Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Suara Sumbang



Menjelang waktu makan siang acara seminar diselingi waktu istirahat, dan akan kembali dilanjutkan sekitar pukul satu atau dua siang. Viona ikut bergabung makan siang dengan sang suami bersama para pebisnis yang hadir dan juga penyelenggara seminar.


Banyak yang memberi selamat atas bersatunya lagi mereka dalam ikatan pernikahan, walaupaun pernikahan kedua mereka digelar lebih privat, tetapi kabar rujuknya Viona dan Bima beredar luas dalam waktu singkat.


Suara-suara sumbang kadang masih terdengar dari beberapa pesaing bisnis Sinar Abadi Grup akan status Bima sebagai mantan narapidana. Hanya saja mereka cuma berani menghujat di belakang, sedang jika berhadapan langsung dengan Bima nyali mereka kebanyakan ciut terlebih dahulu, kalah sebelum berperang.


Tak terkecuali juga cibiran miring akan rujuknya mereka kembali. Seperti beberapa saat lalu ketika Viona sedang berada di toilet. Si wanita yang pernah menghinanya sewaktu di restoran tempat pesta teman Arjuna tempo hari juga ada di sana. Viona tengah merapikan dandanannya di cermin dan si wanita yang berprofesi sebagai model itu baru keluar dari bilik toilet lalu berdiri berdampingan dengannya.


Wanita berbaju terbuka seksi itu berjengit kaget saat melihat pantulan di dalam cermin yang menampakkan sosok cantik Viona, ia menoleh dan melipat lengan di dada.


“Selamat atas pernikahanmu, lagi,” ujarnya sinis.


“Terima kasih.” Viona membalas dengan memasang senyum manis tanpa menoleh, hanya saling bertukar pandang melalui cermin.


“Kalian memang cocok juga serasi. Mantan narapidana dan pengkhianat!” cibirnya sambil tertawa sarkas.


“Maksudnya?” Viona menghetikan kegiatannya yang tengah memulas lipcream di bibirnya.


“Ya memang begitu kenyataannya. Suamimu itu tetaplah mantan narapidana sampai kapan pun, hanya saja dia lahir dengan sendok perak makanya setelah keluar dari penjara dengan mudah kembali menjabat menjadi pimpinan di perusahaan besar orang tuanya. Dan kamu adalah pengkhianat, sekian lama bersama Arjuna tapi malah memilih pergi membatalkan pertunangan dan kembali pada mantan suamimu. Kamu tidak lebih dari seorang wanita murahan yang tak setia," ejeknya terang-terangan.


Bibir ranum Viona kembali mengulas senyum. Ia menoleh pada wanita di sampingnya yang sepertinya amat menaruh minat padanya juga Bima, minat akan gosip buruk.


“Terima kasih atas perhatian dan pujiannya. Aku tersanjung, tiba-tiba merasa menjadi orang terkenal. Sepertinya kamu memiliki banyak waktu senggang untuk mengurusi kehidupan pribadiku. Atau waktumu begitu santai karena jasa modelmu sudah tak laku lagi? Ya ampun aku turut prihatin.” Viona berkata seolah tulus padahal memang sengaja menyindir.


“Kamu!” Wanita itu membeliak emosi.


“Opss… sepertinya tebakanku benar.” Viona menaruh telapak tangannya di mulut berpura-pura kaget.


“Enak saja! Walaupun nanti aku tak berkarir lagi sebagai model, tapi sekarang ini aku adalah calon istri salah satu pengusaha yang hadir di sini. jadi jangan macam-macam!”


“Baru calon ya? Begitu rupanya, semoga benar-benar dinikahi dan bukan hanya diimingi sebagai calon. Tapi kalau misalnya kamu bangkrut, aku masih membutuhkan model untuk pakaian-pakaian rancanganku.” Viona merapikan rambut bersiap untuk pergi, sebetulnya ia sudah merasa jengah, akan tetapi dirinya tak boleh kalah oleh emosi. Viona benci itu, terlihat lemah di mata orang lain.


“Rancanganmu tak masuk dalam kriteriaku! Aku tak sudi menjadi model dari merek murahan!” Wanita berperawakan seksi itu berdecih sombong.


“Ah, begitu ya. Apa tidak terbalik? Apakah kamu sedang mengatai dirimu sendiri? Biar kuingatkan taku-takut kamu lupa.” Viona mendekatkan wajah ke telinga wanita itu.


“Yang murahan itu Anda Nona, bukan baju-baju rancanganku. Lagipula Aku tak berminat mamakai model yang menukar harga dirinya demi uang,” bisiknya dengan suara halus namun kata-katanya menusuk.


Dengan langkah lebar Viona segera keluar dari toilet, tak ingin berlama-lama lagi di sana, meninggalkan si wanita tadi yang kini mengumpat kesal dengan wajah merah padam dilanda amarah.


*****


“Selamat atas pernikahan kalian yang kedua kalinya. Aku tak bisa datang karena sedang berada di Melbourne saat acara pernikahannmu digelar. Aku banyak mendengar cerita tentang kalian dari Malik. Bim, di balik kesuksesan seorang laki-laki ada wanita hebat di belakangnya. Berbanggalah karena kamu menjadi salah satunya, memiliki wanita hebat seperti istrimu di sisimu. Pesanku, Sayangi dia, dan jangan pernah mengecewakannya lagi.” Laki-laki itu menepuk-nepuk bahu Bima.


Bima mengangguk dan mengucap terima kasih tulus atas nasehat yang diberikan padanya. Mereka banyak bertukar kata selepas bersantap siang.


Setelah mengisi perut, Viona memutuskan pulang lebih dulu lantaran pinganggnya lumayan terasa ngilu. Hampir semalaman Bima menggagahinya disambung tadi pagi, ia butuh memulihkan tenaga dan mempersiapkan diri untuk serangan berikutnya.


Yang terpenting ia tak melewatkan momen saat suaminya berbagi kata di podium tadi, dan acara seminar selepas istirahat siang ini kebanyakan hanya akan membahas masalah pameran produk.


“Pulanglah ke hotel lebih dulu. kamu tampak lelah." Bima mengusap sayang pipi Viona.


“Entah siapa pelaku yang membuatku lelah begini.” Viona memicingkan mata hingga menyipit.


“Coba katakan padaku, siapa orangnya? Biar kuberi pelajaran,” canda Bima berkelakar disusul kekehan.


“Kalau kukatakan siapa orangnya, apa yang akan Anda lakukan, Tuan?”


“Aku akan menyuruhnya untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukannya, pantang menyerah, agar hasilnya maksimal.”


“Huh? Hasil apa yang maksimal?” Viona menatap suaminya penuh tanya.


Bima mengikis jarak, sedikit menunduk lalu berbisisk mesra ke telinga Viona.“Hasil bercocok tanam, supaya benih yang kutabur segera bertumbuh dan bertunas di dalam sana." Bima mengusap perut Viona sekilas.


Pukulan gemas dilayangkan Viona, Bima suka sekali menggodanya dengan kata-kata vulgar.


“Kalau begitu ladang ini pamit beristirahat dulu, supaya siap ditaburi benih kembali,” sahut Viona yang mulai berani berucap mengikuti bahasa suaminya.


Bima tergelak cukup kencang saat istrinya membalas kata-kata mesumnya. “Kamu sengaja menggodaku hmm?”


“Aku tak berniat menggoda, bukan ahlinya. Hanya saja seorang guru handal terus memberi les privat padaku tanpa henti hingga menjadikanku begini." Viona mengkerling, lucu dan menggemaskan, lalu menjumput ujung dasi Bima dan memintalnya menggunakan jari telunjuk dengan gerakan sensual.


“Hei kamu benar-benar berbahaya. Membuatku ingin melahapmu sekarang juga.” Bima berdecak frustrasi membuat Viona terkikik-kikik geli.


“Istirahatlah sayang, mobil yang akan mengantarmu sudah siap. Sepertinya acara baru akan selesai sore atau mungkin malam."


“Iya, Mas, bekerjalah dengan tenang. sampai jumpa nanti malam, suamiku."


Melambaikan tangan diiringi senyum cantiknya, Viona segera masuk bersama dua staf wanita ke dalam mobil yang disiapkan Bima untuknya selama berada di Bali dan kembali menuju hotel.