
“Vionaaa….”
Ibel menghambur menyambut kedatangan Viona, keduanya janji bertemu di restoran pasta favorit mereka sejak dulu. Restoran yang didesain dengan gaya klasik, lebih banyak menggunakan ornamen warna kayu juga batu alam sebagai dekorasinya, meja dan kursinya pun terbuat dari kayu jati, dengan pilar-pilar bambu berjejer sebagai pemanis.
Mereka berpelukan melepas rindu kemudian duduk saling berhadapan. Setelah Ibel mempunyai momongan, mereka sepakat untuk saling memanggil dengan sebutan ‘aku dan kamu’, menanggalkan sapaan mereka yang dulu agar lebih sopan jika percakapan mereka didengar anak-anaknya.
“Duuhh… ini orang Belanda makin seksi aja,” canda Viona.
Ibel kini terlihat lebih berisi.
Dia berhenti menjalani karirnya sebagai model dan memilih menjalankan bisnis restoran sunda milik keluarga Zoey di Belanda di sela-sela kesibukannya sebagai seorang ibu juga istri.
“Iya dong, lagi program kehamilan lagi nih.”
“Wow, gaspol ceritanya?” Viona terkekeh ringan.
“Akh, Zoey setiap hari emang selalu gaspol kalau masalah menyelam di tempat tidur,” sahut Ibel genit dan keduanya cekikikan bersama.
“Kapan mendarat di Bandung?” tanya Viona.
“Dua hari yang lalu. Rencananya dua minggu di sini, mumpung Zoey ada kerjaan di Indonesia jadi sekalian deh aku ikut. Oh iya, tadi aku ketemu Tante Rima di supermarket. Kamu… beneran mau tunangan sama Juna?” tanya Ibel penasaran.
Untuk sejenak Viona mematung, menghela napas dan menjawab malas. “Hmm… itu benar,” sahutnya tak bersemangat.
Ibel menelisik ke dalam mata sahabatnya itu, dia menemukan keraguan juga kegamangan bercokol di sana.
“Atas dasar apa memutuskan bertunangan dengannya? Kamu mencintai Juna?” Ibel mencecar Viona penuh selidik.
“Entahlah… akupun tak tahu.” Viona mengusapkan kedua telapak tangan di wajah berangsur hingga rambut, ia menunduk dan menghela napas sarat akan beban cerminan hatinya yang gundah.
“Kalau nggak yakin sama perasaan sendiri kenapa memaksakan diri? Apa karena alasan hutang budi atas semua yang sudah dilakukannya selama ini? Tapi hutang budi tak bisa menjadi pondasi kuat dalam suatu hubungan terlebih lagi pernikahan,” tukas Ibel mengemukakan pendapatnya.
“Tapi selama ini Juna sudah sangat baik padaku juga Nara, aku tak sampai hati mengabaikan perasaanya,” jawabnya lesu.
Pembicaraan mereka terhenti kala pelayan restoran menghampiri untuk mencatat pesanan mereka.
Suara tak asing tertangkap di indera pendengaran Viona, secara impulsif ia menoleh dan matanya langsung memaku pandangan pada laki-laki jangkung yang begitu menawan. Memakai celana abu-abu dipadu atasan kemeja warna hitam dengan bagian lengan digulung sampai siku. Di lengan kekar menggiurkan itu seseorang bergelayut manja, seseorang yang terus menghantui malam-malamnya serupa mimpi buruk.
Ibel menatap heran pada Viona yang tampak kesal, lantas dia mengikuti arah pandang sahabatnya dan sedikit terperangah lantaran yang dipelototi Viona adalah Bima yang sedang bergandengan dengan wanita.
“Vi? Viona!” Ibel mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Viona.
“Eh i-iya Bel.” Viona terperanjat kaget dan berusaha menetralkan air mukanya.
“Kenapa kamu liatin mantan suamimu kayak gitu? udah kayak mau loncat aja tuh mata.”
“Enggak kok! Mataku kan emang gini.” Viona mencoba mengelak ditengah pergulatan batinnya. Ingin rasanya ia merangsek ke sana dan menepiskan tangan Hana dari lengan Bima.
“Kamu pikir aku berteman denganmu itu baru kemarin sore huh? Tapi ceweknya kayaknya akrab banget ya sama mantan suamimu? Apa mungkin pacarnya?” Ibel terus mengoceh belum menyadari bahwa Viona sedang memanas.
“Mana kutahu! Tanya aja sendiri!” sembur Viona bersungut sungut dengan nada geram, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
“Yeee… malah sewot. Aku kan Cuma nanya!” Ibel menjitak jidat Viona gemas. “Kamu cemburu ya, lihat mantan suami bawa gandengan,” goda Ibel dengan sengaja.
“Si-siapa yang cemburu!” sambar Viona tak terima. “Nggak lah, hahaha…” Viona tertawa sumbang.
“Heyy… dasar!” Ibel melipat bibir berusaha menahan tawanya, raut muka Viona sangat kentara bahwa dirinya tengah dibakar cemburu, itu artinya Viona masih memendam rasa cinta untuk Bima. Ibel sangat mengenal sahabatnya, saat Viona jujur maupun berbohong dia sudah hapal betul seperti apa cirinya.
“Vi, yakin mau menghabiskan seluruh hidupmu dengan orang yang nggak dicinta? Balas budi tidak selalu harus dengan menuruti semua permintaanya bukan? Takkan ada kebahagiaan di dalamnya, pada akhirnya kalian semua hanya akan menuai derita.”
Viona terdiam, tertunduk dengan tangan terjalin saling meremas. Kegundahan semakin menyeruak. “Terus aku harus gimana Bel?” desahnya bingung.
“Luangkan waktu untuk merenung. Pikirkan lagi semuanya dengan kepala jernih, jangan sampai menyesal di hari kemudian. Telaah perasaanmu sendiri, tanya hatimu, adakah getaran rasa itu untuk Juna? Atau justru rasa itu berdesir untuk orang lain?”
*****
Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers, biar author makin semangat 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya.
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan melalui kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.