Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Cemburu



Acara makan siang berlangsung lancar, diselingi dengan canda tawa Viona yang menghidupkan suasana di antara mereka bertiga. Viona begitu antusias bercengkerama dengan Juna, dan tentu saja semua itu tidak luput dari pengamatan Bima.


Bima memperhatikan tatapan mata Juna yang tampak berbeda saat berbicara dengan Viona, sorot mata memuja yang sangat kentara, hanya saja yang ditatap tidak peka. Setelah diamati selama acara makan siang berlangsung, Bima dapat menyimpulkan bahwa Juna menaruh perhatian lebih pada istrinya.


Perhatian seorang pria dewasa kepada wanita. Perhatian yang didasari suatu rasa yang bergejolak di dalam dada, hanya saja Juna menyamarkan rasa yang dimilikinya dengan membalutnya atas nama persahabatan. Bima memaksa memukul mundur rasa cemburunya yang kian menebal, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang terkendali.


Ponsel Juna berbunyi menginterupsi mereka bertiga. Ia meminta izin untuk menerima telepon sebentar saja dan bangkit dari duduknya kemudian berjalan agak menjauh dari meja tempat mereka makan, lalu setelah beberapa saat Juna kembali duduk.


"Pak Bima, maaf sekali. Sepertinya saya harus pergi karena ada hal mendesak yang tak bisa ditunda," ucap Juna sungkan.


"Ada apa Jun? Apakah sangat darurat? Setidaknya habiskan dulu makananmu," seloroh Viona sambil menatapnya penuh tanya.


"Hanya urusan pekerjaan, Vi. Lagian aku udah kenyang," sahut Juna sambil tersenyum hangat pada Viona sebelum kemudian kembali menyambung kalimatnya.


"Pak Bima, terima kasih atas jamuannya. Senang sekali bisa mengenal Anda, silahkan dilanjutkan makan siangnya." Juna berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.


"Tidak usah sungkan, justru saya yang berterima kasih. Pak Juna telah bersedia untuk memenuhi undangan saya sebagai permohonan maaf karena telah menyebabkan kerusakan pada mobil mewah Anda. Jadi, apakah sekarang kita impas?" Bima ikut berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Tentu saja." Juna menyambut uluran tangan Bima dengan sopan dan menjabatnya.


"Hati-hati di jalan, Jun. Jangan menyetir dengan mata terpejam." Viona berkelakar dan hal itu sukses membuat Juna terkekeh.


Bima mendengus kesal menyaksikan istrinya bercanda tawa dengan pria lain, tetapi Viona tidak menyadari kecemburuan Bima karena asyik menikmati makanan yang tersaji di hadapannya.


Bima kembali mengambil garpu dan pisau yang tadi diletakkannya kemudian memotong steak yang dipesannya Sejak tadi ia belum makan dengan benar. Namun, dikarenakan api cemburu yang mendadak tersulut masih belum mereda membuatnya kehilangan fokus. Saat hendak mencelupkan potongan daging yang akan dimakannya, ia malah mencelupkannya ke dalam secangkir kopi yang dipesannya, bukan pada mangkuk kecil berisi saus barbeque yang tersaji bersebelahan dengan cangkir kopi tersebut.


Bima tidak menyadarinya, ia melahap steak yang salah celup itu dan mengunyahnya dengan geram seolah yang sedang dikunyahnya itu adalah Juna. Saat potongan ketiga yang kembali salah celup itu hendak dimakannya Viona menahan tangannya.


"Mas, kenapa nyelupin dagingnya ke dalam kopi, bukan ke mangkuk sausnya?" Viona menatap keheranan pada suaminya.


"Oh ya?" Tatapan mata Bima jatuh ke arah garpu yang dipegangnya, dan benar saja ia tengah menenggelamkan potongan daging steaknya ke dalam kopi esspresso favoritnya.


Bima salah tingkah. Dengan cepat menaruh garpunya dan meraih gelas berisi air putih di samping kirinya. Hanya saja ia lupa bahwa tadi memesan segelas air putih panas, sehingga saat ia menenggaknya dengan terburu-buru malah berakhir menyemburkan airnya karena suhu panas yang membuat lidahnya kaget.


Bima merasakan wajahnya memanas, ternyata efek dari rasa cemburu itu sungguh dahsyat, membuatnya mempermalukan dirinya sendiri tanpa sengaja, bahkan sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi daging yang dikunyahnya bercampur rasa kopi.


Viona tergelak kencang melihat Bima yang makan dengan gaya berantakan, tidak seperti seorang Bima yang biasanya selalu rapi dalam setiap kesempatan.


"Mas, minumnya pelan-pelan aja, jadi belepotan gini kan, kayak anak kecil!" ujarnya dengan tawa yang menguar di udara.


Viona mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia di atas meja. Lalu menyeka mulut Bima hingga dagu. "ulululu ... lucunya suamiku ini," goda Viona sambil mengerucutkan bibirnya gemas membuat wajah Bima makin merah padam diperlakukan layaknya bocah taman kanak-kanak.