Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
The Ending



Sepuluh bulan kemudian.


"Sayang, tolong pilihkan bajuku."


Bima baru selesai membasuh diri. Satu jam yang lalu dia baru pulang dari kantornya dan kini tengah bersiap hendak berangkat lagi ke stasiun televisi untuk memenuhi undangan acara talkshow sebagai narasumber pembahasan seputar narkoba.


Tujuh bulan lalu Bima memutuskan menerima tawaran Hana. Ia menimbang cukup lama kemudian dirundingkan dengan keluarga besarnya setelah Viona menyetujui sebelumnya. Pro dan kontra memang mencuat, tetapi kedua orang tuanya juga mertuanya mendukung apapun keputusannya.


Ia menjadi salah satu narasumber paling diminati di setiap acara yang membahas seputar narkoba. Entah itu di kampus-kampus, acara yang diselenggarakan pemerintah, maupun undangan talkshow dari stasiun televisi.


Seperti terkaan Bima pada awalnya. Cibiran miring masih terlontar kala Bima membuka diri pada dunia bahwa dirinya mantan pecandu. Akan tetapi Viona selalu menguatkannya, begitu pun dirinya melakukan hal serupa pada istri dan anak-anaknya, seiring waktu cibiran itu semakin temaram dan meredup.


"Aku ingin memakai setelan rancangan istriku." Bima menopangkan dagu di bahu Viona yang sedang menyiapkan pakaian untuknya. Melingkarkan kedua lengannya memeluk lalu iseng mendaratkan bibir nakalnya di sisi leher Viona mengecupi di sana.


"Pakai setelan yang warna marun saja. Ini rancangan terbaruku. Bagaimana?" Viona mengambil sebuah setelan mewah dari dalam lemari dan berbalik badan.


"Aku suka. Rancanganmu yang terbaik. Bantu aku berpakaian," pinta Bima seraya mengecup bibir Viona mesra sekilas yang langsung ditanggapi dengan anggukkan.


"As you wish, Husband." Viona tersenyum manis dan mulai membantu Bima berpakaian, memastikan sang suami berpenampilan rapi sempurna setiap harinya.


"Semoga acaranya lancar. Aku selalu menonton kemunculan suami hebatku di televisi," ucap Viona antusias setelah memakaikan jas pada Bima sebagai sentuhan terakhir.


"Aamiin, terima kasih, Sayang," ucapnya penuh syukur sarat akan rasa Terima kasih. "Dukunganmu segalanya bagiku." Bima menyatukan kening mereka dengan mata memejam sambil memeluk pinggang Viona.


"Hei dasar nakal! Sudah waktunya berangkat!" Viona menepuk pundak Bima mengingatkan. Jika tidak diingatkan dengan segera, mungkin Bima malah tidak jadi berangkat mengingat si murahan di bawah sana mudah sekali tegak berdiri jika dirinya bergesekkan kulit dengan tubuh memabukkan favoritnya, karena tangan nakalnya kini malah menyingkap dress yang dipakai Viona, menyusup masuk meremas nakal bokong sang istri. Ah, mereka memang selalu mesra di setiap kesempatan.


Sopir sudah bersiap di halaman dan menghidupkan mesin salah satu mobil mewah tuannya. Viona dan Bima bergandengan tangan menuruni tangga bersamaan dengan Bisma yang menyambut di bawah tengah merengek di gendongan salah satu pengasuh. Bisma mengangkat kedua tangannya melihat kemunculan ayah bundanya.


Viona langsung mengambil alih dan menggendong bayi laki-lakinya yang begitu montok menggemaskan. Sementara Nara masih berada di tempat les untuk mengikuti persiapan memasuki sekolah dasar.


"Yayach," celoteh bayi gendut berpaha montok itu dengan bahasa bayinya sembari tertawa senang menampakkan gusi ompongnya.


Bisma berjingkrak senang digendong bundanya dan langsung berhenti merengek. Kemudian bayi itu menyondongkan tubuh meminta digendong sang Ayah.


"Yayach," ujar si bayi sambil bertepuk tangan.


Bima langsung meraup Bisma. "Halo boy, jagoan gendut kangen sama Ayah ya?" Bima mengecup gemas pipi gembul putranya yang beraroma wangi bayi menyenangkan. Sejak pulang tadi ia belum sempat menyapa karena sibuk


"No ... no," celotehnya. Bisma mendaratkan tangan mungilnya memukul mulut Bima seolah tak terima dipanggil gendut padahal kenyataannya demikian.


"Mbum ... mbum." Bayi itu mengarahkan tangannya menuju keluar rumah tepat ke arah sedan hitam dengan sopir yang sudah duduk di kursi kemudi. Mungkin maksudnya ingin mendekati mobil.


"Baby boy sama Bunda dulu ya, nanti malam kita main sama Ayah sama kakak. Ayah mau berangkat dulu," ucap Bima. Ia hendak menyerahkan Bisma pada Viona lantaran waktu berangkat sudah tiba, tetapi bayi itu malah memeluk leher Bima kencang.


"No .... no." Bisma memajukan bibirnya dan menepis tangan Viona berulang kali yang hendak mengambil alihnya dari sang ayah.


"Ya ampun, selalu saja begini. Bunda yang mengandungmu, Nak. Tapi kenapa kamu lebih menyukai Ayahmu?" Viona berdecak dengan kepala menggeleng membuat Bima terkekeh pelan. Memang begitulah setiap harinya, Bisma selalu lengket pada ayahnya setiap kali ada kesempatan.


"Mungkin karena dia tahu, akulah yang rajin menyiramnya hingga tumbuh subur sehingga kini dia jadi gendut montok berotot di sana sini," jawab Bima sambil tertawa menyeringai jahil.


"No ... no!" Bisma mengigit hidung mancung ayahnya kesal hingga liurnya membasahi wajah sang ayah, setiap kali kata gendut terlontar bayi itu pasti marah.


Dibujuk sedemikian rupa pun bayi gembul itu tak mau luluh, sampai akhirnya Nara pulang. Nara seperti pawang Bisma, si tampan itu berhenti merengek dan mau kembali digendong Viona ketika melihat kakaknya dan langsung berubah jinak sambil memanggil-manggil Nara dengan suara bayinya.


"Ttata ... bbbubah," celotehnya senang dan kakinya ikut menendang-nendang lincah entah apa maksudnya.


Setelah situasi aman terkendali Bima berpamitan, tak lupa mengecup istri dan anak-anaknya bergantian sebelum masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dari sana. Viona mengantar dengan lambaian tangan dan do'a setiap kali Bima berangkat keluar rumah, tak pernah bosan dan akan selalu begitu hingga akhir hayat.


Setiap kali Bima mengisi acara talkshow di saluran televisi, Viona tak pernah absen menontonnya, begitu pula dengan para orang tua. Abdul yang beberapa waktu lalu masih enggan banyak berbincang dengan Bima, kini perlahan melunak meski belum sepenuhnya, sedikit demi sedikit mencair laksana gunung es yang terayu hangatnya mentari.


Mata Viona berpendar bangga dengan senyum yang terus menghiasi pada sosok tampan yang muncul di televisi. Nara duduk di sebelahnya dan Bisma di pangkuan ikut menyaksikan. Bima kini menjadikan noda hitam yang melekat di dirinya sebagai pengingat yang bermanfaat bagi orang lain, tak lagi menjadi aib melainkan menjadi teladan.


Di setiap akhir sesi acara, Bima tak pernah lupa untuk mengungkapkan rasa syukurnya pada Viona juga anak-anak. Ungkapan penuh cinta untuk tulang rusuknya juga keturunannya. Seperti di akhir acara talkshow kali ini.


Terima kasih tak terhingga selalu tercurah untuk sosok wanita hebat yang tak pernah lelah mendukung dan setia mendampingiku, istriku, ibu dari anak-anakku. Bunda dan anak-anak, i love you.


Rasanya masih seperti mimpi bagi Viona dan Bima. Memiliki keluarga yang utuh dan lengkap bersama putra-putrinya kini. Juga merasakan indahnya dicintai juga mencintai dalam jalinan yang lebih kuat setelah biduk rumah tangga mereka sempat karam. Mungkin beginilah perjalanan takdir kisah mereka. Penuh liku yang tak terduga juga dihiasi derai air mata.


Selepas kehancuran yang menyinggahi berlalu mereka sangat menghargai manis yang kini dicecapnya. Terasa berkali-kali lipat lebih indah dan nikmat setelah pernah merasakan kehancuran dan kehilangan satu sama lain dalam kubangan rasa pahit getir.


Badai-badai lain sudah pasti masih akan menghadang mereka dalam mengarungi samudera kehidupan, tetapi kini kapal mereka lebih kokoh dan tak mudah diterjang gelombang, berfondasikan cinta tulus juga kasih sayang yang tak pernah lekang. Saling menguatkan satu sama lain melayarkan bahtera hingga kisah usai. Sama-sama mengikat simpul yang tak bisa diurai dan hanya ajal yang diizinkan menjadi pemisah.


TAMAT



Alhamdulillah, akhirnya novel kedua yang kutulis selesai. Novel ini sempat hiatus lama terkendala beberapa hal terutama kesibukan pribadi author.


Terima kasih tak terhingga author haturkan kepada para pembacaku tercinta, tersayang yang selalu setia menanti cerita Bima dan Viona, menemani dari awal hingga akhir. Semoga para pembaca dapat memetik hikmah baik dari cerita ini bukan hanya sekadar hiburan semata. Tanpa dukungan kalian yang membaca ceritaku, aku bukanlah apa-apa.


Sampai jumpa lagi di cerita-ceritaku yang lainnya. Follow juga igku @Senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis. Klik juga profilku untuk membaca karyaku yang lainnya.



Thanks a lot my beloved readers ❤, love you all 🤗.


Source pic: by Pinterest