Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sakit Membawa Berkah



“Nggak… ini nggak boleh terjadi. Viona milikku, hanya milikku! racau Juna seperti orang gila.


Merogoh ponsel di saku celananya dengan tangan gemetar, Arjuna secepatnya menghubungi Abdul. Dia percaya ayahnya Viona itu pasti bisa memberinya solusi agar pertunangan tetap berlangsung, ia tidak tahu jika Abdul pun sudah mengetahui mengenai fakta yang sebenarnya.


Terhenyak dengan tatapan kosong, Juna merasa dirinya kaku dipaku ke Bumi. Setelah mendengar Abdul menjawab telepon darinya dengan kalimat singkat yang menyatakan pembatalan pertunangan dan diakhiri kata maaf.


Tubuh tegapnya limbung. Juna berpegangan pada sisi pagar sekeliling taman untuk menopang dirinya melangkah terseok menuju parkiran, otaknya seketika tumpul dan tubuhnya lemas. Kini sekutu yang dimilikinya pun sudah tak berpihak padanya. Terlalu tunduk pada obsesi hanya akan berakhir melukai diri sendiri.


*****


Sore harinya Malik dan Annisa juga ikut datang menjenguk setelah Bima mengabari. Mereka datang secepat mungkin ke rumah sakit demi melihat cucu tersayangnya.


“Sayangnya nenek kenapa?” seloroh Annisa yang langsung mengecupi Nara penuh kerinduan begitu pun dengan Malik.


“Sakit ini,” jawab Nara sambil menepuk perutnya yang mual. “Sama sakit ini,” tambahnya lagi sambil menyentuh kepalanya dengan tangan mungilnya yang lucu menggemaskan.


Rasa bahagia membuncah-buncah di dada Annisa, saat melihat Nara bergelung manja pada Bima. Dulu dia mangira, mungkin nanti cucunya akan takut pada sang ayah karena tak hadir mengiringi tumbuh kembangnya. Dugaannya ternyata salah, walaupun pertemuan mereka belumlah lama, Nara begitu lengket pada Bima tak mau lepas.


Ia juga memerhatikan bagaimana Viona berinteraksi dengan putranya, sungguh bahagia rasanya melihat Viona yang sepertinya sudah kembali menerima kehadiran Bima. sentuhan-sentuhan kecil keduanya pun tak lupat dari pandangannya meski terkesan mencuri-curi layaknya pasangan remaja yang diawasi orang tua. Harapan dan do’anya selama ini perlahan mulai terwujud.


Abdul dan Rima yang baru datang kemudian menyusul bergabung, mereka semua saling menyapa. Sudah lama sekali dua keluarga itu tidak berkumpul seperti ini, sakitnya Nara seperti membawa berkah, secara tidak langsung mampu menyambung kembali silaturahmi.


Annisa memeluk Viona, mengusap sayang kepalanya. “Gimana kabarmu, Vi? Mama perhatikan kamu kurusan, apa kamu juga sakit?” terdengar nada khawatir yang kental dari mulut Annisa.


"Mungkin karena terlalu banyak memendam rindu jadinya begitu, Bu Annisa” timpal Rima menggoda anaknya.


“Ibu!" protres Viona yang merengut malu. Bima yang sedang menngendong Nara dan mengobrol dengan Malik mengulum senyum saat samar-samar mendengar gurauan para wanita paruh baya yang menggoda Viona. Sedangkan Abdul izin keluar sebentar dengan alasan hendak menerima telepon, padahal sebenarnya dia masih merasa canggung berinteraksi dengan Bima juga anaknya setelah hampir saja menghancurkan rajutan cinta mereka berdua.


“Bima, Viona, kalian berdua pergilah makan dulu, Ibu lihat sejak tadi tak ada bekas makanan kalian. Biar Nara sama kami,” ucap Rima yang diiyakan juga oleh Annisa. Nara pun memperbolehkan ayahnya pergi karena kini perhatiannya teralihkan pada Annisa dan Malik.


*****


Mereka berdua duduk berhadapan terhalang meja di kedai bubur ayam kampung khas Bandung yang letaknya berseberangan dengan rumah sakit, berkonsep lesehan agar acara menikmati makanan terasa lebih santai.


Dua mangkuk bubur ayam yang masih panas mengepul disajikan di hadapan mereka. Bubur beraroma menggoda selera dengan toping potongan ayam kampung, kacang kedelai renyah, ditaburi irisan seledri serta bawang goreng di atasnya. Di mangkuk-mangkuk yang yang lain tersaji kerupuk, emping, seporsi cakwe dan kroket, juga pepes ati ampela sebagi toping pelengkap.


“Jangan makan sambal dulu. Lambungmu pasti menjerit jika rasa pedas yang pertama kali mendarat setelah beberapa hari ini makanmu tak teratur.” Bima mejauhkan tempat sambal dari jangkauan Viona.


“Mas, tapi rasanya hambar kalau makan bubur nggak pakai sambal,” protes Viona sambil cemberut.


“Untuk sekarang nggak boleh dulu. Kecuali di porsi kedua nanti baru boleh. Ayo buka mulutmu, Aa….”


Bima menyendok bubur ayam dan menyodorkannya ke mulut Viona.


Bima menggoyangkan telunjuknya menolak permintaan Viona. “Nggak boleh honey, nanti kamu sakit," ujarnya mesra merayu.


“Mas! malu tahu kalau kedengeran orang.” Viona celingukan melihat sekitar. Wajahnya mulai terasa panas, digombali di tempat umum yang sedang ramai pengunjung membuat rona merah di wajahnya tak terelakkan.


“Ayo buka mulutmu. Atau mau kucium dulu supaya terbuka," godanya.


“Ish… Mas!" Viona melotot dan mencubit lengan Bima sekencang-kencangnya.


Dicubit sekuat tenaga, Bima malah tertawa kecil hingga matanya menyipit, dia suka sekali menggoda Viona yang belingsatan seperti ini.


“Pilih mana, mau di cium dulu atau buka mulutmu sekarang?” godanya lagi sambil memajukan wajahnya semakin dekat.


“Iya deh iya. Mas mundur dong.” Viona sedikit mendorong dada bidang itu agar menjauh darinya, menyerah membuka mulut dan menerima suapan dari Bima.


Sepasang mata sejak tadi mengawasi dari kejuahan. Ya, Abdul yang memerhatikan, ia sejak tadi berada di kedai itu untuk menghindari perkumpulan di kamar Nara. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke atas, melihat putri tersayangnya tersenyum lebar bersama Bima di sana.


Ia menunggu hingga keduanya selesai makan. Beranjak dari duduknya lalu mendekati mereka.


Viona sedikit terlonjak kaget saat mendapati Abdul menghampiri, khawatir ayahnya kembali meledakkan emosinya pada Bima di tempat umum meski sejak semalam Abdul tak menyemburkan amarah membabi buta lagi pada Bima.


“A-ayah.” Viona memilin ujung bajunya gusar.


“Apa Om mau makan bubur juga? Biar saya pesankan,” tawar Bima sopan.


“Kapan, rencana kalian untuk rujuk kembali?” tanyanya tiba-tiba.


Viona dan Bima sama-sama membeku, lalu saling bertukar pandang.


“Mak-masdud Ayah?” Viona menatap Abdul tak mengerti.


“Kalau sudah menentukan waktunya, segera beritahu Ayah. Sebaiknya jangan ditunda terlalu lama. Nara pasti butuh kalian berdua secara utuh."


Setelah mengucapkan kalimatnya Abdul tak berlama-lama di sana, meninggalkan mereka berdua yang baru saja terkena serangan kaget dadakan.


Viona kembali saling bertukar pandang, bahkan Viona juga Bima saling mencubit lengan masing-masing memastikan yang barusan didengarnya bukanlah ilusi semata.


“Apa barusan itu benar-benar Ayah. Mas juga mendengar hal yang sama bukan?” Viona masih dilingkupi rasa tak percaya.


“Aku pun mendengarnya. Ini benar-benar nyata kan? Apakah ini artinya ayahmu sudah memberi kita restu?”


Keduanya sama-sama masih dilingkupi kebingungan, dan didetik kemudian rasa lega membanjiri. Pada akhirnya Abdul memutuskan menerima ikatan cinta keduanya yang sempat putus untuk disambungkan kembali.