
Kurang lebih satu jam lamanya, Bima dan mantan mertuanya berbicara bertiga. Di menit-menit pertama, Abdul masih melampiaskan kemarahan dan kekecewaanya kendati dengan suara rendah lantaran tak ingin Nara kembali histeris.
Rima menatap mantan menantunya dengan sorot mata sendu sambil mengulas senyum, berbeda dengan Abdul yang memasang ekspresi mengeras serta gersang.
Bima tak membantah apapun cercaan yang dilontarkan mantan mertuanya, semuanya diterima dengan ikhlas sembari tertunduk penuh penyesalan. Setelah Abdul mulai mereda barulah ia bersuara, mengungkapakan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan fatal yang pernah diperbuatnya hingga menghancurkan mahligai rumah tangganya dengan Viona.
Mereka juga membahas tentang keinginan Bima yang meminta diizinkan menemui Nara. Setelah Rima ikut membujuk dan memberi pengertian pada sang suami, akhirnya Abdul memperbolehkan Bima berkunjung seminggu sekali untuk menghabiskan waktu bersama Nara.
Bima luar biasa gembira, seminggu sekali pun tak mengapa asalkan tetap bisa bertemu dengan buah hatinya. Senyuman penuh syukur mengembang, tak hentinya Bima mengucapkan terima kasih karena Abdul masih mau bermurah hati pada manusia berdosa seperti dirinya.
“Sebelum pulang, bolehkah saya berpamitan dulu pada Nara?” pinta Bima harap-harap cemas pada kedua orang tua mantan istrinya.
Rima menyentuh lengan Abdul memberi isyarat agar mengizinkan Bima menemui Nara untuk berpamitan, setelah beberapa saat Abdul pun mengangguk pertanda mengiyakan.
“Langsung ke kamar Nara saja Bim,” ucap Rima yang kemudian mengajak Abdul untuk pergi ke area samping rumah.
Bima melangkah menuju kamar Nara, kemudian mengetuk pelan. Pintu terbuka dari dalam, Viona sedikit terkesiap karena mengira bukan Bima yang mengetuk.
“Sebelum pulang aku ingin berpamitan dulu pada Nara. Tadi Ib- eh Ta-Tante Rima menyuruhku langsung ke kamar Nara saja,” ucapnya canggung di ambang pintu.
“Masuklah.” Viona membuka pintu lebar-lebar.
Bima duduk di tepian tempat tidur di mana anaknya tengah bermain boneka dengan posisi memunggunginya. “Nara,” panggilnya.
Bocah kecil itu menoleh, tersenyum senang dan langsung meloncat ke pangkuan Bima seperti terhadap orang yang sudah sering bertemu, padahal mereka baru saja berjumpa kemarin. Nara tiba-tiba mengusap penuh sayang pipi Bima yang tadi ditampar kakeknya. Lalu mengambil boneka beruang lamanya yang berwarna fushia, menepuk-nepukkannya lembut ke pipi Bima.
“Dia ini beruang dokter. Kalau Nara kejedot suka diusap-usap sama boneka ini, pasti sakitnya langsung hilang,” celotehnya.
“Oh ya? Terimakasih beruang dokter,” jawab Bima dengan senyuman yang tak surut menghiasi, sedangkan Viona duduk di kursi belajar Nara sambil memperhatikan sang anak dengan sang mantan suami.
“Nara, Om mau pulang dulu ya.”
“Kenapa pulang? Kapan ke sini lagi?” bocah kecil itu merajuk, turun dari pangkuan Bima sambil memeluk bonekanya.
“Om harus bekerja. Gini deh, nanti minggu depan Om datang lagi. Jangan cemberut dong, nanti Nara mau main apa di temenin deh.”
“Janji ya,” cicit Nara riang.
Bima mengangguk sambil mengusap kepala sang anak, kemudian bangkit dari duduknya.
"Vi, aku pamit pulang,” ucap Bima dan Viona hanya mengangguk masih dengan raut wajah ketus.
Bima beranjak hendak keluar pintu, kemudian Nara tergesa turun dari tempat tidur dan memanggil. “Tunggu Om.”
“Ada apa?”
Nara tiba-tiba mengecup pipi Bima dan tersenyum lebar. “Nara pengen sun Om Beruang dulu. Dadah… sampai jumpa lagi,” cicitnya menggemaskan.
*****
“Bagaimana hasilnya?”
“Ini hasil dari pencarian informasi tiga hari terakhir." Pandu menaruh sebuah map ke atas meja Juna.
"Sinar Abadi Grup bersih dalam semua bidang, tak pernah tersangkut kasus apapun. Hanya kasus narkoba putranya saja yang masuk sebagai catatan buruk. Tapi, itu tak berpengaruh banyak pada perusahaan karena kasus tersebut dianggap sebagai masalah pribadi di luar masalah perusahaan,” jelas Pandu yang berdiri diseberang meja atasannya.
“Tentang pajaknya?” tanya Juna lagi sambil menopangkan dagu di kedua tangannya yang terjalin dengan siku bertumpu di meja.
“Mereka sangat taat pajak, tak pernah mangkir, semuanya bersih,” sahut si sekertaris yang hari ini mengenakan kemeja warna biru.
Lelaki tampan berambut lurus itu mengusap wajahnya resah. “Lalu, para pesaingnya?”
“Hanya ada beberapa dan itu bukan dari perusahaan sebanding. Sinar Abadi Grup salah satu perusahaan besar yang cukup di segani.”
“Arghh… sial!” juna melempar punggungnya ke sandaran kursi seraya berdecak kesal.
Pandu mundur beberapa langkah tak ingin menjadi sasaran uring-uringan atasannya, khawatir bos-nya itu kembali membanting barang pecah belah seperti beberapa hari yang lalu.
*****
Jangan lupa bayar parkir 😳😳, kalau tembus 200 like langsung kutambah update lagi hari ini deh 😂😂.
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.
Regards
Senjahari_ID24