Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Aku Membencimu!



Flashback on


Bima mendapat undangan pesta pembukaan perusahaan dari rekan bisnisnya dulu. Setelah memutuskan untuk kembali membuka diri, ia mulai menjalin komunikasi dengan rekan-rekannya.


Responya beragam, ada yang menyemangati dan ada juga yang mencaci. Semua itu adalah risiko akibat perbuatannya dulu, Bima yang sekarang mejadi manusia yang lebih bijak dan hanya menanggapi cibiran miring orang-orang dengan senyuman.


Ia tiba di tempat pesta sedikit terlambat imbas dari kemacetan yang memadati jalanan. Bima memarkirkan mobilnya dengan cepat dan menggunakan pintu samping yang tersambung dari area parkir untuk masuk ke restoran supaya lebih cepat sampai.


Langkahnya terhenti, tepat ketika ia memijakkan kaki ke dalam tempat pesta seiring pandangannya memaku ke arah wanita cantik bertubuh mungil yang memakai gaun biru dongker, duduk sendirian di meja yang tak teekspos seperti sedang menghindari perhatian di keramaian pesta.


“Viona?” gumamnya.


Ia berjalan lambat, lalu dilihatnya seorang wanita bergaun silver duduk di hadapan Viona. Bima mengernyitkan kening, setahunya wanita itu adalah seorang model yang cukup terkenal juga seorang wanita panggilan para eksekutif hidung belang. Hanya segelintir orang kalangan atas saja yang tahu, karena si model bobrok tersebut sangat lihai dalam memanipulasi imagenya di luaran.


Mau apa dia berbincang dengan Viona? batin Bima.


Langkahnya semakin mendekat hinga akhirnya pembicaraan mereka terdengar jelas. Tangannya mengepal menahan emosi kala wanita berbaju ketat itu menghina Viona.


Jika dirinya yang dihujat itu tak apa, tapi saat mendengar seseorang mengatai Viona tak ubahnya j*lang otaknya langsung mendidih bertepatan dengan pelayan yang membawa segelas jus jeruk pesanan Viona. Tanpa basa basi, Bima meraih gelas tersebut dan menyiramkannya dengan kencang ke wajah wanita bergaun silver itu.


Flashback off


Viona meronta tiada henti, mencoba lepas dari tubuh tinggi tegap yang mendekapnya erat. Viona yang menggunakan high heels akhirnya menghentak kakinya kuat-kuat menginjak kaki Bima dan itu berhasil. Bima sedikit melonggarkan pelukannya dan Viona segera mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.


Telapak tangan halusnya menampar Bima sekuat tenaga hingga wajah tampan mantan suaminya itu menyamping. “Jangan sembarangan menyentuhku! Aku bukan istrimu lagi." Viona berteriak dengan dada tersengal disertai air mata yang berderai.


“Aku membencimu hingga ke dasar hatiku yang paling dalam. Teganya Mas membuangku dan juga Nara tanpa belas kasihan, kamu manusia jahat, Mas!” Viona memukuli dada Bima membabi buta, Bima membiarkan mantan istrinya meluapkan segala kemarahan padanya.


Setelah beberapa saat ia kemudian meraih tangan Viona yang tengah memukulinya. Viona tetap meronta dengan deru napas tak beraturan juga wajahnya yang basah karena air mata.


“Aku telah khilaf, kesalahanku teramat fatal. Melepasmu adalah hal yang paling kusesalkan, aku memohon maaf dari dasar kalbuku atas segala luka yang telah kutorehkan di hatimu, Viona,” lirih Bima pilu dengan tatapan sendu.


Bima merasa hatinya teriris perih, sebelah tangannya terulur hendak menghapus buliran air yang terus terjatuh dari bola mata indah Viona. Namun, dari arah belakang sebuah tinju melayang ke arahnya hingga membuatnya terhuyung kendati tak sampai ambruk.


“Lepaskan brengsek!”


Rupanya Juna yang yang memukulnya, Dari kejauhan Juna yang sedang mencari-cari Viona melihat wanita pujaanya seperti tengah diganggu lelaki tak dikenal di tempat parkir. Keadaan pencahayaan tempat parkir yang remang-remang di malam hari membuat Juna tak mampu melihat dengan jelas sosok lelaki yang tengah berdiri berhadapan dengan VIona. Terlebih lagi melihat Viona yang seperti meronta juga terdengar pekikan membuatnya tak berpikir panjang dan langsung menghajar lelaki tersebut.


Juna terus melayangkan pukulan demi pukulan tanpa ampun, Bima tak membalas dan hanya mencoba menghindar melindungi kepalanya menggunakan kedua lengannya. Bukannya Bima tak mampu balas memukul, tetapi statusnya yang baru saja bebas dari penjara sangat rentan dengan catatan buruk, sudah pasti kasus sebelumnya akan ikut dikaitkan jika dia kedapatan membuat keributan.


Bima yang sudah terhuyung-huyung mencoba terus menghindar, lalu satu pukulan kencang membuatnya langsung jatuh tersungkur ke lantai. Juna bukannya berhenti dan malah semakin kalap, saat hendak kembali melayangkan tinjunya, secepat kilat Viona menghalangi dan melindungi lelaki yang terkapar itu dengan tubuh mungilnya.


“Arjuna hentikan! Kamu bisa membunuhnya,” jerit Viona.