Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Family Photograph



Diletakkannya paper bag di tangannya ke atas meja makan. Bik Yati segera membawakan piring-piring porselen cantik berwana putih dipadu warna gold.


Viona membuka satu persatu menu yang dibelinya dan menuangkannya ke atas piring. Ada udang bakar madu, bebek panggang, fillet ikan dori saus asam pedas juga beberapa menu sayuran, tak lupa Viona juga menghangatkan sop buntut yang dibawa ibunya, menuangnya ke beberapa mangkuk kecil kemudian menatanya di meja bersama menu lainnya.


Sesekali Viona mencuri pandang menggunakan sudut matanya ke arah ruang tengah di mana Bima, Nara juga ibunya tengah duduk bersama. Seulas senyum tersungging kala melihat ibunya berbincang ramah dan akrab dengan mantan suaminya, helaan napas lega juga terdengar berembus panjang, setidaknya ibunya tak menunjukkan sikap permusuhan seperti sang ayah kala bertemu muka secara langsung dengan Bima.


“Semuanya sudah siap. Ayo makan dulu, mumpung masih hangat,” seru Viona dari ruang makan.


“Ayo Bim. Kita makan dulu, nanti lanjut berbincang,” ajak Rima.


“Iya Bu.” Bima mengangguk senang, lantaran Rima memperlakukannya tetap sama seperti dulu kala statusnya masih menjadi suami Viona. Tekadnya untuk memiliki keluarga kecilnya lagi kini semakin kuat, tak peduli sehebat apapun rintangan yang harus dilaluinya.


Semuanya beranjak ke ruang makan. Viona menarik kursi untuk Nara dan memintanya turun dari pangkuan Bima. Namun, seperti biasa, bocah itu akan merengek dan tak mau turun dari pangkuan ayahnya jika mereka bertemu.


“Mau sama Ayah duduknya.” Bibir Nara mulai mencebik, dadanya juga kembang kempis dengan bola mata mengkilap oleh air mata.


“Kan ayah mau makan, sayang. Yuk, duduk di sini aja, deket Bunda,” bujuk Viona lembut.


“Nggak apa-apa, Bunda. Kita kan lagi kangen-kangenan ya? Ayah suapin mau?” Bima sedikit mengelus lengan Viona memberi tanda untuk membiarkan Nara tetap di pangkuannya.


“Mau.” Bocah itu mengangguk-angguk sembari mengusap ujung mata menggunakan punggung tangannya.


Nara makan begitu bersemangat tanpa rewel memilah-milah makanan, apapun yang disendok Bima, Nara akan melahapnya dan mengunyahnya penuh suka cita.


Selesai makan mereka shalat Isya bersama dengan Bima sebagai imamnya. Ada rasa tak biasa menelusup di hati Rima, rasa haru juga bangga karena Bima mampu keluar dari jeratan barang haram itu dan berusaha menjadi insan yang lebih baik lagi. Dulu sorot mata Bima sering memancarkan kegelisahan, sedang sekarang tampak sendu berselimut penyesalan.


Setelahnya mereka berbincang bersama hingga tiba waktunya Nara tidur. Seperti terakhir kali, bocah itu merengek dan menahan kepulangan ayahnya, meminta ditemani sampai terlelap.


Saat ini Bima sedang berada di kamar Nara tengah membacakan buku dongeng sebelum tidur, dongeng klasik legendaris para putri Disney yang selalu diminati anak-anak sepanjang masa.


Interaksi antara Bima, Nara juga Viona sejak tadi tak luput dari pengamatan Rima, terutama Nara. Dengan Juna, Nara memang tampak sangat nyaman hingga bocah itu memanggil Juna dengan sebutan Papi. Namun, saat bersama Bima, Nara bukan hanya nyaman, tetapi juga ada keterikatan yang sulit dijelaskan serta saling membutuhkan. Ia juga menangkap binar cinta dari mata putrinya untuk Bima, binar yang selama empat tahun terakhir tak pernah muncul ke permukaan meski dengan Juna sekalipun.