Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Puber Kedua



Seharian ini, keluarga kecil yang baru saja kembali bersatu itu lebih banyak menghabiskan waktu menempel dengan bantal. Ketiganya memilih untuk bersantai di tempat tidur. Terutama Viona, yang sejak sampai di rumah lebih banyak memejamkan mata akibat tadi malam kekurangan jatah tidur, bahkan suara televisi dan celotehan Nara pun sama sekali tak mengusiknya.


Viona tidur seperti kerbau mati, ia kelelahan, tenaganya terkuras habis, semalam Bima benar-benar melepas rindu tak tanggung-tanggung sehingga kini tubuhnya terasa remuk redam.


Bima lebih banyak menemani Nara, bocah itu meminta ditemani menonton film kartun dan berceloteh tentang banyak hal tanpa beranjak dari ranjang besar di kamar Viona. Bagi Bima, Ini lebih indah dari pergi berbulan madu ke belahan bumi manapun. Berada satu ranjang dengan istri dan anaknya menghabiskan waktu bermalas-malasan, bermain bersama putrinya sambil menyaksikan wanita tercintanya tertidur pulas akibat kelelahan karena ulahnya adalah pemandangan terindah yang ada di dunia.


Setelah Nara bosan dengan filmnya, akhirnya mereka semuanya terlelap, saling berpelukan dengan hati membuncah bahagia.


*****


Sekitar pukul dua siang di Bandara Soekarno-Hatta, sekertaris Homeshopping menunggu di tempat kedatangan untuk menjemput bos-nya. Wanita bergaun ketat berwarna merah dengan high heels itu menyambut kedatangan Yoga yang baru saja pulang berlibur dari luar negeri.


“Selamat datang Pak. Bagaimana dengan liburan Anda?” sambut si sekertarais saat Yoga menghampirinya, mereka kini melangkah berdampingan menuju area luar bandara.


“Tentu saja sangat baik. Lihat sendiri kan?” Yoga memutar tubuh dengan gaya sombongnya. Wajahnya memang cukup tampan, tetapi sayang, seringai hidung belang serta kebrengsekkannya merusak rupa ragawinya.


“Saya senang kalau kabar Anda baik. Begini Pak, ada hal mendesak yang ingin saya sampaikan, ini sangat penting juga darurat. Ponsel Anda susah dihubungi selama di luar negeri, jadi saya baru bisa melaporkannya sekarang,” jelas si wanita yang memakai pemulas bibir warna merah menyala itu.


“Jangan merusak suasana hariku yang menyenangkan ini, dasar bodoh!” Bentaknya kesal hingga membuat si sekertaris berjengit kaget. “Bukannya kamu sudah tahu kalau aku tak suka diganggu masalah pekerjaan di saat santaiku!”


Yoga membuka kaca mata hitamnya dan mempercepat langkah, tak peduli pada sekertarisnya yang kesulitan menyusul karena high heels yang dipakainya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil sedan warna silver dan bergerak keluar dari sana.


“Mampir ke hotel terdekat!" perintah Yoga pada sopirnya’


“Eh, kenapa kita nggak langsung pulang ke Bandung Pak?”


Si sekertaris yang duduk berdampingan dengan Yoga mengubah posisi duduknya dan menatap takut-takut pada sang bos. Ia ingin segera pulang ke Bandung dan membahas tentang Sinar Abadi Grup yang menarik produk dan membatalkan kerja sama. Akan tetapi wanita itu sudah tahu, bahwa Yoga adalah tipe orang yang tidak suka membicarakan pekerjaan dengannya di luar kantor.


“Ocehanmu membuatku kesal! Aku butuh sesuatu untuk menyenangkan hatiku, jadi kita mampir dulu ke hotel,” ujarnya yang kini melayangkan tatapan penuh minat pada sekertarisnya, melahap wanita berbaju ketat dan seksi itu dari ujung kaki hingga kepala.


“Kamu memang penurut dan pintar, bajumu sekarang sangat sesuai dengan selaraku, bulan depan gajimu kunaikkan.” Yoga menebarkan tatapan kurang ajarnya tanpa sungkan dan tersenyum senang sambil membasahi bibir.


Wanita itu menunduk dan meremat jari jemarinya. Sesungguhnya ia tak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya, terbuka berlebihan di mana-mana nyaris seperti jalang. Akan tetapi Yoga pasti berteriak murka dan uring-uringan kalau dia menjemput dengan memakai baju sederhana yang disukainya.


“Ke-kenapa harus ke hotel, Pak?” wanita berbaju ketat itu mencoba memberanikan diri untuk kembali bertanya sambil menelan ludah.


“Jangan pura-pura bodoh manis. Kau yang harus menghiburku agar suasana hatiku kembali senang. Aku jadi kesal begini juga gara-gara kamu. Aku rindu kehangatanmu, sudah tiga minggu aku tak tenggelam di sana. Para jalang di luar negeri tak ada yang bisa memuaskanku seperti dirimu.”


Yoga menarik wanita yang menunduk itu agar merapat dengannya, tangannya mulai bergerak liar menjijikan, menyentuh dan menggerayangi di mana-mana, si sekertaris bergerak meronta berusaha menolak secara halus.


“Ja-jangan, Pak.”


“Heh, mau berlagak sok suci ya? Jangan menolakku, Kecuali kamu ingin video bercintamu denganku kusebarkan ke publik. Wajahku sudah pasti kusamarkan , tapi wajahmu tentu saja tidak,” ancam Yoga, menindas yang lemah adalah hobi bejatnya.


“Sepertinya, sebelum kusebar jika kuberikan dulu pada orang tuamu akan lebih seru, dan bisa kamu bayangkan bagaimana reaksi mereka.” Yoga tertawa miring menikmati wajah pucat sekertarisnya.


“Karena aku memang murah hati, maka akan kukabulkan. Kalau begitu puaskan aku sekarang juga! Itu adalah harga penebus permohonanmu.” Yoga menarik tengkuk wanita di sebelahnya dan langsung menyerbu dengan nafsu binatangnya.


*****


Seorang kurir memencet bel rumah Viona saat sore menjelang. Bik Yati keluar rumah kemudian masuk kembali membawa sebuah dus paket berukuran besar yang dikirimkan si kurir.


“Nyonya, ada paket untuk Anda,” ucap Bik Yati pada Viona yang sedang menyisir rambut Nara di ruang tengah. Ia menaruh kotak tersebut di samping Viona.


“Ini dari siapa Bik?” Viona mengerutkan keningnya, membolak balik paket tersebut tapi tak tertera nama pengirimnya.


“Saya juga tidak tahu, Nyonya. Kurir itu Cuma bilang kalau ini dikirimkan khusus untuk Anda.”


“Ya sudah. Makasih Bik.”


Viona menyelesaikan menyisir rambut Nara, lalu membuka kotak paket yang lumayan besar itu. Ia penasaran akan isinya, seingatnya dia tak membeli ataupun memesan sesuatu.


Begitu kotak tersebut terbuka bagian atasnya, Viona membelalak. Matanya membola melihat isi di dalamnya. Secepat kilat ia menutup lagi kotak tersebut.


“Nara main legonya ditemani Bik Yati dulu ya, Bunda mau simpan kotak ini ke kamar.”


“Oke Bunda,” jawab Nara tanpa mengalihkan kegiatannya yang tengah merangkai potongan lego.


Kaki jenjangnya setengah berlari membawa kotak itu masuk. Di dalam kamar Bima tampak baru keluar dari kamar mandi.


“Kenapa tergesa-gesa begitu, Vi?”


Bima duduk di tepian ranjang disusul Viona yang juga mendaratkan bokongnya di sana.


“Ini Mas. Barusan ada kurir datang mengantar paket ini. Tapi nggak ada nama pengirimnya, dan isinya… isinya.” Viona tampak ragu meneruskan kalimatnya.


Bima memeriksa tulisan di luar dus besar tersebut lalu melipat bibir menahan seringainya.


“Itu hadiah dariku untukmu, istriku.” Bima mengedipkan sebelah matanya genit merayu kemudian menuju lemari untuk berganti pakaian.


“Hah?” Viona terperangah, menutup mulutnya yang menganga dan kembali membuka kotak di pangkuannya. Ia memberanikan diri mengeluarkan isi kotak tersebut satu persatu.


Isinya adalah sekitar sepuluh lingerie mahal. Gaun tidur seksi dan menerawang itu terdiri dari berbagai macam warna, mulai dari yang hitam, merah, pink, putih, baby blue dan warna lainnya. Lalu di bawahnya lagi sekitar sepuluh set pakaian dalam, terdiri dari bra dan panty yang juga tersedia dalam berbagai macam pilihan warna, modelnya sangat minim dan menerawang di mana-mana. Yang paling mencengangkan adalah bungkusan yang terdapat di paling dasar kotak. Isinya adalah berbagai macam model G-String.


“Setiap malam pakailah dalam warna yang berbeda, aku sudah tak sabar ingin melihat istriku yang cantik ini memakainya.” Bisik Bima yang sudah rapi dengan baju kokonya hendak pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah, ia melenggang keluar dari kamar dan meninggalkan Viona yang masih melongo.


“Sejak kapan Mas Bima jadi suka membeli pakaian dalam juga lingerie? Apakah mungkin suamiku ini sedang dilanda puber kedua?” gumam Viona sambil menepuk jidatnya sendiri disertai gelengan kepala.