
Juna kembali datang ke kantornya. Semua karyawan yang berpapasan dengannya terkena semprot sasaran kemarahannya.
Seorang office boy pun tak luput dari semburan tanduknya, sebelumnya dia memerintahkan dibawakan air putih ke ruangannya dan berteriak murka setelah meminumnya, mengatakan bahwa rasanya asin. Patah hati memang menakutkan, air putih yang tawar pun berubah serasa air laut.
Barang-barang di atas mejanya kini berserak di lantai, berceceran terlempar ke setiap penjuru ruangan. Jas serta dasinya telah tanggal dari raganya, terongok sembarang dilemparkan begitu saja entah apa salah dan dosanya.
Pandu masuk ke ruangannya dengan wajah panik. Ia tahu sang bos tengah mengamuk tak karuan, tetapi berita yang baru saja didapatnya pun tak kalah gentingnya, berita yang memancing huru hara setara letupan dahsyat gunung merapi.
“Pak Juna, ada berita buruk.” Pandu berucap takut-takut setelah pintu ruangan tertutup di belakang punggungnya. Matanya terbeliak mendapati ruangan Juna kembali layaknya kapal pecah seperti tempo hari, bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya.
“Kamu nggak lihat? Aku sedang tidak mood mendengar berita apapun!” Suaranya meninggi memekakkan telinga.
Juna menjambak rambutnya, berkacak pinggang dengan dada kembang kempis dilanda emosi yang bercokol di rongga kalbunya. Tersiksa oleh obesinya sendiri, masih enggan menerima kenyataan.
“Pak, Para investor yang berinvestasi di proyek pengembangan pabrik kain batik rekan Anda, sejak pagi tak henti memberondong saya dengan panggilan telepon. Puluhan pesan serta faximile juga menumpuk. Rekan Anda, membawa kabur semua uang investor termasuk uang perusaahan kita yang beberapa hari lalu kita investasikan dalam skala besar. Rekan anda kini tak terlihat batang hidungnya, tak bisa di hubungi, kantornya juga disegel dan digeledah. Para petingginya kabur entah ke mana, hanya menyisakan pekerja bawahan yang tidak mengetahui perginya bos mereka, bahkan gaji karyawannya pun tak dibayarkan,” jelas Pandu tanpa jeda.
Dia tak peduli jika nantinya berakhir dengan semburan ataupun amukan Juna, masalah segawat dan sebesar ini di luar kapasitas kemampuannya.
“Ap-apa.” Juna merasa lututnya lemas, ia luruh terduduk di kursinya dengan raut wajah tak percaya.
“Semua ianvestor yang berinvestasi atas tawaran Anda meminta pertanggungjawaban ganti rugi uang mereka. Jika tidak segera dipenuhi mereka akan menyeret perusahaan ini ke meja hijau dengan tuduhan penipuan. Bagaimana ini Pak?” tukasnya panik.
Pandu sudah kalut sedari pagi tak peduli jika bosnya akan menghajarnya sekalipun lantaran menyampaikan berita buruk kala suasana hatinya bak angin ribut.
Sejak kemarin kejadian tak mengenakan bertubi-tubi menghantam Juna. Seolah alam tengah menegurnya, karena ketulusannya selama ini menuntut balas terpukul mundur terkalahkan si nafsu obsesi.
Ia juga sama sekali tak menyangka bahwa teman dekatnya dalam berbisnis itu kini berkhianat menikamnya dari belakang. Mencemarkan nama baik Juna sebagai partnernya, membawa kabur uang investor, dan kini meninggalkan orang-orang yang menuntut ganti rugi.
Seolah tahu terjadi hal buruk pada anaknya. Marina muncul tanpa diundang mengunjungi kantor Juna. Dia terkejut luar biasa mendapati ruangan kerja Juna caruk maruk dan terdengar gelegar suara meninggi sang putra yang tengah mengomeli Pandu tanpa henti.
“Arjuna! Ada apa ini?”
*****
Pagi-pagi sekali datanglah dua orang perawat ke kamar Nara, hendak mengambil sampel darah untuk memeriksa penyebab demamnya dengan pasti, karena demamnya masih saja turun naik hingga sekarang setelah tiga hari dirawat inap.
Drama kembali terjadi, Nara mengamuk tak ingin diambil darah ketika meihat kelengkapan pengambilan darah di atas nampan. Jangankan bocah berumur empat tahun, orang dewasa pun kadang kala merasa ngeri melihat jarum suntik.
“Nggak… nggak mau jarum itu. Nggak mau….” jeritnya lagi.
Beruntung Bima sudah kembali lagi dari musholla, selepas shalat subuh tadi dia berbincang dengan para orang tua lainnya yang sama-sama menunggui anaknya yang tengah sakit, sehingga ia kembali ke ruangan lebih lambat dari yang seharusnya.
Bima mengusap lembut di permukaan kulit Nara bekas pengambilan darah kemudian mengecupnya penuh sayang.
“Wah, putri Ayah hebat. Nggak nangis diambil darah, pinter banget," pujinya pada sang anak memberi apresiasi atas keberaniannya.
Nara tersenyum senang dipuji begitu, lalu mengoceh tentang segala hal-hal yang disukainya meski tubuhnya masih lemas. Melupakan rasa sakit bekas tusukan jarum di kulitnya, pujian sang ayah seumpama mantra ajaib baginya.
Dokter menyatakan Nara terkena demam berdarah sehingga mengharuskan di opname lebih lama lagi hingga beberapa hari ke depan. Beruntung Viona sigap membawanya ke rumah sakit saat itu, sehingga hal-hal yang tak inginkan bisa dihindari. Sebagai seorang ibu jujur saja ia terkejut bukan main, jika lambat terdeteksi, nyawa lah taruhannya.
*****
“Maaf, pekerjaan Mas jadi terganggu karena Nara terus saja tak mau ditinggalkan olehmu.” Viona kini tengah duduk di sofa seberang ranjang sang anak. Ia duduk bersisian dengan Bima ketika Nara kembali tidur setelah meminum obatnya.
“Jangan khawatirkan itu. Anak kita lebih penting, aku masih bisa menangani pekerjaanku dari sini. lagipula aku pun takkan bisa berkonsentrasi bekerja di kantor jika Nara belum sehat betul.” Bima menutup laptopnya setelah sebelumnya mengirim beberapa email kepada Adrian.
“Butikmu bagaimana?" tanya Bima kemudian.
“Ada Sita dan para pekerja lain. Mengenai PO pesanan gaun khusus kuliburkan dulu sampai Nara benar-benar sembuh. Aku tak ingin fokusku terbagi, Nara prioritas utama.”
Bima merangkul Viona dan mengecup keningnya cukup lama. Meghantarkan selaksa rasa sayangnya yang menyeruak dahsyat. “Terima kasih, sudah menjadi Ibu dari Anakku,” ucapnya penuh syukur.
Viona dilanda rasa haru, tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca. “Aku yang harusnya berterimakasih, sudah menjadikanku Ibu dari anakmu, Mas.”
Serbuan cinta, semburan sayang, luapan syukur menjadi satu bergerombol di netra mereka yang bergulir saling menatap dalam, keduanya larut dalam debaran rasa yang sama indahnya.
Viona menggelamkan diri di dada Bima dan bergelung nyaman di sana sebelum suara deheman dari arah pintu mengacaukan mereka hingga terlonjak kaget seakan-akan tertangkap basah tengah asyik berpacaran. Viona dan Bima saling menjauhkan tubuh begitu Rima muncul memasuki ruangan, ibunya Viona itu melipat bibir menahan tawa mendapati Bima juga Viona yang kini kikuk dan canggung.
“Ehm, maaf. Ibu ganggu ya?” godanya sengaja. Dua sejoli ini memang menggemaskan meski bukanlah anak remaja lagi.
"Eng-nggak kok Bu. apanya yang ganggu?" elak Viona canggung sambil mengikat rambut panjangnya yang tergerai menjadi ekor kuda.
“Sudah menentukan waktunya? Demi kebaikan kalian juga sebaiknya disegerakan, biar peluk-peluknya enak gak usah maling-maling kalau udah halal,” ujar Rima sekenanya dengan santai, tak peduli jika ucapannya membuat dua orang yang duduk itu salah tingkah.
“Ehm, begini Bu. Setelah Nara sembuh, saya akan mengurus hal ini secepatnya. Saya pun sudah tak sabar ingin memeluk Viona dengan bebas tanpa khawatir digrebek hansip.” Bima berkelakar membuat Rima tertawa renyah, sedangkan Viona membuang wajahnya ke arah lain yang kini sudah semerah kepiting rebus.
*****
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan juga melalui like, komentar dan kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.