Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tambah Lagi



Ini adalah hari terakhir mereka di Bali. Acara penutupan seminar juga pameran berlangsung meriah. Banyak yang mendapat relasi baru dalam berbisnis berkat seminar akbar ini. Sejumlah dana bantuan juga digelontorkan bagi para pelaku usaha kecil berharap bisa berkembang lebih luas lagi menggunakan uang tersebut. Ikut andil dalam memajukan dan menstabilkan perekonomian bangsa. Dana yang terkumpul berasal dari beberapa perusahaan besar yang berkoordinasi dengan pemerintah termasuk Sinar Abadi Grup salah satunya.


Pekerjaan Bima hari ini luar biasa sibuk. Sementara Viona memilih mendekam bermalas-malasan di kamar hotel setelah menghabiskan satu jam berolahraga di tempat gym yang tersedia di lantai dasar hotel.


Ia duduk bersandar di ranjang selepas membasuh diri. Membuka ponselnya dan membaca seputar berita terhangat tentang ulasan acara akbar yang dihadiri suaminya. Terdapat juga beberapa foto Bima bersama para jajaran pengusaha lainnya, juga para aparatur pemerintah dari kementrian perdagangan dimuat di sana.


Viona begitu senang, mengusap layar poselnya penuh rasa bangga. Ia juga mengirimkan foto-foto tersebut pada Rima, meminta ibunya menunjukkannya pada Nara.


Sore harinya setelah seminar serta pameran benar-benar rampung, Bima dan Viona menyempatkan membeli buah tangan untuk dibawa pulang. Walaupun sebenarnya Adrian dan para staf lah yang lebih banyak bergerak ke sana ke mari, mampir dari satu toko ke toko lainnya yang menjual oleh-oleh khas Bali.


Ia dan sang istri cuma mengawasi. Sesekali Viona ingin ikut memilih, dan Bima terus menempel padanya seumpana anak ayam yang mengekori induknya. Akhirnya Bima menyuruh Viona duduk saja dan menunggu di sebuah cafe, ia melarangnya berlelah-lelah dan berbisik bahwa hanya dia lah yang boleh membuat Viona kelelahan dalam tanda kutip lelah di atas tempat tidur tentunya.


“Sebutkan saja apa yang ingin dibeli. Kamu tak usah repot-repot mencari, biar Adrian dan para staf yang melakukannya,” titah Bima pada sang istri dengan nada tak mau dibantah.


“Tapi Mas, oleh-oleh yang mau kubeli cukup banyak karena aku juga ingin membaginya dengan para karyawanku di semua gerai butikku,” jelas Viona, ia merasa tak enak pada Adrian juga para staf.


“Tulis sebanyak apapun yang kamu mau. Kupastikan mereka akan mendapatkannya untukmu. Bukankah begitu Adrian?”


“Tentu saja, siap laksanakan. Nyonya Bos, Apapun yang ingin Anda beli akan saya carikan sampai dapat,” jawab Adrian penuh semangat, lagipula Bima berjanji padanya akan menaikkan gajinya lima puluh persen dari yang sekarang jika kinerjanya makin memuaskan.


Viona memilih untuk menuruti suaminya dan mencatat semua yang ingin dibelinya. Bima memerintahkan Adrian dan para staf bergerak cepat untuk segera mencarikan barang-barang yang diinginkan istrinya dan pantang berhenti sampai dapat.


*****


Hari kepulangan ke Bandung telah tiba, jadwal penerbangan mereka sekitar pukul sepuluh pagi. Hanya saja mereka tak sengaja melewatkannya. Saking bergeloranya menyiram dan memupuk ladang dari selepas sarapan, keduanya kemudian kelelahan dan tertidur pulas saling berpelukan di atas sofa yang menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat sebagai hidangan penutup menu sarapan hingga tertinggal jadwal penerbangan yang sudah dipesan sebelumnya.


Sedari tadi Adrian mengirim pesan berkali-kali ke ponsel bos-nya. Ia beserta para staf lainya sudah mengepak koper dan bersiap untuk pulang. Karena Bima tak kunjung merespon, bahkan Adrian pun memberanikan diri memencet bel kamar Bima berhubung waktu semakin menipis. Akan tetapi hasilnya nihil, karena di dalam sana penghuninya menulikan pendengaran akan bunyi bel lantaran tengah terlelap terbuai alam mimpi.


Viona mengerjap ketika merasakan sinar matahari yang sudah cukup terik menyusup melalui jendela menyapa wajahnya. Ia menggeliat, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya sebelum terbuka sempurna. Saat menoleh ke sampingnya ia langsung disuguhi ketampanan suaminya dengan dengkuran halusnya.


“Mas, bangun, kita terlambat!” seru Viona sambil mengguncang kebih keras.


“Mmhh… ada apa sayang, hmm?” Bima menggeliat dan mengucek matanya. Bukannya bangun, tetapi ia malah menarik tubuh Viona hingga terjatuh ke pangkuannya, mendekapnya sambil menghidu aroma Viona dan kembali memejamkan mata.


“Ih… Mas, banguuun. Gimana ini? Kita melewatkan jadwal penerbangan. Ini udah jam sebelas lewat!" imbuh Viona lagi sambil meronta


“Terlambat ya?" ujar Bima santai." Ya sudah kita menginap satu hari lagi saja, besok baru pulang."


Bima meraih ponselnya yang tergeletak di meja dekat sofa dan menghubungi Adrian untuk memindahkan jadwal kepulangan menjadi hari esok. Meminta mengatur segala sesuatu tentang perpanjangan hari menginap juga mengurus tiket pesawat. Bima menaruh sembarang ponselnya setelah selesai akan urusannya dengan Adrian dan kembali fokus pada istrinya.


“Sekarang biarkan aku memelukmu lagi, hmm,” ucapnya yang kemudian mengeratkan rangkulan dan menyusupkan wajah di ceruk leher Viona.


Namun, sesaat kemudian Bima membuka mata lagi dan sedikit memberi jarak. “Kenapa jubah mandinya dipakai? Buka ya, sayang. Aku ingin memelukmu dari kulit ke kulit,” ujarnya berbalut senyum juga tatapan penuh gairah.


“Ya ampun ini udah siang, bentar lagi Dzuhur Mas!” Viona meninju bahu suaminya.


Bima melirik jam di dinding sekilas kemudian berbisik dengan nada seksi ke telinga Viona. “Masih ada satu jam lagi. Ayo, kita manfaatkan waktu sebaik mungkin dengan bercocok tanam supaya cepat panen."


Bima mulai menarik tali jubah mandi Viona sambil menyerang leher jenjang istrinya itu dengan kecupan dibarengi geramam jantannya, dan secepat kilat membungkam bantahan yang hendak keluar dari bibir ranum itu dengan pagutan mesra.


*****


Berhubung kepulangan diundur, Adrian beserta para staf lainnya memilih menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengunjungi situs-situs dan tempat-tempat terkenal di Bali. Mereka juga pergi ke kebun binatang, memilih berada di luar hotel lebih lama dan menjauh dari kebersamaan atasannya yang sedang dimabuk asmara. Mereka juga berbelanja banyak buah tangan, Bima memberikan bonus tambahan dengan nominal yang cukup besar dalam perjalanan dinas kali ini.


Seharian ini Bima benar-benar mengurung diri bersama Viona di dalam kamar, menebar benih berulang kali dan melepas dahaga sepuas-puasnya. Hanya terselang mandi, shalat dan makan kemudian tidur sejenak. Sisanya keduanya terus bergelora mengolah ladang dalam berbagai gaya.


Seprai di ranjang sudah tak berbentuk, kusut masai. Guling dan bantal terlempar berserak di lantai bercampur kain yang sempat dipakai membalut tubuh mereka, begitu juga sofa tak luput dijadikan arena. Setiap sudut kamar hotel pun ikut menjadi saksi, betapa panasnya dua insan itu meleburkan cinta dalam kubangan hasrat membara, dihiasi merdunya erangan dan desahan yang menggema saling bersahutan.