
Viona menyudahi permainan golfnya, senyumnya musnah entah ke mana berganti murung menggayuti wajah cantiknya. Ponsel di sakunya berbunyi bertubi-tubi, tetapi saat ini telinganya seolah tuli.
“Kita sudahi main golfnya, saya ingin ke restoran saja,” pinta Viona.
Para caddy mengangguk sopan padanya, membereskan peralatan golf dan segera mengantar Viona kembali ke resto.
“Saya pesan jus lagi, yang super dingin dengan ice cube lebih banyak dari yang saya pesan tadi,” pintanya pada pelayan restoran.
“Jus lagi Nyonya?” Si pelayan mengerutkan dahi. “Mau pesan makanan juga mungkin?” tanya si pelayan.
“Tidak terima kasih, saat ini saya sedang ingin minum jus lagi untuk mendinginkan suasana hati yang panas. Eh... mak-maksudnya suasana cuaca di sekitar sini yang panas, ahahaha.” Viona tertawa canggung.
“Baik Nyonya.”
Setelah si pelayan undur diri, Viona membuka topi lebarnya dan menjambak rambutnya kesal. “Kenapa aku jadi kesal begini melihat Mas Bima dekat dengan Hana. Sadarlah Viona! Dia juga punya hak dekat dengan wanita lain, seperti kamu dekat dengan Arjuna. Ingat itu!” serunya pada dirinya sendiri.
Sementara itu di lapangan golf yang cukup jauh dari restoran, Juna tampak resah lantaran Viona pergi sudah lebih dari satu jam. Ia mengirim pesan sudah enam kali banyaknya dan tak kunjung ada balasan dari calon tunangannya itu. Juna sebenarnya ingin menyusul Viona, akan tetapi relasi bisnis yang mengajakanya bermain golf kali ini adalah orang-orang yang cukup krusial bagi kesinambungan perusahaan, jadi dia tak bisa begitu saja meningggalkan mereka.
Di tengah kegundahannya, istri salah satu relasi pentingnya mengeluh ingin beristirahat karena lelah juga karena mulai kepanasan berhubung cuaca cukup terik. Juna seperti mendapat angin segar kala si relasi pentingnya itu memutuskan untuk beristirahat dulu.
Yang pertama kali Juna lakukan saat masuk ke restoran adalah mencari-cari Viona, mengedarkan pandangan ke sekitar dan terlihatlah Viona di meja di ujung sebelah kanan, tengah membenamkan wajahnya di meja dengan gelas-gelas kosong di hadapannya.
Viona tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya. “Eh Jun, itu aku… aku nggak balik lagi karena cuacanya panas banget, nanti kulitku terbakar matahari,” sahutnya memberi alasan.
“Terus kenapa keringetan gitu? Bukannya dari tadi kamu di sini? Padahal di sini AC-nya cukup dingin.” Juna merasa heran melihat pelipis Viona yang berjejak basah karena keringat juga wajah cantiknya yang memerah seperti kelelahan.
“Tadi aku jalan-jalan sebentar keliling restoran, walaupun di tempat teduh ternyata tetap terasa panas, ahahaha,” jawabnya asal.
Tiba-tiba Viona memegangi perutnya dan meringis. “Jun aku ke toilet dulu.”
Setengah berlari Viona menghambur menuju toilet, efek terlalu banyak jus buah yang diminumnya, kini perutnya mengamuk berdemo pada si empunya.
*****
Kumpulan kertas sketsa yang sudah diremas berserakan di lantai ruang khusus Viona di butiknya. Sudah tiga hari ini otaknya tak mampu berkonsentrasi dengan baik. Ini adalah kertas ke tiga puluh yang dicampakkannya begitu saja, sejak tadi dia merasa tak ada satupun sketsa yang sesuai dengan keinginannya. Bayangan Bima dan Hana sewaktu di lapangan golf terus saja menghantuinya dan mengusik ketenangannya.
“Arghhh… ini membuatku frustrasi!” keluhnya sambil meremas geram kertas tak berdosa hasil sketsanya.
Ponselnya berbunyi, tertera pesan dari Ibel yang mengajaknya makan siang bersama sembari melepas kangen mumpung sedang berada di Bandung. Viona menghentikan kegiatannya dan meraih tas keluar dari sana menuju tempat di mana Ibel berada, mungkin dengan mengobrol bersama Ibel isi kepalnya bisa jernih kembali.