
Yoga tengah kalang kabut. Keuangan perusahaannya semakin menipis dikarenakan makin banyaknya mitra usaha yang menghentikan kerja sama. Bukan sepenuhnya pengaruh Sinar Abadi Grup yang tak bekerja sama lagi, para mitranya memutuskan untuk tidak meneruskan kerja sama lantaran kebijakan-kebijakan yang diterapkan ternyata mencekik dari hari ke hari, tak sesuai dengan isi perjanjian awal.
Setiap kali dipertanyakan, seribu alasan sudah pasti meluncur bebas dari mulut Yoga yang terkadang mampu membuat sebagian terbius bujuk rayu dan mengiyakan dengan patuh seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Akan tetapi sebagian lagi tak terpengaruh dan memilih logika serta akal sehat mereka dibanding iming-iming semu.
Homeshopping menerapkan kebijakan yang ternyata banyak merugikan mitra setelah ditelaah secara saksama. Yoga memeras dan mencekik mitranya guna memenuhi gaya hidup borosnya serta menutupi lobang dana yang menganga, juga untuk mengangsur hutangnya pada bank dengan bunga tinggi yang dipinjamnya.
Akibat terlalu tunduk pada nafsu dan terlalu terlena ketika berada di ketinggian, juga banyaknya membelanjakan uang di jalur yang buruk dan tercela, ia kini menuai hasilnya. Dan uang dari dana pembatalan hanya bisa menutupi sepuluh persen saja dari keseluruhan.
Saat berada di atas dia menjadi lupa diri. Bukannya bersyukur dan semakin bijak, tetapi malah membuatnya menjadi pribadi yang sombong dan makin semena-mena terhadap pengusaha kecil dan lemah.
Terhitung sudah sepuluh hari terakhir Yoga tidak datang ke kantor. Dia bersembunyi dan berdiam diri di apartemen lamanya yang jauh dari kesan mewah, tidak seperti unitnya yang selama ini ditinggali. Di kantornya, ia membiarkan para pegawai yang tersisa untuk menghadapi para mitra yang masih bekerja sama. Kebanyakan para mitra menuntut segera diberikan hak mereka dari keuntungan penjualan karena Homeshopping terus mengulur-ulur.
Yoga juga memerintahkan seenak jidat pada para pegawai untuk menghadapi pihak bank supaya mau memberi kelonggaran juga menunda waktu pembayaran tak peduli bagaimanapun caranya. Belum lagi pegawai juga harus menghadapi para lintah darat yang satu persatu mulai berdatangan menagih utang. Utang bekas sang bos bertaruh di meja judi.
“Sial!” umpat Yoga keras.
Yoga menggebrak laptopnya sendiri nyaris menghancurkannya. Setelah memeriksa grafik Homeshopping yang makin hari semakin menukik tajam. Juga laporan dari kantornya menginformasikan tentang Bank yang akan menyita semua aset tersisa jika dalam kurun waktu sebulan Yoga tak mampu membayar kredit bank, sedangkan jika disita pun angkanya masih jauh dari kata cukup dan takkan mampu menutupi jumlah utangnya yang cukup fantastis.
Kepalanya berdenyut. Ia mengumpat kasar dan membanting beberapa barang yang ada di meja kerjanya di kamar apartemen. Menjambak rambutnya frustrasi bertepatan dengan Nia masuk ke kamar tersebut membawa secangkir kopi yang dimintanya.
Ya, Nia juga ikut dibawa Yoga bersembunyi. Karena ia butuh bantuan si sekertaris untuk memantau dan mengelola dari jauh usahanya yang berada di ujung nasib nyaris gulung tikar.
Nia sangat ingin lari dan kabur, tetapi tak semudah itu. Ancaman video syurnya di tangan Yoga merantainya, sangat melemahkannya. Membuatnya tak mampu melawan dalam dilema hatinya yang menjerit. Mau tak mau tetap bekerja untuk Yoga, meski pekerjaanya bukan hanya tentang urusan kantor, melainkan juga harus sukarela membuka kedua kakinya di ranjang kotor sang bos.
Seandainya Nia tahu di mana Yoga menyimpan file asli videonya, pasti dia kan mencurinya tanpa pikir panjang meski harus membahayakan diri. Akan tetapi Yoga sangatlah rapi dalam menyimpan semua barang-barang pentingnya.
Sekali waktu Nia pernah menghapus video tersebut yang terdapat di laptop dan ponsel Yoga. Awalnya ia begitu senang dan mampu bernapas lega. Yoga yang memergokinya hanya tergelak santai membuat Nia keheranan pada waktu itu. Yang dihapusnya itu ternyata hanya salinan saja, karena file asli disembunyikan Yoga entah di mana.
“Ini kopinya, Pak."
Dengan tangan gemetaran, Nia menaruh kopi yang dibawanya ke atas meja. Ia menelan ludah susah payah dan meringis ketakutan melihat gelagat Yoga. Biasanya jika Yoga naik pitam dan mengamuk begini, maka dirinya lah yang akan dijadikan pelampiasan. Dihentak kasar bagai boneka, tak dianggap memiliki perasaan. Sedangkan sekarang ini pusat tubuhnya masih terasa perih dan berdenyut nyeri akibat kebejatan Yoga semalam.
“Tapi kopi memang harus diseduh dengan air panas yang mendidih, Pak. Anda sendiri yang yang memintanya,” sahutnya pelan takut-takut sambil meremas kedua tangannya.
“Halah … banyak alasan! Bilang saja kalau kamu berniat membangkang!”
Yoga bangkit dari duduknya mendekati, sementara Nia mundur hingga membentur tembok. Yoga makin merangsek menghimpit si sekertaris. Tangannya yang kuat mencengkeram dagu dan pipi Nia agar wajah gadis itu mendongak membuatnya bertatapan langsung dengan bola mata berkilat yang paling dibenci dan ditakutinya.
“Sudah berani membantah rupanya? Punya nyali juga kamu. Apakah sekarang kamu sudah siap menyaksikan raga telanjangmu berseliweran di dunia maya?” ancam Yoga dengan seringai liciknya.
“Ja-jangan, Pak,” jawab Nia terbata. Tubuh dan jiwanya lemah tampak menyedihkan.
“Kalau begitu, kamu sudah tahu apa tugasmu kan, untuk menenangkanku?” Yoga berbisik menjijikkan ke telinga Nia dengan napas memburu. “Jadi sekarang, puaskan aku!” Yoga menarik lalu membanting tubuh rapuh gadis itu ke ranjang dan kembali menghentaknya tanpa perasaan.
*****
“Mas, minggu depan aku ingin menemani Nara berenang. Seperti biasa, program dari sekolah. Sudah beberapa kali Nara hanya pergi dengan Bik Yati dan sopir karena aku merasa kurang vit efek dari masa ngidam,” jelas Viona yang sore ini duduk di taman dengan Bima sambil mengawasi Nara yang tengah berada di area bermain diasuh Bik Yati dan satu pelayan lainnya.
Bima yang duduk berjauhan dengan Viona menoleh pada sang istri. Tampak berpikir dan raut wajahnya berubah kuatir. Semenjak Viona hamil lagi, Bima menjadi paranoid melebihi ibu-ibu rumpi komplek. Saat mendengar kata tempat berenang ia takut istrinya yang tengah berbadan dua terpeleset di sana nanti. Namun, ia juga tak sampai hati jika putri tersayangnya terus-menerus pergi bersama Bik Yati. Ia juga tidak ingin Nara menjadi kekurangan kasih sayang.
“Pergilah, ingat untuk selalu berhati-hati di manapun berada.”
“Tapi, bisakah para pengawal tak usah ikut? Itu terlalu mencolok dan berlebihan. Aku akan merasa tak nyaman saat sedang berbaur dengan ibu-ibu para wali murid lainnya jika terus menerus dibuntuti pengawal ke manapun kakiku melangkah. Cukup Bik Yati juga sopir yang menemani, biarkan aku tanpa pengawal satu hari saja. Please.” pinta Viona nyaris memohon.
“Untuk yang satu itu aku merasa keberatan, Sayang. Aku pasti takkan tenang bekerja,” imbuh Bima memberi pengertian.
“Oh, ayolah, Mas. kumohon.” Wajah Viona memelas. “Aku pasti bisa menjaga diri dengan baik. Aku janji.”
Bima mendesah resah sambil mengusap wajah. “Tapi biarkan mereka tetap ikut sampai di parkiran tempat berenang dan menunggu di luar hingga selesai. Tak ada tawar-menawar lagi. Oke,” sahut Bima tak ingin dibantah.
“Baiklah, Tuan. Hamba mengerti.” Viona memutar bola matanya malas yang ditanggapi Bima dengan gelak tawa.