
Bima terhenyak, ponsel digenggamannya lolos begitu saja hingga luruh ke lantai. Wajahnya pucat, pikirannya kalut, ditambah efek kecanduan yang sedang menerjangnya semakin memperburuk suasana hatinya saat ini.
Dia benar-benar berada di ambang kebuntuan. Temannya mengatakan jangan menghubungi Reva lagi karena si bandar wanita itu telah tertangkap polisi jika ingin dirinya tak terlacak sebagai pemakai, sedangkan Bima baru saja melakukan hal yang diwanti-wanti oleh temannya.
Kecemasan yang nyata melingkupi dirinya. Bima mengambil ponsel yang biasa dipakainya menghubungi Reva dan mencampakkannya ke lantai dengan kencang, membuat layarnya pecah lalu menginjak-injaknya dengan sekuat tenaga hingga hancur tercerai berai menjadi beberapa bagian.
Dipungutinya dengan cepat kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam. Ia juga pergi ke kamar mandi, memunguti kemasan obat yang berserak tadi dan memasukkannya ke dalam plastik hitam yang sama.
Tangannya gemetaran, helaaan napasnya tak beraturan, rasa takut semakin merayap tak terelakkan. Bima berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya seperti orang linglung, setelah beberapa saat ia duduk di ujung sofa dan menyambar ponselnya kemudian menghubungi Viona.
"Vi."
"Iya, Mas?" Viona menyahut panggilan telepon Bima.
"Aku ingin mengajakmu dan juga Nara berlibur. Tapi aku ingin berangkat sekarang juga, bisakah kamu menyiapkan keperluan kita dengan cepat?"
"Kenapa mendadak sekali?" Suara Viona terdengar keheranan sekaligus terkejut.
Mengenai villa yang dimaksud, bukanlah tempat yang dibelinya baru-baru ini, melainkan sudah menjadi miliknya semenjak membujang hanya saja Viona tidak mengetahui tentang aset Bima yang satu ini begitu juga dengan orang tuanya. Dulu Bima membelinya sebagai tempatnya memakai narkoba agar leluasa dan terhindar dari pengawasan ayah dan ibunya.
"Apa tidak bisa ditunda besok, Mas? Ini sudah sore dan juga aku harus membeli beberapa keperluan Nara jika hendak berlibur," jelas Viona.
"Aku ingin berangkat sekarang agar tidak membuang waktu. Mengenai keperluan Nara, kita bisa membelinya di perjalanan. Kamu cukup membawa pakaian kita saja dan juga Nara. Kumohon mau ya, please? Aku sudah tak sabar ingin berkunjung ke sana dengan kalian sekarang juga." Bima tetap ngotot dengan suara memelas berharap istrinya itu luluh dan menuruti permintaannya tanpa bertanya lebih lanjut lagi tentang alasannya.
"Mmm, ya sudah. Baiklah suamiku." Akhirnya Viona luluh juga dan menyetujui ajakan Bima untuk berlibur dadakan.
"Thank you sayang. Mmuach mmuach, segera berkemas, sebentar lagi aku akan datang menjemput kalian." Bima menutup panggilan teleponnya.
Bima beranjak membereskan beberapa barang yang hendak dibawanya dari kantor. Ia juga membuka brankas kecil yang tersimpan di ruangannya, mengambil semua isinya yaitu jatah uangnya yang biasa dipakainya untuk membeli barang laknat menyesatkan itu.
Bima melangkahkan kaki tergesa-gesa keluar dari ruangannya, bahkan Adrian si sekertarisnya yang menyapa ramah tak dihiraukannya. Melarikan diri sejauh mungkin hanya itu yang terlintas di benaknya saat ini, tetapi ia tak ingin berjauhan dengan anak istrinya sehingga memutuskan untuk membawa serta mereka dalam pelariannya dengan alasan liburan. Mengenai reaksi istrinya nanti jika mengetahui kebobrokannya, Bima tak ingin memusingkannya sekarang, yang jelas saat ini pergi sejauh mungkin lebih penting dari pemikiran apapun.