
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕
*****
Bima berjalan terhuyung-huyung saat keluar dari ruangan khusus miliknya, sudah hampir dua jam ia di dalam. Sebenarnya Bima masih ingin berlama-lama di sana, hanya saja denting jam di dinding mengalihkan perhatiannya dan mau tidak mau dia harus menyudahi kegiatannya karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Bima membasuh wajahnya dengan air dingin, berharap merasa lebih segar saat tetesan-tetesan air menyapa kulitnya. Setelahnya ia mengambil beberapa lembar tisu di samping wastafel dan mengeringkan wajahnya, kemudian merapikan pakaian dan bersiap-siap untuk segera pulang karena ini sudah waktunya menjemput Viona.
Jejak basah dan beberapa genangan air di sepanjang jalan masih menghiasi, peninggalan hujan lebat yang mengguyur dengan derasnya tadi siang. Bima melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, mungkin karena konsentrasinya belum sepenuhnya terkumpul membuatnya sedikit kehilangan fokus atas kemudi yang dipegangnya, sehingga mobil yang dikemudikannya keluar jalur lalu menyerempet sebuah mobil mewah berwarna merah yang terparkir di sisi jalan.
Bima tersentak kaget, fokusnya yang tadi sempat buyar seketika berkumpul kembali memenuhi rongga kepalanya saat suara alarm mobil yang berbunyi nyaring berdengung di telinganya. Kegaduhan itu mengejutkan dan menyedot perhatian orang-orang yang sedang berada di sekitar, menarik mereka untuk berkerumun mendekati sumber kegaduhan.
Beruntung Bima menyetir dengan kecepatan sedang, sehingga efeknya hanya menggores body mobil miliknya dan juga mobil warna merah yang disenggolnya tanpa melukai tubuhnya sama sekali. Bima membuka sabuk pengaman dan segera turun untuk melihat kerusakan pada mobil merah tersebut.
"Makanya kalau nyetir itu hati-hati dong, Pak. Harus fokus, kalau nggak bisa mengemudi dengan benar lebih baik tidak usah membawa kendaraan sendiri!" ketus seorang anak muda laki-laki yang juga berada di kerumunan itu.
Bima hanya mengangguk tipis dan tersenyum canggung tanpa membalas perkataan anak muda tadi, ia enggan menanggapi dan berusaha mengontrol emosinya karena bagaimanapun juga ini adalah tempat umum.
Bima membungkuk, melihat dan memperhatikan kerusakan yang diakibatkannya dengan saksama. Tampaklah goresan panjang di sisi kanan mulai dari bagian belakang hingga ke tengah-tengah mobil. Saat Bima sedang memeriksa kerusakan pada mobil tersebut seorang laki-laki yang tak lain sang pemilik mobil langsung membelah kerumunan, dia segera mematikan alarm mobil yang begitu berisik.
"Ini ada apa berkumpul begini? Ada apa dengan mobil saya?" Laki-laki itu bertanya pada orang-orang di sekitarnya.
Bima menoleh pada seseorang yang bertanya dan langsung berdiri tegak. "Saya mohon maaf atas keteledoran saya sehingga tidak sengaja menyerempet mobil Anda, saya akan mengganti semua biaya kerusakan dan menjadikan mobil Anda kembali mulus seperti sedia kala," jelas Bima tenang sambil berusaha tetap memasang senyum pada lelaki itu.
Orang-orang yang berkerumun di sana diminta dengan sopan oleh si pemilik mobil merah untuk bubar saja agar tidak menarik perhatian. Mobilnya yang terserempet bukanlah tontonan serupa layar tancap.
Lelaki muda itu tersenyum ramah, kira-kira usianya seumuran Viona. "Namanya juga musibah, Pak. Tidak usah terlalu dipikirkan. Hal semacam ini sudah biasa terjadi di jalanan. Hanya mobil yang tergores bukanlah masalah besar. Yang penting Anda tidak terluka," sahutnya ramah.
"Tapi tetap saja ini adalah kesalahan saya, biarkan saya yang menanggung semua biaya kerusakannya." Bima membuka dompetnya dan mengambil satu lembar kartu nama. "Ini kartu nama saya. Tolong disimpan, perkenalkan nama saya Bima," tukas Bima sambil memberikan kartu namanya.
Lelaki itu menerima dan menyimpan kartu nama yang diberikan Bima di saku kemejanya. "Saya Arjuna, panggil saja Juna," jawabnya sambil berjabat tangan dengan Bima.
"Tidak usah repot-repot, Pak Bima. Ini bukanlah kerusakan yang berarti. Saya sudah punya bengkel langganan sendiri, jadi tidak perlu khawatir, silahkan lanjutkan kembali perjalanan anda," tolak Juna halus sambil tersenyum.
Bima tampak menimbang-nimbang dan ragu untuk pergi, bagaimanapun juga dirinya tidak akan merasa nyaman jika pergi begitu saja walaupun sang pemilik mobil sudah bermurah hati dan membebaskannya dari tanggung jawab.
"Ehm ... kalau begitu, maukah Anda memenuhi undangan makan siang bersama sebagai permintaan maaf?" Bima mengusulkan, setidaknya ia harus tetap punya adab.
Karena melihat ketulusan dari sikap Bima membuat Juna merasa tidak enak jika menolak. "Baiklah Pak Bima, Anda tentukan saja tempat dan waktunya, saya pasti datang."
Ekspresi Bima terlihat lega. "Terima kasih banyak, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, istri saya pasti sudah menunggu."
"Silakan, hati-hati di perjalanannya."
Setelah kendaraan Bima semakin menjauh, Juna pun masuk ke dalam mobilnya. Dia duduk di belakang kemudi kemudian mengeluarkan kartu nama yang diberikan Bima tadi.
Bima Prasetyo? Kenapa nama ini terasa tidak asing, sepertinya aku pernah mendengarnya.
Gumam Juna dalam hati sambil membolak-balikkan kartu tersebut. Ia memutar balikkan ingatannya beberapa saat hingga kepalanya terasa pening. Karena tak kunjung mengingat juga, Juna menaruh kembali kartu nama tersebut ke dalam sakunya dan beranjak pulang.
*****
Hangatnya sinar mentari di ufuk timur mulai mengintip malu-malu, perlahan merangkak seolah meronta ingin dilepaskan dari dekapan kegelapan malam.
Minggu pagi ini, di sebuah kamar dengan nuansa warna broken white nan lembut berpadu serasi dengan furnitur di dalamnya, di atas ranjangnya yang berukuran king size tampak sebuah pemandangan seorang wanita hamil tengah bergelung manja dipelukan suaminya. Dialah Viona, ia dan Bima kembali tertidur setelah mandi dan shalat Subuh, mereka kelelahan disebabkan kegiatan menghangatkan ranjang yang dilakukannya menjelang waktu dini hari tadi.
Tidur lelap Bima mulai terusik tatkala cahaya matahari perlahan menerobos masuk ke dalam kamar. Saat membuka mata ia menundukkan sedikit tatapannya, dan pemandangan pertamanya di pagi itu adalah Viona yang masih terlelap begitu rapat di dadanya dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Sudut bibir Bima terangkat ke atas. Mendekatkan wajah lalu dikecupnya puncak kepala Viona dan juga membelai rambutnya. Tangan Bima seolah ketagihan akan kelembutan dan keharuman rambut Viona yang membuat dia kembali berhasrat pagi ini. Namun ia teringat pesan dokter. Walaupun usia kehamilan Viona sudah terbilang aman untuk melakukan kegiatan intim, tetapi jeda dan durasinya tetap harus diperhatikan agar janin dan juga si ibu tetap berada dalam kondisi yang aman.
Bima memiringkan posisi tubuhnya dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan Viona, ditatapnya lamat-lamat wajah Viona. Netranya masih terpejam diiringi embusan napas halus teratur menandakan wanita hamil itu masih berada di alam mimpi.
Setelah kejadian di apartemen Reva waktu itu, Bima terus menerus digelayuti rasa bersalah yang kental, membuat dia secara bertahap mengubah sikapnya pada Viona. Dan entah sejak kapan semua itu dimulai, hati Bima selalu terasa hangat saat bersama Viona. Semula baginya Viona selalu berada di urutan nomor dua, karena nomor satu dan prioritasnya adalah si barang haram. Namun, seiring waktu berlalu posisi itu tergeser sedikit demi sedikit dengan sendirinya.
Hanya saja perasaan Bima semakin hari makin tak tenang, apakah ia mampu untuk berhenti? Jika ingin berhenti ia butuh dukungan dari orang-orang di sekitarnya, sementara selama ini dirinya merahasiakan dan menyimpan rapat-rapat rahasianya tersebut. Haruskah ia berterus terang pada Viona? Apakah Viona bisa mengerti dirinya atau malah sebaliknya? Jika Viona malah membencinya apakah Bima yakin hatinya bisa menerima?
Pertanyaan itu setiap saat berputar-putar di kepalanya, imbasnya terkadang membuat dadanya terasa nyeri dan sesak bagai dicabik-cabik oleh kuku-kuku tajam tak kasat mata.