
“Kenapa belum tidur?” tanya Viona saat melihat sang suami masih terjaga sedang jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia baru selesai menyusui si bayi gembul Bisma yang rutin terbangun setiap tiga jam sekali meminta asupannya diisi ulang.
Viona merebahkan diri menyelusup masuk bergelung ke pelukan Bima yang berbaring terlentang di ranjang. Bima balas merangkul lalu mengecup puncak kepala Viona, mendesahkan napasnya nyaring di sana.
“Apa Mas masih bimbang akan perkataan Hana minggu lalu?” tanya Viona lagi lantaran Bima tak kunjung menjawab malah merespons dengan mengetatkan pelukannya.
“Ya. Aku masih bimbang. Antara menerimanya atau tidak. Menurutmu bagaimana?” Bima memiringkan posisinya dan Viona pun ikut melakukan hal serupa. Mata mereka bersirobok, saling menatap manik masing-masing satu sama lain.
“Aku akan selalu mendukung apapun yang Mas anggap terbaik. Mau mengambil tawaran Hana atau tidak semuanya keputusan ada di tanganmu, Mas.” Viona membelai lembut rahang Bima, mengangsurkan punggung tangannya menyusuri jambang halus wajah tampan lelaki tercintanya. Suaminya ini semakin memesona di usia matangnya.
“Sejujurnya, aku ingin mencoba. Hanya saja kadang rasa percaya diriku masih timbul tenggelam jika pembahasannya menyangkut masa lalu kelamku,” desah Bima bimbang.
Mereka membutuhkan narasumber yang pernah terjun langsung. Yang bisa berbagi dari pengalaman nyata tentang buruknya efek obat-obatan terlarang yang imbasnya bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga keluarga. Tentang bagaimana susahnya untuk berhenti, dan bagaimana sulitnya perjuangan untuk melepaskan diri dari jeratnya yang selalu berusaha menyedot kembali serupa pusaran air yang sangat kencang. Butuh tekad sekokoh batu karang dan mental sekuat baja agar tak terayu untuk mencicipi kembali dan semuanya itu tidaklah mudah. Tak berhenti sampai di situ, saat sudah terbebas dari belenggu rantai narkoba juga penjara pun, cacian khalayak seolah tak henti menghakimi, semua nista itu serupa noda yang akan terus melekat hingga akhir hayat.
“Jika aku menerima tawaran Hana dan menjadi narasumber, aku takut respons miring dilontarkan padamu juga anak-anak, dan seluruh dunia akan mengetahui bahwasanya aku mantan pecandu, bukan hanya orang di dalam negeri saja yang tahu. Sebetulnya aku sangat ingin menerima tawaran itu, dan berharap bisa berbagi pengalaman burukku terutama untuk para generasi muda penerus bangsa agar tidak ikut terjerumus ke dalam kubangan yang sama. Aku ingin noda yang melekat pada diriku bisa membanggakan istri dan anak-anakku, bukan membuat malu.” Bima menangkupkan telapak tangannya di punggung tangan Viona yang masih setia membelai sisi wajahnya.
“Bukankah sudah kubilang. Aku akan mendukung apapun keputusan yang Mas ambil. Sebagai seorang istri tugasku adalah menyemangati. Mas bebas berbagi manfaat baik untuk orang-orang sekitar dari pengalaman buruk yang pernah singgah dalam hidup. Aku sudah siap dengan tanggapan orang-orang entah itu baik maupun buruk. Sejatinya manusia di dunia ini tergolong dalam dua jenis. Ada yang menyukai kita, tapi ada juga yang membenci. Tidak mungkin semuanya membenci kita, juga tidak mungkin seisi dunia menyukai kita karena memang begitulah kehidupan. Majulah, Mas. Aku mendukungmu," jawab Viona penuh ketulusan.
“Kamu adalah istri juga teman hidup terbaik. Terima kasih untuk selalu menjadi kuat mendampingi manusia berlumur noda dan dosa ini,” ucap Bima serak disertai bola mata mengkilap berkaca-kaca. “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Viona menarik kedua sudut bibirnya ke atas tersenyum cantik selembut desau angin malam yang menggugurkan dedaunan dengan penuh perasaan. “Sang Pencipta menakdirkan umatnya berjodoh dengan cara yang begitu sempurna, karena jodoh memang sejatinya diciptakan untuk saling melengkapi agar menjadi selaras dan seirama. Bersatu karena kekurangan masing-masing bukan kesempurnaan. Aku pun mencintaimu, Suamiku. Hanya kamu, selalu.”