
“Sedang apa Anda ada di sini malam-malam begini, Pak Bima?” Juna begegas menghampiri dan merangkulkan lengannya di pinggang Viona.
“Kamu sendiri, mau apa malam-malam begini datang kemari?” balas Bima tak mau kalah.
“Ini malam minggu, tentu saja aku datang untuk mengunjungi kekasihku.” Juna menyahut dengan pongahnya.
“Hari ini adalah jadwalku menghabiskan waktu dengan Anakku,” jawab Bima santai.
Matanya seketika tertuju pada tangan Juna yang merangkul posesif merapat ke tubuh mantan istrinya. Bima berusaha menahan diri untuk tidak serta merta menarik Viona dari dekapan Juna ketika melihat wanita itu bergerak tak nyaman seperti ingin menghindar.
“Ah, benar juga. Tapi untuk kedepannya kuingatkan agar kau membatasi kunjunganmu ke rumah ini, dan sepertinya kurang pantas jika mantan suami pulang terlalu malam dari rumah mantan istrinya, ingat kalian hanya mantan.” Juna berucap rendah sambil melempar senyum menusuk.
“Mas Bima baru bisa pulang karena Nara rewel dan tak mau ditinggalkan,” jawab Viona menoleh dengan tatapan tak suka akan sikap Juna.
“Kamu dengar itu? Aku di sini untuk anakku, mau sampai kiamat pun Nara tetap anakku, jadi kamu tak berhak melarangku datang ke rumah ini. Kuharap kamu mengingat itu, Tuan Arjuna. Lagipula jika aku bertemu Viona sekalipun kamu tidak dalam posisi bisa mengatur-aturku. Kamu hanya kekasih Viona, bukan ayah ataupun suaminya.” Bima berucap tenang sambil mengulas senyum tipis yang menurut Juna seperti tengah mengejeknya.
Tangan Juna mengepal di sisi tubuhnya. Memang seperti perkiraannya, menyingkirkan Bima dari kehidupan Viona bukanlah hal mudah, masalah hubungan darah sialan karena adanya anak di antara mereka yang akan terus menjadi duri menurutnya.
“Untuk sekarang mungkin aku hanya kekasih Viona, tapi kuberitahu padamu, kami akan segera bertunangan dan setelah pertunangan tentu saja kami akan melanjutkan ke jenjang pernikahan, jadi kuharap kau menjaga jarak dengan calon tunanganku mulai sekarang!” Juna melontarkan kalimatnya dengan nada memaksa diiringi sorot mata tajam.
“Juna, kamu kenapa jadi begini sih? Aku sudah pernah menjelaskan padamu tentang hal ini dan ayahku pun menyetujuinya, jika kamu memutuskan mempunyai hubungan denganku, maka kamu harus bisa menerima konsekuensi ini.”
“Kenapa kamu jadi membelanya?” Telunjuk Juna mengarah pada Bima.
“Jangan lupa, kamu itu calon tunanganku. Kamu harus menjaga jarak dengannya!” Juna membentak penuh emosi membuat Viona berjengit kaget.
Bima yang sejak tadi berusaha menahan diri mulai tersulut. Dia menarik Viona ke belakang tubuhnya, apalagi saat Juna membentak Viona di depan matanya terkesan amat sangat mengekang padahal mereka belumlah menjadi suami istri. Jika mereka adalah pasangan sah Bima pun pasti enggan mencampuri karena itu sudah bukan ranahnya.
“Jaga sikapmu, Arjuna. Kamu menakutinya. Jika kamu tulus menyayangi Viona, maka kamu harus menerima segala yang ada pada kehidupan Viona termasuk aku yang mungkin akan selalu ada sebagai Ayah Nara. Jangan khawatir, jika Viona sudah memutuskan untuk bersamamu, aku hanya akan mendo’akan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian. Jaga Viona dengan baik, jika tidak aku akan merebutnya darimu. Camkan itu!”
*****
Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya, thank you 💕.
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.
Regards
Senjahari_ID24