin bertumpuk di wajah tampannya, Bima beranjak naik ke tempat tidur dan memeluk Viona ke dalam dekapannya.
"Maaf ... maafkan aku sayang," bisiknya penuh sesal.
Suaranya tersendat dan tercekat di tenggorokan sarat akan penyesalan yang teramat dalam. Pikirannya berkecamuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengurai kembali semua benang kusut yang telah terlanjur menggulung dirinya dalam masalah pelik ini.