
“Mau ke mana, Bim? Di mana Viona?” tanya Rima saat melihat Bima menuruni tangga.
“Viona lagi tidur sama Nara, Bu. Aku mau mengambil sesuatu di mobil. Di mana ayah?” Bima menjelajahkan matanya, tetapi tak kunjung melihat keberadaan Abdul.
“Ayah ada di kolam taman belakang. Sedang bercengkerama dengan ikan-ikan Koi kesayangannya. Untuk malam ini kalian menginaplah di sini, lagipula besok hari minggu bukan? Rumah besar ini sering terasa sepi dan jika ada Nara barulah suasana menjadi ramai.”
“Baiklah, Bu.” Bima mengangguk seraya mengulas senyum. “Lagipula aku kangen masakan Ibu, rasanya belum puas jika hanya mencicipi sekali saat makan siang tadi.”
Raut wajah Rima begitu senang saat sang menantu mengiyakan permintaannya bahkan merindukan masakannya. Begitulah seorang Ibu, kadang hanya hal sederhana seperti ini pun mampu membuatnya tersenyum bahagia.
“Akan Ibu buatkan, kamu mau dimasakin apa bilang saja ya. Ibu ke kamar dulu.” Rima menatap penuh syukur dan menepuk bahu menantunya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.
Bima menuju garasi dan membuka bagasi mobilnya. Mengambil bungkusan berbentuk kotak yang ukurannya cukup besar, sebesar pigura foto pernikahannya dengan Viona. ia kemudian membawa bungkusan tersebut ke taman belakang, menghampiri Abdul yang sedang duduk di kursi tepi kolam.
Abdul memang memberikan restunya atas pernikahan kedua kalinya dengan Viona, hanya saja sampai saat ini mertua laki-lakinya itu belum banyak mengajaknya berbicara. Berbeda dengan pernikahan pertamanya dulu, Abdul begitu antusias bertukar kata membahas ini dan itu dengannya.
Lelaki tampan berhidung mancung itu maklum. Abdul pastilah masih memendam sangsi akan dirinya yang sekarang. Abdul pasti masih sulit meletakkan keprcayaan sekali lagi padanya. Untuk itu Bima takkan memaksakan, akan mencoba perlahan-lahan memperbaiki hubungan komunikasinya dengan Abdul.
“Lagi apa Yah?” sapa Bima yang ikut mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Abdul.
“Ah… ini lagi ngasih makan ikan,” sahut Abdul yang masih tampak canggung jika mengobrol berdua saja dengan Bima.
“Nara sering bercerita kalau dia punya ikan Koi kesayangannya di kolam ini. Katanya namanya Pumpkin,” tukas Bima.
“Ya, Pumpkin ikan Koi yang paling besar di kolam ini. Jenis Goromo, yang warnanya cantik itu.” Abdul mengarahkan telunjuknya ke arah seekor ikan Koi yang sedang berenang lincah kesana kemari, berwarna dasar putih dengan corak merah bertepi biru yang cantik.
Seulas senyum hangat juga terukir di wajah Bima kala mendengar cerita tentang putri kecilnya. Ia kemudian menyerahkan bungkusan besar yang tadi dibawanya kepada Abdul. “Ini ada oleh-oleh sederhana dari Bali buat Ayah. Aku sendiri yang memilihnya.”
Bima memang sengaja membeli hadiah itu saat pameran. Ia langsung teringat ayah mertuanya ketika melihat benda klasik itu di sana dan memutuskan membelinya meskipun harga yang dibanderol cukup tinggi.
“Semoga sesuai dengan selera Ayah. Aku ke dalam dulu.” Bima undur diri dengan sopan dan membiarkan Abdul menikmati waktunya. Berharap mertuanya menyukai hadiah yang dipilihkannya.
Sepeninggal Bima, Abdul masih tertegun. Hanya menatap lurus ke arah bungkusan di sampingnya. Lama dia termenung, kemudian akhirnya tangannya bergerak merobek bungkusan dengan hati-hati.
Senyum senang langsung terbit. Ternyata isinya adalah sebuah lukisan yang begitu pas dengan seleranya.
*****
“Wah, lukisan yang bagus. Sangat pas dengan selera Ayah.” Rima mengomentari saat Abdul membawa sebuah lukisan klasik ke dalam ruang kerja dan menggantungnya di dinding bersama koleksi lukisannya yang lain.
“Bagus kan, Bu? ujarnya sumringah. Abdul menatap lukisan tersebut dengan mata berbinar.
“Iya, bagus. Dari mana ayah dapat lukisan baru?” tanya Rima.
“Ini oleh-oleh dari Bali. Bima yang membelikannya untuk Ayah.” Abdul menjawab tanpa memalingkan matanya dari goresan kuas memukau itu.
Rima ikut tersenyum senang, Bima benar-benar berusaha memperjuangkan Viona kini. Ia juga merasa lega, setidaknya setahap demi setahap Abdul mulai mencairkan gunung es yang tertancap dihatinya, mengurai kebekukan yang telah lama bersemayam di sanubarinya.