
Di tempat lain, Arjuna mencengkeram ponselnya geram, kala foto-foto Viona memasuki apartemen seseorang dikirimkan ke ponselnya dari orang-orang suruhannya. Mereka melaporkan bahwa unit yang dimasuki Viona adalah milik Bima Prasetyo, pengusaha yang tergabung dalam naungan Sinar Abadi Grup. Sejak hubungannya kembali mencair, dia menyewa orang-orang professional di bidangnya untuk membuntuti ke mana Viona pergi.
Juna menyandarkan punggung di kursi empuk yang dilapisi kain oscar warna coklat tua. Menarik dan mengembuskan napas kasar, mencoba meredam amarah yang menggelegak bergolak di seluruh aliran darahnya.
Jemarinya bergulir dilayar ponsel, dia rupanya menghubungi Abdul yang akhir-akhir ini sangat sering ditemuinya dalam melancarkan misinya meluluhkan hati Abdul demi mendapatkan Viona.
“Om, akhir pekan ini bagaimana kalau kita pergi bermain golf bersama? Ada tempat golf baru milik teman saya yang baru dibuka, dia meminta ulasan guna memromosikan tempat tersebut, apalagi ulasan dari orang-orang penting yang menyukai olahraga ini seperti Anda,” pujinya sengaja agar Abdul makin bersimpati.
“Kamu memang paling mengerti Om. Kita berangkat bersama ke sana akhir pekan nanti,” sahut Abdul di seberang telepon, suaranya terdengar sumringah.
“Dan juga ada yang ingin saya bicarakan tentang hal penting lain, ini tentang Viona.”
“Kebetulan sekali, Om juga ingin membahas tentang hubungan kalian.”
“Baik Om, sampai jumpa akhir pekan.”
Kegusarannya mulai surut, rahangnya yang mengeras mulai kembali mengendur. Ia tersenyum puas, karena usahanya selama ini untuk membuat Abdul berada di pihaknya membuahkan hasil.
“Bima, tunggu kekalahanmu. Viona akan menjadi milikku, segera!”
Sita si manajer butik sering mendapati bos-nya tersenyum sendiri beberapa waktu terakhir ini, dan entah kenapa Viona juga sering mengusap puncak kepalanya lalu merona setelahnya, persis seperti anak remaja yang sedang naksir seseorang.
“Bu Viona kenapa akhir-akhir ini agak aneh ya? Kayak orang lagi jatuh cinta.”
Sita yang kini tengah mengamati Viona dari kejauhan mulai bertanya-tanya akan reaksi tak biasa sang bos. Sita sedang mendampingi para pekerja memajang display gaun, harusnya ia fokus pada pekerjaannya, tetapi gerak-gerik Viona sungguh membuatnya penasaran.
“Ada apa sebenarnya?” cicitnya lagi.
Viona membuka tutup kunci ponselnya sejak tadi, dia melakukannya secara berulang, apa yang dipikirkan kepala cantiknya saat ini hanya dia yang tahu. Tangannya kembali menyentuh puncak kepalanya di mana Bima mengecupnya dua minggu yang lalu, entah sudah yang keberapa kalinya dia mengulangi hal serupa sepanjang hari, untung saja rambutnya tak lecet disapa telapak tangannya berulang. Mengingat hal itu membuat Viona memerah dengan sendirinya, walaupun dia pura-pura tak tahu Bima melakukan itu padanya ketika di apartemen.
Wanita cantik yang hari ini memakai gaun hitam selutut berlengan pendek itu tengah menimbang-nimbang sambil memandangi ponselnya berulang kali. Sebetulnya sejak tadi ia ingin mengirim pesan singkat pada Bima dan menanyakan keadaanya hanya untuk berbasa-basi, tetapi ia mengurungkannya karena gengsi, lagipula besok adalah jadwal Bima bertemu Nara, jadi dia juga bisa melihat lelaki yang kini terus menggelitiki segumpal daging di dalam rongga tubuhnya.
Ponselnya berbunyi nyaring juga bergetar. Viona tersentak dari lamunannya hingga benda kotak ditangannya itu nyaris jatuh. Dilihatnya di layar muncul pesan dari ayahnya.
Vi, nanti malam datanglah ke rumah, ajak Nara juga. Ayah mengadakan pesta makan malam sederhana. Jangan lupa, dandan yang cantik.
Setelah membaca pesan itu Viona mulai memutar otaknya untuk berpikir, apakah ini hari spesial sehingga ayahnya mengadakan pesta? Hanya saja seingatnya tak ada hal penting di tanggal ini.