
BMW kuning milik Viona sudah terparkir di depan gerbang sekolah Nara sejak setengah jam yang lalu. Nara menghambur berlari dengan Bik Yati di belakangnya begitu melihat bundanya. Bik Yati selalu setia menunggui selama Nara belajar, wanita paruh baya itu menunggu di luar gedung sekolah di ruang tungu yang telah disediakan pihak sekolah, sesuai pesan Viona ia akan berada di sana hingga jam sekolah Nara usai.
“Bunda, kita jadi ketemu ayah kan?” tanyanya riang melompat-lompat ceria sambil menggendong tas warna merah muda di pundaknya.
“Iya. Ayo kita berangkat sekarang.” Viona membuka pintu mobilnya dan membantu si buah hati naik.
“Nyonya, kalau begitu saya pulang dulu.” Bik Yati hendak berlalu mencari ojek untuk kembali ke rumah Viona.
“Bik, ikutlah. Aku butuh bantuanmu nanti, aku mau ke apartemen Mas Bima, dia sakit.”
Walaupun tampak sedikit terkejut, tak urung Bik Yati mengangguk dan masuk di kursi belakang. Sebenarnya dia agak was-was saat baru saja Viona mengatakan hendak ke apartemn Bima.
Bagaimana kalau Tuan Abdul tahu? Pasti urusannya jadi runyam, batinnya.
Nara melangkah penuh semangat saat keluar dari lift dan memijakkan kaki di lantai tujuh di mana unit hunian Bima berada. Viona juga membawa kantung besar berisi bahan makanan dan masakan buatannya yang dijinjing oleh Bik Yati.
“Jadi ayah ada di sini? berarti udah sembuh dong, Bunda?” celoteh Nara yang kini sudah berada di depan pintu apartemen.
“Ayah pasti sembuh kalau lihat Nara datang,” sahut Viona sambil membuka kode kunci.
Tanpa ragu Viona melangkah masuk bersama Nara juga Bik Yati. Seperti biasa keadaan di dalamnya begitu sunyi, hanya saja kali ini gorden-gorden dibiarkan terbuka.
“Bik tolong rapikan semua bahan makanan ke dalam kulkas. Juga tolong tuangkan makanan yang sudah kumasak dari rumah dan tata di atas meja.” Viona menunjuk ke arah lemari pendingin juga meja makan yang tak jauh dari area dapur.
“Baik Nyonya.”
“Mana ayah?” tanya Nara sudah tak sabar.
“Mungkin di kamar, ayo,” ajak Viona.
Begitu keluar dari kamar, pemandangan tak terduga terpampang di depan matanya. Viona berdiri di sana sambil menggamit tangan Nara. Bima memejamkan mata, takut salah melihat dan takut yang dihadapannya hanya imajinasi semata akibat kerinduannya pada si buah hati juga pada mantan istrinya. Namun, suara bocah kecil yang selalu terngiang di ruang rindunya memecah keterpakuannya.
“Om Beruang?” Nara tampak senang, ia melepaskan tangannya yang digenggam sang bunda dan berjalan mendekati Bima, sedangkan lelaki jangkung itu masih tak menyangka akan kehadiran mereka di tempat sepinya.
“Om Beruang kenapa ada di sini? Nara datang ke sini mau ketemu Ayah,” ucapnya riang.
Bima menatap penuh tanya pada Viona, lidahnya kelu tak tahu harus mengatakan apa. Viona ikut melangkah mendekat kemudian menggendong Nara. Ia tampak menghela napas dalam dan menelan ludahnya susah payah.
“Nara, sebenarnya… Om Beruang ini… Om Beruang ini, Ayah Nara,” ucap Viona pelan pada sang buah hati.
Bima membulatkan mata, menatap tak prcaya pada Viona. Rasa senang juga haru bercampur baur menjadi satu, sementara bocah kecil itu tampak kebingungan, menatap bergantian pada Bima dan Viona.
“Ini ayah Nara?” tanya bocah itu pada bundanya.
“Iya sayang, ini Ayah Nara,” ucap Viona kembali tanpa ragu dengan senyuman, suaranya mulai tercekat dan matanya berkaca-kaca.
Bima ingin sekali meraup Nara ke dalam pelukannya, tetapi ia menunggu dengan sabar lantaran sang anak masih tampak kebingungan.
“Ayah?” Nara terpaku menatap Bima kini.
Bima mengangguk. “Iya sayang, ini Ayah,” jawab Bima serak.
Ia membuka kedua tangannya ingin menggendong Nara. Sejenak Nara tampak ragu, tetapi sesaat kemudian bocah itu berpindah dari pangkuan Viona ke gendongan Bima dan tersenyum gembira.
“Asik, Om Beruang Ayahnya Nara," ucap bocah itu dengan polosnya. Sementara Bima tak mampu menahan haru, air bening luruh dari sudut matanya tak terbendung lagi, akhirnya buah hatinya kini memanggilnya dengan sebutan yang seharusnya.