
Di akhir pekan ini langit menebarkan pesona biru cerahnya, tak mengintip malu ataupun tersipu, dengan gumpalan-gumpalan lembut awan putih membingkai angkasa, begitu indah sedap dipandang mata, seolah tersenyum menaungi insan dibawahnya, yang kini tengah bersenda gurau penuh canda tawa.
Ini adalah pertama kalinya Nara berkunjung ke kebun binatang. Ia berjingkrak senang, berjalan menyusuri kawasan diapit oleh ayah bundanya di sisi kiri dan kanannya. Viona dan Bima kompak mencurahkan waktu juga perhatian semaksimal mungkin agar si buah hati tak merasa kekurangan kasih sayang dari orang tuanya meski ikatan di antara keduanya telah koyak.
Berbagai macam Fauna ada di sana. Dipagari pepohonan rindang di seluruh sisi, menghantarkan hawa sejuk nyaman menyenangkan. Bima dan Viona menjelaskan satu-persatu semua spesies yang ada di sana, juga dengan sabar menjawab semua pertanyaan Nara yang antusias ingin tahu dengan hal-hal yang baru ditemuinya.
Raut wajah Viona hari ini begitu cerah, ditengah-tengah kegundahan hati yang membelitnya sejak semalam. Biarlah hari ini dia membebaskan diri dari bayang-bayang kebimbangan pertunangannya dan fokus menikmati waktu kebersamaannya dengan si buah hati juga… Bima.
Beberapa foto diambil sebagai kenang-kenangan, layaknya yang dilakukan keluarga utuh saat berjalan-jalan. Kebanyakan gambar Nara lah yang diambil, atau kadang hanya Viona dan Nara maupun sebaliknya. Tiba-tiba Nara cemberut dan melayangkan protes.
“Nara juga pengen difoto bertiga bareng Ayah sama Bunda. Terus difotonya pengen kayak yang itu.”
Tunjuknya pada keluarga kecil yang tengah berfoto dekat patung jerapah tak jauh dari sana. Dengan pose si anak naik ke pundak ayahnya dan sang ayah merangkul mesra istrinya.
Viona berdehem salah tingkah, menyelipkan untaian rambut yang tergerai ke belakang telinga, sedangkan Bima mengusap tengkuknya kikuk.
“Ayo dong Ayah, Bunda. Pengen difoto kayak gitu,” rengeknnya mulai rewel.
Bima melempar pandangan pada mantan istrinya, memberi isyarat melalui matanya seakan bertanya apa yang harus dilakukan.
“Ehm… begini sayang. Kita kan cuma datang bertiga ke sini, jadi kalau pengen di foto bareng, siapa yang akan mengambil gambar?” bujuknya lembut pada Nara yang cemberut.
Bocah lucu berambut sedikit bergelombang itu tampak berpikir, lalu menyapu tatapannya ke sekeliling menengok ke kanan dan ke kiri.
“Nah, itu ada bapak-bapak yang lagi nyapu, Bunda. Kita bisa minta tolong buat difotoin.” Nara berucap riang dan menatap orang tuanya penuh harap.
“Oke, Ayah yang akan minta tolong.” Tanpa persetujuan Viona, Bima segera menghampiri si penyapu dedaunan kering di bawah pohon beringin rindang, dan sebelum melangkah dia melempar senyum tipisnya sekilas membuat ibu dari anaknya itu menjadi gugup tak menentu.
Akhirnya permintaan Nara terkabul, mereka berfoto bertiga mengambil beberapa pose, si bapak yang mengambil foto begitu bersemangat, tak sungkan mengarahkan gaya agar pasangan itu tersenyum dan saling merangkul mesra.
“Senyumnya Nyonya, dan Tuan tolong rangkul lebih mesra lagi,” pintanya bersemangat, dia bertindak tak ubahnya photograper professional.
Dari semua foto yang diambil, tangan Bima selalu merangkul Viona sesuai permintaan Nara juga arahan dari si pengambil gambar. Dengan senang hati Bima melakukannya sembari mengulum senyum, mengabaikan Viona yang tampak gugup bahkan mungkin hampir meriang panas dingin. Meskipun jujur saja desiran tak biasa menelusup ke relung jiwanya, tak ingin semua rasa bahagia ini berakhir terlalu cepat saat waktunya berpisah sore nanti.
“Nara suka masakan jepang?” tanya Bima saat mobil melaju keluar meninggalkan pelataran parkir. Nara duduk di kursi depan sedangkan Viona di kursi penumpang.
“Sukaaa… Nara suka makan udon sama sushi.” Bocah itu senang dan mengayun-ayunkan kakinya.
“Tos, kita sama.” Bima mengajak sang anak untuk melakukan hi-five dengannya yang disambut Nara penuh kegembiraan.
“Vi, kita makan di restoran jepang yang tak jauh dari sini gimana? Ini juga sudah hampir dzuhur. Selain makanannya enak, di sana juga musholanya luas dan bersih, jadi kita bisa sekalian shalat dulu sebelum makan,” usul Bima sambil tetap fokus mengemudi.
Viona tertegun sejenak, angannya mulai berandai-andai. Andai saja Bima yang dulu seperti yang sekarang, mungkin saja ikatan suci itu masih terengkuh dalam genggaman.
“Vi.” Bima kembali bersuara karena tak kunjung mendapat jawaban.
“I-iya Mas. Ayo, Kita makan di sana,” sahutnya sambil menatap sendu punggung sang mantan suami.
*****
Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya, thank you 💕.
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya, ingat gunakan bahasa yang baik dan santun 😘💕.
Regards
Senjahari_ID24