Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Bersembunyi Lagi



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Sepanjang perjalanan menuju puncak, Viona menggigiti jarinya sendiri dengan gusar, inginnya langsung bertanya kepada Bima untuk memastikan tentang keterangan yang didapatnya dari polisi tadi. Akan tetapi dia mengurungkannya dan menunda lantaran tak ingin si sopir mengetahui kebenarannya akan aib yang menimpa keluarga kecilnya.


Viona memutuskan untuk pergi ke villa yang pernah disewa Bima sewaktu mereka berlibur sebelum kelahiran Nara, letaknya lumayan jauh dari jalan utama puncak dan hanya tempat itulah yang saat ini terlintas di benaknya.


Di tengah-tengah perjalanan Viona mampir sebentar ke sebuah minimarket, memakai hodie longgar dan menutupkan topi hoodie itu untuk menyembunyikan wajahnya sementara Nara yang tertidur ditinggalkan di kursi bayi yang terdapat di dalam mobil. Dia turun dan celingak celinguk seperti maling, melihat ke kanan dan ke kiri dengan dada bergemuruh, memastikan tak ada polisi yang berkeliaran di sekitar.


Dia melangkah masuk dengan tergesa, mengambil bahan makanan kalengan serta makanan instant lainnya serampangan seperti orang yang dikejar setan hingga keranjangnya terisi penuh, juga membeli bermacam-macam obat anti nyeri yang dijual di sana, berharap bisa membantu meringankan reaksi tubuh suaminya meskipun pada kenyataannya semua itu takkan berguna. Obat pereda nyeri yang dijual bebas takkan mampu menggeser peranan barang laknat yang sudah mencemari dan menguasai tubuh serta pikiran Bima.


Sesampainya di tujuan, Viona menyerahkan sejumlah uang kepada si pemuda yang disewa menjadi sopirnya dan menyuruhnya untuk segera pulang, mengusirnya secara halus tak peduli jika si pemuda itu mungkin kelelahan setelah menyetir menempuh jarak yang cukup jauh.


“Sebaiknya kamu segera pulang saja, takut kemalaman. Nanti orang tuamu mengkhawatirkanmu, sampaikan terima kasihku untuk mereka.” ucap Viona kikuk.


Tak berlama-lama laki-laki muda itu undur diri dengan sejuta tanya yang menggelayut di benaknya, bukankah tadi pagi Viona ingin segera membawa Bima ke rumah sakit? Tetapi kenapa jadi ke puncak? Pikirnya sambil berlalu pergi.


*****


Siang sudah berganti malam, Viona menghabiskan sepotong roti isi stroberi untuk memulihkan tenaganya meskipun nafsu makannya sudah buyar entah kemana semenjak pertemuannya dengan polisi tadi. Bima yang duduk bersandar di sofa terlihat lebih tenang meskipun tak sepenuhnya setelah tertidur beberapa saat yang lalu. Viona mengambil sebungkus roti isi juga sebotol air mineral dan meletakannya di meja di hadapan Bima.


“Makanlah. Setelah itu kita perlu bicara,” ucap Viona datar.


“Aku nggak lapar,” sahut Bima pelan.


Viona yang asalnya hendak berbalik kembali ke kamar menghentikan pergerakannya dan matanya kembali tertuju pada Bima. “Kalau begitu aku ingin berbicara serius sekarang juga!” Viona menekankan setiap kata-katanya meskipun dengan nada rendah.


“Kita bicara nanti saja, kepalaku masih terasa berat.” Bima menolak dan memejamkan matanya kembali sembari memijat pelipisnya dengan tubuh yang sesekali masih mengigil. Biasanya Viona akan patuh jika Bima menyerukan penolakan seperti ini. Namun, kali ini wanita bertubuh mungil itu masih tetap berdiri disana dan tak mengindahkan kata-kata Bima.


“Tak ada nanti. Kita harus bicara sekarang juga!” jawabnya bersikukuh.


Bima menghela napasnya jengkel dan menatap tajam pada Viona. “Memangnya ada apa sih, Vi? suami lagi kesakitan kamu malah keras kepala! Dan juga kenapa kamu memutuskan sendiri untuk menyudahi liburan kita? padahal aku masih betah di sana!" decaknya kesal. Mungkin jika Bima sedang tidak dalam kondisi lemah seperti sekarang ini, sudah pasti bukan hanya decakan tetapi bentakkanlah yang akan meluncur dengan lugas dari mulutnya.