
Selesai dengan segala prosedur pemeriksaan, Bima membawa Viona kembali pulang ke rumah. Hari ini Bima memohon pada istri tercintanya untuk meliburkan diri, meski bantahan sempat meluncur dari mulut Viona, tetapi akhirnya istrinya itu mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah mereka berdiskusi ini dan itu. Karena kini Viona tengah hamil, Bima takkan membiarkannya terlalu menguras energi fisik serta otaknya. Meminta Viona untuk mengambil cuti dari aktivitasnya di butik.
Perdebatan tak terelakkan. Viona melayangkan protes karena Bima menjadi terlalu overprotective. Ia merajuk dan hampir menangis membuat Bima kelabakan.
"Ma-maaf, Sayang. Bukan begitu maksudku. Aku terlalu senang sekaligus khawatir. Jangan menangis hmm." Bima menangkup wajah cantik Viona yang cemberut dengan bola mata menggenang.
"Aku tak bisa cuti begitu saja. merancang busana seperti healing bagiku, bukan sekadar pekerjaan. Mas juga tahu itu kan?" jelasnya dengan suara serak menahan tangis.
Bima mengangguk-angguk, tangannya membelai rambut Viona penuh sayang. "Aku hampir lupa akan hal itu. Hanya saja selama kehamilan ini aku ingin kamu fokus pada kandunganmu. Seperti yang dikatakan dokter tadi, bahwa ibu hamil tidak boleh sampai stress juga terlalu lelah. Aku begini karena sangat menyayangi kalian, maaf."
Dengan nada lembut Bima menjelaskan. Ia hanya tak mau menjadi suami yang abai lagi ketika istrinya mengandung buah hatinya.
"Aku paham. Aku akan mengurangi aktivitas di butik juga merancang, tapi tidak cuti sepenuhnya. Kalau begitu masih boleh kan?"
"Hmm... boleh," sahut Bima yang kemudian mengecup mesra tangan Viona.
"Makasih, Mas. Makasih udah ngertiin aku. Aku sayang kamu." Viona yang duduk berdampingan dengan Bima di tepian ranjang langsung bergelung ke dada bidang sang suami dan memeluknya.
"Aku lebih sayang padamu." Bima balas memeluk dengan erat.
"Mas nggak ke kantor?" tanya Viona sambil memainkan kancing kemeja Bima.
"Sebentar lagi. Tadi sudah kuminta Adrian untuk menangani dulu urusan kantor sebelum aku datang. Kenapa?" Bima menunduk dan Viona menengadah.
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau bilang, kalau sekarang Mas makin ganteng deh," pujinya menggoda.
"Jadi sebelumnya aku jelek?" tanya Bima dengan mata memicing.
"Nggak juga. Tapi sekarang jadi lebih ganteng dan seksi," bisik Viona sensual sambil membelai rahang Bima dan menatap dengan sorot mata mengundang penuh minat. Ya, mungkin karena efek hormon kehamilan membuat Viona kerap kali mudah bergairah jika berdekatan dengan Bima.
Disuguhi pemandangan dan rayuan dari wanita tercintanya Bima takkan mampu bertahan. Ia semakin menunduk dan menyelipkan bibirnya di kemanisan bibir Viona, memagutnya yang dibalas Viona sama rakusnya.
Bima segera menghentikan kegiatannya begitu teringat akan pesan dokter, bahwa di trimester pertama ini mereka tidak boleh terlalu sering bercinta demi kedamaian janin yang baru bertumbuh di dalam sana. Jika terlalu sering diguncang khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sayang, ingat pesan dokter kan?" Bima berkata parau didera hasrat sambil mengatur napasnya yang berantakan.
"Aku ingat. Tapi aku mau kamu, Mas." Viona setengah merengek, libidonya mudah sekali terpancing, kehamilan keduanya kali ini begitu berbeda dengan yang pertama.
Tatapan Viona yang penuh harap membuat Bima tak tega, tetapi sebagai suami ia harus menjaga Viona dan bayinya semaksimal mungkin. Ibu jarinya menyapu bibir basah Viona, lalu mengecup keningnya mesra.
"Akan kuberi apapun yang kamu inginkan, Honey. Tapi untuk kali ini aku akan memberinya dengan cara lain, tanpa guncangan."
Bima menyeringai penuh arti dan di detik berikutnya ia memberi sepenuh hati tanpa berharap menerima, memberi madu cinta yang diinginkan Viona hingga terpuaskan sepenuhnya. Walaupun ia harus berakhir tersiksa karena sesuatu di dalam dirinya meminta dilemaskan.
*****
Berita kehamilan Viona langsung disampaikan pada kedua orang tua mereka. Bima sendiri yang mengabari, ia begitu bersemangat saat mengetahui akan mempunyai momongan lagi.
Kali ini Bima tak mau kehilangan momen-momen ngidam istrinya seperti dulu. Bima sudah bertekad ingin memperbaiki semua sikap buruknya saat dulu Viona hamil anak pertama dan menggantinya dengan perhatian sepenuh jiwa. Ia takkan menyia-nyiakan lagi waktu-waktu berharga semacam ini. Viona kembali mengandung benihnya menciptakan untaian tasbih syukur tak henti di ruang kalbunya, memanjatkan terima kasih tak terhingga kepada Sang Pencipta karena masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki dan menebus segala kesalahannya.
Bima juga memberitahu semua pelayan di rumah tentang kehamilan Viona. Memerintahkan agar semuanya lebih memperhatikan dan melayani nyonya rumah sebaik-baiknya.
Si kecil Nara tak kalah gembira. Ia berjingkrak senang saat diberitahu akan mempunyai adik. Bocah lucu itu terus saja meminta ingin mengelus-elus perut bundanya setiap kali ada kesempatan, seperti sore ini.
Viona yang memakai baju bola warna biru sedang duduk berselonjor kaki di sofa ruang keluarga. Menonton tayangan ulang Liga Inggris dengan semangkuk stroberi di tangan. Tontonannya jadi berubah ke genre olahraga semenjak hamil. Nara ikut duduk di sana, mendekat dan mendaratkan telapak tangan mungilnya di perut sang bunda.
"Halo dede bayi," sapanya dengan suara lucunya.
"Halo juga Kakak cantik." Viona balas menyahuti menirukan suara anak kecil.
"Kapan dedenya keluar, Bunda? Nara udah gak sabar pengen ajakin main perosotan," ucapnya setengah merengek.
"Sabar ya, sekarang dedenya masih harus bobo dulu di dalem perut Bunda, belum boleh ketemu kita."
Sebuah kecupan di puncak kepalanya membuat Viona mendongak. Senyum cantiknya langsung terbit, ia menengadah dan kecupan lainnya mendarat di keningnya dari si penebar benih yang baru pulang bekerja.
Bima ikut bergabung duduk di sofa. Viona mencium punggung tangan Bima disusul Nara yang melakukan hal serupa. Ketiganya bercengkerama dengan bahasan tentang adik bayi yang tak ada habisnya.
*****
"Hey, baby. Adakah yang kamu inginkan? Katakanlah, Ayah pasti akan memenuhinya untukmu."
Bima berbaring dan meletakkan kepalanya di paha Viona, berbicara tepat di depan perut istrinya itu. Viona sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku-buku seputar kehamilan. Ia memang pernah hamil. Namun, karena sudah lama berlalu, ia harus mengingat kembali poin-poin penting seputar kehamilan.
"Apakah mungkin dia berbisik padamu tentang apa yang diinginkannya? Kamu ngidam apa? Ayo katakan padaku?" pinta Bima setengah memaksa.
Viona terkikik geli. Menaruh buku yang dibacanya dan beralih menatap suaminya.
"Ya ampun, Mas. Ada-ada aja deh. Sejak kapan ada janin yang berbisik pada ibunya." Viona tertawa renyah, merasa lucu akan kelakuan Bima.
"Ayolah, Sayang. Kamu ngidam apa? Aku tak sabar ingin membelikan apapun yang ingin kamu makan. Setiap kali aku mengingat kejadian dulu saat kamu meminta dibelikan Buah Duku, aku selalu menyesalinya karena tak memenuhinya. Bersikap abai tanpa perasaan, yang ada di otakku kala itu hanya si barang menyesatkan," ucap Bima penuh sesal. Ia menunduk, wajahnya berubah muram.
"Hei... sudah, jangan diingat-ingat lagi." Viona mengangsurkan punggung tangannya di sisi wajah Bima. "Yang penting sekarang kita bahagia. Aku janji akan meminta dibelikan banyak hal jika tiba-tiba menginginkannya. Tapi untuk sekarang, aku tak menginginkan apapun. Aku cuma pengen dipeluk," jawab Viona lembut.
Bima menegakkan tubuh, duduk di samping Viona dan merangkulnya. "Aku akan memelukmu, sebanyak yang kamu inginkan, sepanjang hidupku."