Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Baju Bola



Pagi harinya Bima mengantarkan Viona ke butik. Lelaki itu bahkan ikut masuk mengantar hingga ke ruang kerja sang istri. Matanya menjelajah seisi ruangan Viona, memindai setiap sudut dan memeriksa beberapa dokumen yang tergeletak. Mencari-cari hal ganjil yang memungkinkan menjadi penyebab istrinya berubah aneh belakangan ini.


"Mas berangkatlah. Nanti terlambat, bukannya pagi ini ada rapat?" ucap Viona setelah menaruh tas jinjing yang dibawanya ke atas meja.


"Hmm... kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke?" pinta Bima setengah memerintah. Sorot matanya tampak tak tenang.


"Iya, Mas. Tumben ngoyo banget? Tenang aja, kalau ada sesuatu pasti aku langsung menghubungi suamiku tercinta." Viona menyahuti dibarengi senyuman manisnya, lalu mencium punggung tangan Bima yang dibalas kecupan sayang di keningnya.


"Selamat bekerja, Mas."


"Thank you, honey. Tak usah mengantarku ke depan. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Bima melambaikan tangan sesaat kemudian segera keluar dari sana.


Bima menghentikan langkah begitu melihat keberadaan Sita yang sedang mengganti display gaun untuk dipajang di bagian depan butik. Bima langsung menginterogasinya. Menanyakan Sedetil-detilnya tentang apa saja kegiatan Viona akhir-akhir ini. Ia makin penasaran, dari keterangan Sita tak ada yang mencurigakan tentang istrinya, lantas apa yang membuatnya berubah?


*****


"Bagaimana hasil pengintaian kalian? Apakah ditemukan hal ganjil yang berkaitan dengan istriku sampai sesiangan ini?"


Di kantornya Bima tengah menelepon orang-orang yang diminta membuntuti Viona. Dia baru kembali selepas makan siang bersama relasi bisnis di restoran dekat kantor. Namun, karena pikirannya tengah berkecamuk tak menentu, Bima hanya menelan beberapa suapan saja menu steak yang dipesannya. Otak dan hatinya terus saja tertuju pada Viona, rasa khawatir berlebih membuatnya tak mampu berkonsentrasi dengan baik juga kehilangan nafsu makan.


"Dari pengintaian kami, sejak pagi tidak ada hal aneh yang berkaitan dengan Bu Viona. Bahkan dari kejauhan begini pun kami melihat istri Anda begitu ceria, sedang bergurau dengan pelanggan wanita paruh baya. Sama sekali tidak tampak tertekan." jawab si pengintai dari seberang telepon.


Bima memijat pangkal hidungnya dengan mata memejam dan menghela napas panjang. "Terus awasi, jangan sampai lengah. Jika terdeteksi hal janggal segera hubungi aku."


Ponsel mahal dengan harga setara satu buah motor itu digeletakkannya begitu saja ke atas sofa setengah melemparnya. Ia menyugar rambutnya kasar, lalu mendaratkan punggung di bantalan empuk sofa sambil berusaha menjernihkan pikiran. Perubahan drastis tingkah Viona benar-benar berimbas besar pada Bima. Lelaki itu menjadi gundah gulana, tetapi merasa tak enak jika bertanya langsung pada sang istri tentang penyebab yang membuatnya berubah.


*****


Pukul empat sore ponsel Bima berdering nyaring beberapa kali yang berakhir dengan bunyi notifikasi pesan teks. Bima yang baru keluar dari toilet segera memeriksa gawainya dan membaca isi pesan yang masuk.


Pak Bima. di perjalanan pulang, mobil istri Anda mampir ke sebuah toko olahraga, terlihat seperti membeli beberapa stel baju bola dewasa, dan setelahnya langsung pulang ke rumah dari toko tersebut.


Begitulah isi pesannya.


"Baju bola? tapi untuk siapa?" gumam Bima kebingungan.


Permainan bola sepak memanglah kegemaran Bima sejak dulu, tetapi ia tak merasa meminta Viona membelikannya baju semacam itu. Ataukah mungkin Viona membeli baju tersebut sebagai kejutan untuknya? Karena tidak mungkin baju itu untuk ayah mertuanya ataupun papanya. Akan tetapi ia sudah lama sekali tak bermain bola karena kini lebih fokus berolahraga fitnes di bawah pengawasan instruktur terlatih. Atau jangan-jangan?


Berbagai macam dugaan juga spekulasi berseliweran memenuhi kepalanya. Dari mulai hal baik hingga pikiran buruk ikut berkecamuk. Perkiraan-perkiraan tersebut silih berganti saling bersahutan di benaknya meracuni otak juga hatinya. Bima mengusap-usap dadanya berusaha menenangkan diri dan meredam akan prasangka.


Ia sudah tak mampu lagi berkonsentrasi pada pekerjaannya yang tersisa sedikit lagi. Memilih menutup macbook-nya dan bergegas pulang.


Jalanan kota Bandung sore ini begitu padat. Kemacetan tak terelakkan. Mobil yang dikendarai Bima pun ikut terjebak. Ia resah gundah gulana. Padatnya jalanan membuatnya semakin frustrasi lantaran sudah tak sabar ingin sampai di rumah.


*****


"Ayaaaah..."


"Hai, Anak cantik Ayah. Mmm... udah wangi. Mandi sama siapa?"


"Mandi sama bunda. Ini juga dikuncir sama bunda. Cantik kan?" ujar Nara sambil mengarahkan telunjuknya ke rambutnya sendiri.


"Iya dong, sudah pasti cantik. Anak siapa dulu," tukas Bima yang kemudian mencium pipi Nara gemas. "Terus bundanya mana?"


Bima celingukan mencari keberadaan istrinya, tetapi Viona tak terlihat batang hidungnya.


"Bunda tadi ke kamar lagi abis kuncirin rambut Nara. Katanya mau ganti baju."


"Ya sudah Ayah ke kamar dulu ya. Nara mau ikut atau mau menonton kartun?" tanyanya pada sang anak.


"Nara mau lanjutin nonton Film Upin dan Ipin aja."


Bima membawa Nara ke ruang tengah di mana televisi sedang menayangkan animasi dua bocah kembar botak yang begitu viral bagi anak-anak. Mendudukkannya di sofa dikelilingi boneka-boneka kesayangan sang anak, ditemani Bik Yati yang selalu sigap menjaga Nara sebagai tugas utamanya.


"Ayah ke kamar dulu, sayang. Selamat menonton."


Setelah mengusap kepala Nara Bima bergegas naik ke lantai dua dan menuju kamarnya. Ia tertegun di depan pintu, di dalam sana terlihat Viona yang sedang mencoba beberapa baju bola dan memutar-mutar tubuh di depan cermin.


"Eh... suamiku sudah pulang." Viona yang tengah antusias melihat pantulannya dalam balutan baju bola berwarna merah, menghentikan kegiatannya dan menarik menggandeng Bima yang tertegun di ambang pintu untuk masuk.


"Ini... ini apa, sayang?" Bima bertanya lantaran tidak mengerti maksud dari beberapa stel baju bola yang berserak di kasur. Dia mengungkapkan keinginan tahuannya dengan nada lembut, tak ingin sang istri tersinggung kemudian bersedih kendati dirinya kini sedang dilanda berbagai prasangka.


"Oh... ini baju bola, masa Mas nggak tahu?" Viona mengernyitkan dahi akan pertanyaan sangat suami.


"I-iya... aku tahu ini baju bola. Tapi... untuk apa dan untuk siapa? Kenapa banyak sekali?" imbuhnya.


"Mas marah aku belanja banyak?" Viona melepas rangkulan di lengan Bima, menekuk wajah cantiknya dan memilih duduk di tepi ranjang.


"Bukan begitu, honey." Bima ikut duduk dan meraih tangan Viona untuk digenggam. "Aku hanya sedikit kebingungan, kenapa tiba-tiba membeli baju bola sebanyak ini. Apa kamu sedang berniat mengembangkan sayap merancang baju olahraga?"


"Nggak juga. Tapi sejak tadi siang entah kenapa aku ingin sekali membelinya untuk kupakai. Ini bagus kan? Aku suka sekali warnanya?" Viona kembali berubah riang dan tersenyum manis pada Bima sambil menjumput baju yang dipakainya.


"I-iya bagus kok." Bima menelan ludah makin kebingungan.


"Sayang, kamu beneran baik-baik aja?" Bima tampak makin khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya sehingga setiap hari belakangan banyak hal aneh yang dilakukannya.


"Aku baik-baik aja kok, Mas. Malahan sekarang rasanya seneng banget karena kesampaian pakai baju ini. Oh iya, nanti malam jangan lupa, kita ada janji memenuhi undangan Juna untuk makan malam bersama. Aku pakai baju apa ya? Kalau pakai ini aja gimana? Aku suka banget baju bola ini." Viona mengelus permukaan baju yang dipakainya penuh suka cita.


Bima hampir saja terbatuk mendengar ucapan Viona. Ia segera menguasai diri dan memberi saran dengan nada bicara selembut yang ia bisa. Bima tak mungkin membiarkan istri tercintanya datang ke restoran mewah dengan pakaian semacam ini.


"Tapi, menurutku sebaiknya jangan. Karena undangan makannya di restoran mewah, sudah pasti kita harus menghormati orang yang mengundang juga tempat yang didatangi dengan memakai pakaian yang sesuai. Baju ini bisa kamu pakai lagi sepulang sari sana." Bima mencoba membujuk Viona, dan berharap semoga bujukannya berhasil.


"Mmm... bener juga apa yang Mas bilang. Kalau begitu aku mau menyiapkan pakaian kita juga Nara untuk makan malam nanti."


Viona mengecup rahang Bima dan melangkah riang menuju lemari.