
Viona bergegas kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah shalat, dia membongkar lemari besarnya dan mengambil kotak besar warna hijau yang tersimpan di dasar lemari. Viona duduk di lantai kemudian membukanya.
Rupanya isinya adalah beberapa stel pakaian kerja laki-laki. Pakaian hasil desainnya sendiri yang dirancang untuk Bima. Kala rasa rindu menyerbu, ia menumpahkannya dalam goresan sketsa, rindu berbalur perih yang kerap kali menghantamnya selama ini.
Mungkin memang benar Viona wanita bodoh, dalam hatinya masih saja mengenang lelaki yang pernah menyakitinya. Namun, sifat Bima dulu begitu buruk bukanlah tanpa alasan, semua itu adalah akibat pengaruh barang haram yang menjeratnya, sehingga warna aslinya diburamkan oleh si laknat menyesatkan.
“Viona mengambil celana juga kemeja dari dalam kotak tersebut lengkap dengan dasinya. Ia keluar dari kamar berbarengan dengan Bima yang juga keluar dari pintu kamar tamu.
“Mas, ini pakaian ganti, mungkin bisa dipakai sementara sebelum Adrian datang nanti, daripada berangkat ke kantor memakai celana jogger juga kaus tangan panjang itu.” Viona menyodorkan pakaian ke tangan Bima.
“Baju siapa ini Vi?” tanya Bima penuh selidik.
Hatinya sedikit mencelos, apakah ini bajunya Juna? Mungkinkah Juna dan Viona sudah berada di tahap saling menyimpan pakaian di tempat tinggal masing-masing? Akan tetapi rasanya tidak mungkin, setahunya Viona bukanlah wanita yang bergaul bebas tanpa batas.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak Bima, dia menanti dengan harap-harap cemas jawaban yang akan keluar dari bibir ranum mantan istrinya itu.
“Ehm… itu… itu sebenarnya baju hasil desainku sendiri, aku membuatnya sesuai ukuran Mas.” Viona menggigit bibir dan meremas kedua tangannya yang terjalin karena gugup.
Bima yang asalnya berekspresi tegang melemaskan bahu dan bernapas lega. “Jadi berarti ini bisa dibilang milikku?” senyum Bima merekah tak tertahankan lagi.
“Ya… mungkin saja, eh tapi tunggu. Itu hanya kupinjamkan, kalau mau mengklaim sebagai hak milik, Anda harus membayar dulu Pak Bima,” ujar Viona sembari memicingkan mata.
“Benar-benar pebisnis sejati. Akan saya kirimkan pembayarannya ke rekening Anda Nyonya perancang.”
Ia juga tahu, Juna memanglah sangat baik, tetapi cinta tak bisa dipaksakan bukan? Cinta bukanlah alat sebagai ajang balas budi.
Bik Yati yang sudah banyak makan asam garam kehidupan dapat melihat jika dua orang di ruang televisi itu masih saling mencintai. Lantas, jika pertunangan ini diteruskan, haruskah Viona menderita sekali lagi dengan permasalah lainnya di hari kemudian jika dipaksakan bersatu dengan Juna? Belum lagi mungkin Nara yang akan ikut terombang ambing dalam permasalahn orang tuanya.
Bik Yati menyayangi Viona sudah seperti anaknya sendiri, mengingat dia telah bekerja sedari muda dengan keluarga Abdul. Wanita paruh baya itu tampak berpikir, kemudian tercetus ide menemui Rima untuk menyampaikan masalah ini. Seorang ibu takkan mungkin membiarkan anaknya menderita lagi bukan? Dan ia yakin bahwa Rima pasti lebih tahu apa yang terbaik untuk Viona.
*****
Nara begitu senang, kala yang membangunkannya pagi ini adalah ayahnya, bocah itu langsung masuk ke dalam rangkulan Bima dan berjingkrak senang.
“Horeee… ada Ayah.”
“Tuan putri sekarang mandi dulu. Nanti kita sarapan bersama, terus nanti Ayah anter ke sekolah.” Bima membelai gemas rambut panjang Nara.
"Asyik, oke Ayah." Nara turun dari pangkuan Bima dan langsung berlari ke kamar mandi penuh semangat.
*****
Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers, biar author makin semangat 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya.
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan melalui kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.