
Sore ini, Rima termenung sendirian di taman belakang rumahnya, bersandar di kursi taman ditemani semilir angin. Di atas meja bulat di hadapannya tersaji secangkir teh yang masih mengepul. Aroma sedap dari seduhan daun teh terbaik itu menguar menari di udara, begitu segar berpadu semerbak bunga-bungaan yang bermekaran di sana.
Pikirannya menerawang, tatapannya menerobos ke kolam ikan koi tepat di sebelah kiri di mana ia tengah duduk. Suara gemericik air serupa lagu alam menenangkan, juga lincahnya para ikan koi berenang berlalu lalang yang kadang saling bertumbukan mampu sedikit mengobati kegundahan di hatinya.
Penuturan Bik Yati kemarin siang masih terngiang-ngiang di telinganya, tentang Viona dan Bima. Bik Yati juga menunjukkan beberapa buah foto di ponsel usangnya, foto kebersamaan Viona dan Bima yang diam-diam diambil Bik Yati. Gambarnya memang tak begitu jernih, tetapi Rima tak bisa berpura-pura buta bahwa putrinya memang terlihat begitu bahagia bersama Bima.
Juna memanglah baik, Rima mengakui itu. Akan tetapi ia dapat membaca bahwa dengan Juna, Viona merasa nyaman, hanya nyaman tak lebih dari itu. Bahkan ia cukup terkejut ketika Abdul mengutarakan rencana pertunangan Viona dan Juna sewaktu makan malam kala itu, pasalnya suaminya sama sekali tak memberitahu sebelumnya.
Serupa trauma menghampiri Rima, takut keputusan Abdul kali ini melukai putrinya sekali lagi, kendati sang suami meyakinkan bahwa ini adalah yang terbaik bagi Viona.
Rima dilanda kegamangan. Di sisi lain, ia ingin Viona bahagia, tetapi ia juga masih tak yakin membiarkan Viona memilih kembali bersama Bima. Ada keraguan menelusup di hati, takut putri tersayangnya tersakiti lagi. Sedangkan jika dengan Juna, mungkin saja Viona takkan tersakiti, namun apakah Viona bahagia, sementara rasa cintanya tertambat pada Bima sebagaimana pengamatan Bik Yati beberapa waktu terakhir.
Rima akhirnya memutuskan untuk menemui Viona di rumahnya, tak berlama-lama ia segera mengambil tasnya dan meminta sopir mengantarnya.
*****
“Ada, Pak. Beberapa bulan sebelum Anda kembali bekerja, mereka ingin menjual produk teh unggulan yang biasa kita kirim ke luar negeri. Mereka mengatakan butuh produk-produk premium untuk mengisi pasar online mereka agar standarnya lebih eksklusif. Awalnya Pak Malik sempat menolak karena hasil produksi teh kita tak dijual dalam skala kecil. Tetapi mereka memohon berulang kali, mereka juga tak menyantumkan poin kesepakatan ganti rugi pembatalan dalam kerja sama ini jika Pak Malik bersedia menjadi mitra, karena memang merekalah yang meminta bukan kita yang mengajukan. Akhirnya ayah Anda menyetujuinya meskipun mereka terkesan mendompleng nama besar Sinar Abdi Grup untuk kepentingan intern mereka.”
“Berarti Papa juga agak keberatan ya? Hanya saja karena mereka memohon terus-menerus akhirnya Papaku menyetujuinya? Benar begitu?” tanya Bima. Ia menutup dokumen dan mengetuk-ngetukkan penanya di meja.
“Benar Pak. Karena hanya Sinar Abadi Grup yang mempunyai grade teh terbaik di negeri ini juga Asia Tenggara, sehingga produk kita selalu setia menembus pasar luar negeri dalam jumlah besar. Mereka memang menjadikan produk kita sebagi produk ekslusif unggulan, dan sejak memasarkannya perusahaan mereka berkembang pesat, meski harga yang dibanderol untuk produk kita adalah yang termahal, tapi ternyata peminatnya sangat luar biasa.”
“Hmm… aku mengerti. Kalau begitu, Batalkan kerjasama dengan Shoppinghome. Tarik semua produk kita dari jejaring pemasaran mereka. Jika kedapatan melanggar, kita akan memperkarakannya ke meja hijau karena menjual barang tanpa izin yang sah dari pemilik lisensinya,” perintah Bima tanpa Ragu.
“Hah? Tapi kenapa Bos?” Adrian masih tak mengerti.
“Batalkan saja. Aku tak ingin menjalin kerjasama dengan orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Seharusnya mereka tak diberi panggung di dunia bisnis ini. Tanpa mereka pun peminat untuk produk kita selalu tinggi, bahkan kita terkadang kewalahan memenuhi permintaan. Biar aku yang memberi tahu Papaku.”
“Baiklah." Adrian mengangguk, keluar dari ruangan Bima dan mengambil dokumen yang telah selesai ditanda tangani.